MAKALAH SOSIAL POLITIK
“ DEMAM BERDARAH “
D
I
S
U
S
U
N
OLEH : Kelompok VI
1 Cesilia simarmata A. 10.006
2. Elsa Imelda A. 10.0
3. Gorlin Tamba A.
10.0
4. Iyus pita A. 10.039
5. Mei Pasaribu A.
10.051
6. Petrus Simanungkalit A. 10.0
7. Sriwahyuni A. 10.072
STIKES Santa Elisabeth MEDAN
Prodi
SI Keperawatan
Tahun
Ajaran 2010/2011
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kelompok ucapkan kepada Tuhan yang maha Esa atas berkat dan
rahmatnya sehingga kelompok masih dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah
tentang sosial politik.
Adapun tujuan dari
tersusunnya makalah ini merupakan sebuah bentuk penugasan yang wajib diberi
bagi mahasiswa/i STIKES yang deiberi
oleh dosen kami Fa. Fransiskus sebagai matakuliah yang bersangkutan, maka untuk
itu kelompok mengucapkan terima kasih kepada Fa. Fransiskus selaku dosen
pengajar mata kuliah ini yang telahbanyak memberikan bimbingan dan arahan
kepada kami dalam menyusun makalah ini dan kepada teman-teman yang juga turut
membantu kami baik dari segi waktu, tenaga dan ,materi.
“ Tak ada gading yang tak
retak “ demikian jugalah dengan makalah kami ini masih jauh dari kesempurnaan,
masih ada kekurangan baik dalam segi penulisan maupun penyususnan. Untuk itu
kelompok masih mengharapkan kritik dan saran dalam dalam memperbaikinya. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi yang menggunakannya nanti.
Medan, Agustus 2011
Penulis
Kelompok VI
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.............................................................................................. i
Daftar Isi....................................................................................................... ii
BAB I. Pendahuluan..................................................................................... 1
A.
Epidemiologi..................................................................................... 1
B.
Tujuan................................................................................................ 2
C.
Sasaran.............................................................................................. 2
D.
Metode Penelitian............................................................................. 2
E.
Metode penyajian.............................................................................. 2
BAB II Pendahuluan.................................................................................... 3
A.
Latar Belakang.................................................................................. 3
B.
Demografi dan Epidemiologi............................................................ 3
BAB III. Tinjauan Teoritis............................................................................ 5
A.
Pembahasan....................................................................................... 5
B.
Tanda dan gejala penyakit demam
berdarah dengue........................ 5
C.
Proses dan penularan......................................................................... 6
D.
Etiologi dan penularan...................................................................... 6
Daftar Pustaka.............................................................................................. 16
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Epidemiologi
Istilah
epidemiologi berasal dari perkataan yunani yang terdiri dari epi : atas, demos:
rakyat, logog : ilmu, maka epidemiologi sebenarnya berarti “Ilmu mengenai hal-hal yang terjadi pada rakyat”. Ruang
lingkup epidemiologi yang semula mempelajari penyakit menular lambat laun
diperluas, sehingga epidemiologi menjadi “ ilmu yang mempelajar factor-faktor
yang menentukan frekuensi dan distribusi
penyakit pada rakyat”.
Bila
ilmu kedokteran mempelajari penyakit pada individu, epidemiologi mempelajari
penyakit dan lain-lain keadaan yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat. Dibanyak
Negara tropis, virus dengue sangat
endemic. Di Asia penyakit ini sering menyerang di Cina Selatan, Pakistan,
India, dan semua Negara di Asia Tenggara.
Sejak tahun 1981, virus ini
ditemukan di Queensland, Australia, disepanjang pantai timur Afrika. Penyakit
ini juga ditemukan dalam berbagai serotype. Penyakit ini juga sering
menyebabkan KLB di Amerika Selatan, Amerika Tengah, bahkan sampai ke Ameriak
Serikat saipai tahun 1990-an. Epidemi dengue pertama kali di asia pada tahun
1779, di Eropa 1789, di A Selatan tahun 1835-an dan di Inggris 1922.
