Cursor

Jumat, 30 Oktober 2015

Makalah Sosial Politik Demam Berdarah

MAKALAH SOSIAL POLITIK
“ DEMAM BERDARAH “
D
I
S
U
S
U
N
OLEH : Kelompok VI
1 Cesilia simarmata                                      A. 10.006
2. Elsa Imelda                                              A. 10.0
3. Gorlin Tamba                                           A. 10.0
4. Iyus pita                                                    A. 10.039
5. Mei Pasaribu                                             A. 10.051
6. Petrus Simanungkalit                                A. 10.0
Logo Elisabeth7. Sriwahyuni                                                A. 10.072




STIKES  Santa Elisabeth MEDAN
Prodi SI Keperawatan
Tahun Ajaran 2010/2011

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur kelompok ucapkan kepada Tuhan yang maha Esa atas berkat dan rahmatnya sehingga kelompok masih dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah tentang sosial politik.
Adapun tujuan dari tersusunnya makalah ini merupakan sebuah bentuk penugasan yang wajib diberi bagi mahasiswa/i STIKES  yang deiberi oleh dosen kami Fa. Fransiskus sebagai matakuliah yang bersangkutan, maka untuk itu kelompok mengucapkan terima kasih kepada Fa. Fransiskus selaku dosen pengajar mata kuliah ini yang telahbanyak memberikan bimbingan dan arahan kepada kami dalam menyusun makalah ini dan kepada teman-teman yang juga turut membantu kami baik dari segi waktu, tenaga dan ,materi.
“ Tak ada gading yang tak retak “ demikian jugalah dengan makalah kami ini masih jauh dari kesempurnaan, masih ada kekurangan baik dalam segi penulisan maupun penyususnan. Untuk itu kelompok masih mengharapkan kritik dan saran dalam dalam memperbaikinya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang menggunakannya nanti.


                                                                                 Medan, Agustus 2011
                                                                                            Penulis

                                                                                       Kelompok VI




DAFTAR ISI

Kata Pengantar.............................................................................................. i
Daftar Isi....................................................................................................... ii
BAB I. Pendahuluan..................................................................................... 1
A.    Epidemiologi..................................................................................... 1
B.     Tujuan................................................................................................ 2
C.     Sasaran.............................................................................................. 2
D.    Metode Penelitian............................................................................. 2
E.     Metode penyajian.............................................................................. 2
BAB II Pendahuluan.................................................................................... 3
A.    Latar Belakang.................................................................................. 3
B.     Demografi dan Epidemiologi............................................................ 3
BAB III. Tinjauan Teoritis............................................................................ 5
A.    Pembahasan....................................................................................... 5
B.     Tanda dan gejala penyakit demam berdarah dengue........................ 5
C.     Proses dan penularan......................................................................... 6
D.    Etiologi dan penularan...................................................................... 6
Daftar Pustaka.............................................................................................. 16






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Epidemiologi
Istilah epidemiologi berasal dari perkataan yunani yang terdiri dari epi : atas, demos: rakyat, logog : ilmu, maka epidemiologi sebenarnya berarti “Ilmu mengenai  hal-hal yang terjadi pada rakyat”. Ruang lingkup epidemiologi yang semula mempelajari penyakit menular lambat laun diperluas, sehingga epidemiologi menjadi “ ilmu yang mempelajar factor-faktor yang menentukan frekuensi  dan distribusi penyakit pada rakyat”.
Bila ilmu kedokteran mempelajari penyakit pada individu, epidemiologi mempelajari penyakit dan lain-lain keadaan yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat. Dibanyak Negara tropis, virus dengue  sangat endemic. Di Asia penyakit ini sering menyerang di Cina Selatan, Pakistan, India, dan semua Negara di Asia Tenggara.
            Sejak tahun 1981, virus ini ditemukan di Queensland, Australia, disepanjang pantai timur Afrika. Penyakit ini juga ditemukan dalam berbagai serotype. Penyakit ini juga sering menyebabkan KLB di Amerika Selatan, Amerika Tengah, bahkan sampai ke Ameriak Serikat saipai tahun 1990-an. Epidemi dengue pertama kali di asia pada tahun 1779, di Eropa 1789, di A Selatan tahun 1835-an dan di Inggris 1922.
Di Indonesia kasus DBD pertama kali terjadi di Surabaya pada tahun 1968, setelah itu penyakit DBD ditemukan di 200 kota di 27 provinsi dan menjadi kejadian luar biasa (KLB). Profil kesehatan provinsi Jawa Tengah tahun 1999 melaporkan kelompok tertinggi sekitar 42% menyerang kelompok usia 5-14 tahun, sekitar 37% menyerang usia 15-44 tahun. Data tersebut didapatkan dari data rawat inap rumah sakit. Rata-rata insedensi penyakit DBD sebesar 6 – 27 per 100. 000 penduduk.
Data di Depkes RI melaporkan bahwa pada tahun 2004 selama bulan januari dan februari pada 25 provinsi tercatat 17. 707 orang terkena DBD dengan kematian 322 penderita. Darah yang paling diwasapadai adalah DKI Jakarta, Bali dan NTB
Ada 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. serotipe DEN-3  merupakan jenis yang sering dihubungkan dengan kasus-kasus parah. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang bersangkutan tetapi tidak untuk serotipe yang lain. Keempat jenis virus tersebut  semuanya terdapat di Indonesia
B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Setelah persentasi dilakukan dari makalah yang berjudul “ Demam Berdarah”, mahasiswa/i  dapat mengerti mengenai penyakit demam berdarah dan dapat mengatasinya.
2.      Tujuan Khusus
Mahasiswa/i  diharapakan dapat mengerti :
1.      Pengertian
2.      Tujuan

C.    Sasaran
Mahasiswa/i  S1- Keperawatan tingkat