Di
Indonesia kasus DBD pertama kali terjadi di Surabaya pada tahun 1968, setelah
itu penyakit DBD ditemukan di 200 kota di 27 provinsi dan menjadi kejadian luar
biasa (KLB). Profil kesehatan provinsi Jawa Tengah tahun 1999 melaporkan
kelompok tertinggi sekitar 42% menyerang kelompok usia 5-14 tahun, sekitar 37%
menyerang usia 15-44 tahun. Data tersebut didapatkan dari data rawat inap rumah
sakit. Rata-rata insedensi penyakit DBD sebesar 6 – 27 per 100. 000 penduduk.
Data
di Depkes RI melaporkan bahwa pada tahun 2004 selama bulan januari dan februari
pada 25 provinsi tercatat 17. 707 orang terkena DBD dengan kematian 322
penderita. Darah yang paling diwasapadai adalah DKI Jakarta, Bali dan NTB
Ada
4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. serotipe DEN-3 merupakan jenis yang sering dihubungkan
dengan kasus-kasus parah. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan
kekebalan terhadap serotipe yang bersangkutan tetapi tidak untuk serotipe yang
lain. Keempat jenis virus tersebut
semuanya terdapat di Indonesia
B.
Tujuan
1.
Tujuan Umum
Setelah
persentasi dilakukan dari makalah yang berjudul “ Demam Berdarah”,
mahasiswa/i dapat mengerti mengenai
penyakit demam berdarah dan dapat mengatasinya.
2.
Tujuan Khusus
Mahasiswa/i diharapakan dapat mengerti :
1.
Pengertian
2.
Tujuan
C.
Sasaran
Mahasiswa/i S1- Keperawatan tingkat II STIKes Santa
Elisabeth Medan Tahun ajaran 2010 / 2011
D.
Metode Penulisan
·
Sumber pustaka
·
Media Elektronik (Internet)
E.
Metode penyajian
·
Ceramaah dan diskusi (persentasi)
BAB II
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) {bahasa medisnya disebut Dengue Hemorrhagic Fever
(DHF)} adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan
melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana
menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan
darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.
Penyakit ini banyak ditemukan didaerah tropis seperti Asia Tenggara, India, Brazil, Amerika termasuk di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti Bidan dan Pak Mantri seringkali salah dalam penegakkan diagnosa, karena kecenderungan gejala awal yang menyerupai penyakit lain seperti Flu dan Tipes (Typhoid).
Penyakit ini banyak ditemukan didaerah tropis seperti Asia Tenggara, India, Brazil, Amerika termasuk di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti Bidan dan Pak Mantri seringkali salah dalam penegakkan diagnosa, karena kecenderungan gejala awal yang menyerupai penyakit lain seperti Flu dan Tipes (Typhoid).
B.
Demografi dan Epidemiologi
Dibanyak
Negara tropis, virus dengue sangat
endemic. Di Asia penyakit ini sering menyerang di Cina Selatan, Pakistan,
India, dan semua Negara di Asia Tenggara. Sejak tahun 1981, virus ini ditemukan
di Queensland, Australia, disepanjang pantai timur Afrika. Penyakit ini juga
ditemukan dalam berbagai serotype. Penyakit ini juga sering menyebabkan KLB di
Amerika Selatan, Amerika Tengah, bahkan sampai ke Ameriak Serikat saipai tahun
1990-an. Epidemi dengue pertama kali di asia pada tahun 1779, di Eropa 1789, di
A Selatan tahun 1835-an dan di Inggris 1922.
Di
Indonesia kasus DBD pertama kali terjadi di Surabaya pada tahun 1968, setelah
itu penyakit DBD ditemukan di 200 kota di 27 provinsi dan menjadi kejadian luar
biasa (KLB). Profil kesehatan provinsi Jawa Tengah tahun 1999 melaporkan
kelompok tertinggi sekitar 42% menyerang kelompok usia 5-14 tahun, sekitar 37%
menyerang usia 15-44 tahun. Data tersebut didapatkan dari data rawat inap rumah
sakit. Rata-rata insedensi penyakit DBD sebesar 6 – 27 per 100. 000 penduduk.
CRF
penyakit DBD mengalami penurunan dari tahun ke tahun walaupun masih tetap
tinggi. CRF tahun 1968 sebesar 43 %, tahun 1971 sebesar 14 %, tahun 1980
sebesar 4, 8 % dan tahun 1999 masih diatas 2 %.
Data
dari Depkes RI melaporkan bahwa pada
tahun 2004 selama bulan januari dan februari pada 25 provinsi tercatat 17. 707
orang terkena DBD dengan kematian 322 penderita. Darah yang paling diwasapadai
adalah DKI Jakarta, Bali dan NTB
Ada
4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. serotipe DEN-3 merupakan jenis yang sering dihubungkan
dengan kasus-kasus parah. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan
kekebalan terhadap serotipe yang bersangkutan tetapi tidak untuk serotipe yang
lain. Keempat jenis virus tersebut
semuanya terdapat di Indonesia. Di daerah endemik DBD, seseorang dapat
terkena infeksi semua serotipe virus virus pada waktu yang bersamaan.
Untuk
pertama kalinya, pada bulan Maret 2002, Michael Rossman dan Richard Kuhn dari
Purdue University, Amerika Serikat melaporkan bahwa struktur virus dengue yang
berbeda dengan struktur virus lainnya telah ditemukan permukaan virus ini halus
dan selaputnya ditutupi oleh lapisan protein yang berwarna biru, hijau dan
kuning. Protein amplop tersebut dinamakan protein E yang berfungsi melindungi
bahan genetik di dalamnya.
BAB III
TINJAUAN TEORITIS
A.
Pembahasan
Penyakit Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus dengue
yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang
mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan
darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.
Penyakit demam berdarah (DBD)
merupakan masalah kesehatan karena masih
banyak dara yang endemik. Daerah endemik DBD pada umumnya merupakan
sumber penyebaran penyakit ke wilayah lain. Setiap Kejadian Luar Biasa (KLB)
DBD umumnya dimulai dengan peningkatan jumlah kasus di wilayah tersebut. Untuk
membatasi penyebaran penyakit DBD diperlukan pengasapan (fogging)
secara massal, abatisasi massal, serta penggerakan pemberantasan
sarang nyamuk (PSN) yang terus menerus.
Penyakit DBD mempunyai perjalanan yang
sangat cepat dan sering menjadi fatal karena banyak pasien yang meninggal
akibat penanganannnya yang terlambat. Demam berdarah dengue (DBD) disebut juga dengue
hemorrhagic fever (DHF), dengue fever (DF),
demam dengue (DD), dan dengue syok syndrome (DSS).
B.
Tanda dan Gejala
Penyakit Demam Berdarah Dengue
Masa tunas / inkubasi selama 3 – 15 hari sejak seseorang
terserang virus dengue, Selanjutnya penderita akan menampakkan berbagai tanda
dan gejala demam berdarah sebagai berikut :
1.
Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 – 40 derajat
Celsius).
2.
Pada pemeriksaan uji torniquet, tampak adanya jentik
(puspura) perdarahan.
3.
Adanya bentuk perdarahan dikelopak mata bagian dalam
(konjungtiva), Mimisan (Epitaksis), Buang air besar dengan kotoran (Peaces)
berupa lendir bercampur darah (Melena), dan lain-lainnya.
4.
Terjadi pembesaran hati (Hepatomegali).
5.
Tekanan darah menurun sehingga menyebabkan syok.
6.
Pada pemeriksaan laboratorium (darah) hari ke 3 – 7 terjadi
penurunan trombosit dibawah 100.000 /mm3 (Trombositopeni), terjadi peningkatan
nilai Hematokrit diatas 20% dari nilai normal (Hemokonsentrasi).
7.
Timbulnya beberapa gejala klinik yang menyertai seperti
mual, muntah, penurunan nafsu makan (anoreksia), sakit perut, diare, menggigil,
kejang dan sakit kepala.
8.
Mengalami perdarahan pada hidung (mimisan) dan gusi.
9.
Demam yang dirasakan penderita menyebabkan keluhan
pegal/sakit pada persendian.
10. Munculnya
bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.
C.
Proses Penularan
Penyakit Demam Berdarah Dengue
Penyebaran penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti dan Aedes albopictus, sehingga pada wilayah yang sudah diketahui
adanya serangan penyakit DBD akan mungkin ada penderita lainnya bahkan akan
dapat menyebabkan wabah yang luar biasa bagi penduduk disekitarnya.
D.
Etiologi dan
Penularan
Penyakit demam
berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue dari kelompok Arbovirus B,
yaitu arthropod-borne virus atau virus yang disebarkan oleh
artropoda (hewan berbuku-buku). Virus ini termasuk genus Flavivirus
dari family Flaviviridae. David Bylon (1779) melaporkan
bahwa epidemologi dengue di Batavia disebabkan oleh tiga faktor utama yaitu virus, manusia, dan nyamuk.
Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes
aegypti (di daerah perkotaan) dan Aedes albopictus (di daerah
pedesaan). Ciri-ciri dari nyamuk Aedes aegypti adalah : Sayap dan
badannya belang-belang atau bergaris-garis putih, berkembang biak di air jernih
yang tidak beralaskan tanah sperti bak mandi, WC, tempayan, drum, dan
barang-barang yang menampung air seperti kaleng, ban bekas, pot tanaman air,
tempat minum burung. Jarak terbang ± 100 meter , tahan dalam suhu panas dan
kelembaban tinggi
Nyamuk yang menjadi vektor penyakit DBD adalah
nyamuk yang menjadi terinfeksi saat menggigit manusia yang sedang sakit / terdapat
virus dalam darahnya. Menurut laporan terakhir, virus dapat pula ditularkan
secara dari nyamuk ke telur-telurnya.
Virus berkembang
dalam tubuh nyamuk selama 8 -10 hari
terutama dalam kelenjar air ludahnya, dan jika nyamuk ini menggigit
orang lain maka virus dengue akan
dipindahkan bersama air liurnya. Dalam tubuh manusia, virus ini akan berkembang
selama 4 – 6 hari dan orang tersebut akan mengalami sakit demam
berdarah dengue. Virus ini sangat memperbanyak dari dalam tubuh manusia
dan berada dalam darah selama satu minggu. Orang yang didalam tubuhnya terdapat virus dangue
tidak semuanya mengalami demam berdarah dengue karena adanya yang mengalami
demam ringan dan sembuh dengan sendirinya, atau sama sekali tampa adanya gejala
sakit. Tetapi semuanya itu merupakan cara pembawa virus dengue selama satu
minggu, sehingga dapat menularkan kepada
orang lain di berbagai wilayah yang ada nyamuk penularnya. Sekali terinfeksi,
nyamuk menjadi infektif seumur hidupnya.
v Penanganan Pemerintah
o Pengasapan secara
missal
o Penggerakan
pemberantasan sarang nyamuk / PSN
v Penanganan /
Pengobatan Penyakit Demam Berdarah Oleh Para Perawat
o Fokus pengobatan pada penderita penyakit DBD adalah mengatasi
perdarahan, mencegah atau mengatasi keadaan syok/presyok, yaitu dengan
mengusahakan agar penderita banyak minum sekitar 1,5 sampai 2 liter air dalam
24 jam (air teh dan gula sirup atau susu).
o Penambahan cairan tubuh melalui infus (intravena) mungkin diperlukan
untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan.
o Lalu pemberian obat-obatan terhadap keluhan yang timbul, misalnya : Paracetamol
membantu menurunkan demam, Garam elektrolit (oralit) jika disertai diare dan antibiotik
berguna untuk mencegah infeksi sekunder
o Melakukan kompress dingin, tidak perlu dengan es karena bisa
berdampak syok. Bahkan beberapa tim medis menyarankan kompres dapat dilakukan
dengan alkohol.
o Pengobatan alternatif yang umum dikenal adalah dengan meminum jus
jambu biji Bangkok.
v Pencegahan Lingkungan
o Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk diwaktu pagi
dan sore
o Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat,
modifikasi tempat.
o Pengasapan (dengan menggunakan malathion dan fenthion).
o Memberikan bubuk abate (pada tempat-tempat penampungan air seperti,
gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain).
Penyebaran
penyakit DBD di jawa biasanya terjadi mulai bulan Januari, sampai April dan
Mei. Faktor yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas penyakit DBD antara
lain:
1.
Imunitas pejamu
2.
Kepadatan populasi nyamuk
3.
Transmisi virus dengue
4.
Virulensi virus
5.
Keadaan geografis setempat
Faktor-faktor
penyebaran kasus DBD antara lain :
1.
Pertumbuhan penduduk
2.
Urbanisasi yang tidak terkontrol
3.
Transportasi
Hipotesis
Kasus
DBD terjadi karena infeksi kedua dari serotipe yang berbeda.
Patogenesi
Infeksi
virus terjadi melalui gigitan nyamuk, virus memasuki aliran darah manusia untuk
kemudian bereplikasi (memperbanyak diri). Sebagai perlawanan, tubuh akan
membentuk anti bodi, selanjutnya akan terbentuk kompleks virus-antibodi dengan virus yang berfungsi sebagai antigennya.
Kompleks antigen-antibodi tersebut akan
melepaskan zat-zat yang merusak sel-sel pembuluh darah, yang disebut dengan
proses autoinum. Proses tersebut menyebabkan permeabilits kapiler meningkat
yang salah satunya ditunjukkan dengan melebarnya pori-pori pembuluh darah
kapiler. Hal tersebut akan mengakibatkan bocornya sel-sel darah, antara lain
trombosit dan eritrosit. Akibatnya, tubuhnya mengalami pendarahan mulai dari
bercak sampai perdarahan hebat pada kulit, saluran pencernaan (muntah darah,
berak darah), saluran pernapasan (mimisan, batauk darah), dan organ vital
(jantung, hati, ginjal) yang sering mengakibatkan kematian.
v Gejala dan Tanda
Pasien
penyakit demam berdarah dengue pada umumnyadisertai dengan tanda-tanda berikut
:
1.
Demam selama 2-7 hari tanpa sebab yang jelas.
2.
Manifestasi pendarahan dengan tes rumple leede (+),
mulaidari petekie sampai pendarahan spontan seperti mimisan,muntah darah, atau
berak darah hitam.
3.
Hasil pemeriksaan trombosit menurun (normal:
150.000-300.000µL), hematokrit menigkat (normal: pria < 45, wanita
<40).
4.
Akral dingin, gelisa tidak sadar (DSS, dengue
shock symdrome).
Kriteria
diagnosis (WHO 1997)
a.
Kriteria klinis
1.
Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas danberlangsung
terus menerus selama 2-7 hari.
2.
Terdapat manifestasi pendarahan.
3.
Pembesaran hati.
4.
Syok.
b.
Kriteria labotarium
1.
Trombositopenia (<100.000/mm3).
2.
Hemokosentrasi (Ht meningkat >20%).
Seseorang penderita dinyatakan menderita demam berdarah dengue
bila terdapat gejala klinis yang positif dan 1 hasil labotarium yang positif.
Bila gejala dan tanda tersebut kurang dari ketentuan diatas maka pasien
dinyatakan menderita demam dengue.
Pengelolaan
![]() |
Gambar.
Skema Pengelolaan DBD
Program Pemberantasan
1.
Tujuan
a. Menurunkan morbiditas
dan mortalitas penyakit DBD
b. Mencegah dan
menanggulangi KLB
c. Meningkatkan peran
serta masyarakat (PSM) dalam
pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
2.
Sasaran
Sasaran nasional (2000):
a. Morbidits di
kecamatan endemik DBD < 2 per 10. 000 penduduk.
b. CRF < 2,5 %
3.
Strategi
a. Kewaspadaan dini
b. Penanggulangan KLB
c. Peningkatkan
keterampilan petugas
d. Penyuluhan
4.
Kegiatan
a. Pelacakan penderita
(penyelidikan epidemiologid, PE), yaitu kegiatan mendatangi rumah-rumah dari kasus yang dilaporkan (indeks kasus)
untuk mencari penderita lain dan memeriksa angka jentik dalam radius ± 100 m
dari rumah indeks
b. Penemuan dan
pertolongan penderita, yaitu kegiatan mencari penderita lain. Jika terdapat
tersangka kasus DBD maka harus segera dilakukan penanganan kasus termasuk
merujuk ke unit pelayanan kesehatan (UPK)
c. Abatisasi selektif
(AS) atau larvasidasi selektif, yaitu kegitan memberikan atau menaburkan larvasida kedalam penampungan
air yang positif terdapat jentik aedes
d. Fogging focus (FF),
yaitu kegiatan menyemprot dengan insektisida (malation, losban) untuk membunuh
nyamuk dewasa dalam radius 1 RW per 400 rumah per 1 dukuh
e. Pemeriksaan jentik
berkala (PJB), yaitu kegitan reguler
tiga bulan sekali, dengan cara mengambil sampel dapat dilakukan dengan
cara random tau metoda spiral (dengan
rumah yang ditengah sebagai pusatnya) atau metode zig-zag. Dengan kegitan ini
akann didapatkan angka kepadatan jentik atau HI (house Index)
f. Pembentukan kelompok
kerja (pokja) DBD di semua level Administrasi, nulai dari desa , kecamatan,
sampai tingkat pusat.
g. Penggerakan PSN
(Pemberantasan Sarang Nyamuk) dengan 3M
(menutup, dan menguras tempat pembungan air bersih, mengubur barang bekas, dan
membersikan tempat yang berpotensi bagi
perkembangbiakan nyamuk) di daerah endemik dan sporadic
h. Penyuluhan tentang
gejala awal penyakit, pencegahan, dan rujukan penderita.
5.
Pencegahan
Kegitan ini meliputi :
a. Pembersihan jentik
§ Program pemberantasan
sarang nyamuk (PSN)
§ Larvasidasi
§ Menggunakan ikan (
ikan kepala timah, cupang, sepat)
b. Pencegahan gigitan
nyamuk
§ Menggunakan kelambu
§ Memngunakan obat
nyamuk (bakar, oles)
§ Tidak melakukan
kebiasaan beresiko ( tidur siang, menggantungkan baju)
§ Penyemprotan
6.
Monitoring dan
Evaluasi
a.
Indikator pemerataan
1. Penyelidikan
Epidemiologis (PE) =
Jumlah penderita dengan PE
Jumlah
penderita yang dilaporkan
2. Fogging focus =
Jumlah
fogging
x
100%
Jumlah
Penderita
b.
Indikator efektifitas perlindungan=
Cakupan rumah dengan FF/AS/PSN
x 100%
Jumlah
semua rumah yang seharusnya tercakup dalam FF/AS/PSN
c.
Indikator efesiensi program
1. Angka Kepadatan
Jentik (HI) =
Jumlah
rumah positif terdapat jentik
________________________________ x 100%
Jumlah rumah yang diperiksa
2. Angka Kesakitan DBD =
Jumlah Kesakitan DBD
_______________________
x 100 %
Jumlah penduduk
3. Angka kematian DBD=
Angka kematian DBD
_______________________
x 100%
Jumlah penderita
Penanggulangan
KLB :
a.
Penemuan dan pertolongan penderita
b.
Penyuluhan
c.
PSN dengan gerakan 3M
d.
Fogging (pengasapan)
e.
Abatisasi atau larvasidasi

Gambar.
Penyemprotan (Fogging focus ) untuk menghentikan penularan dengan membunuh
nyamuk dewasa.

Gambar.
Pemeriksaan jentik nyamuk aedes, yang
dilanjutkan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sabagi metode pencegahan terbaik pemberantasan DBD
Daftar Pustaka
Widoyono,
MPH. Penyakit Teropis, EMS. (Erlangga Medical Series). Jakarta.2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar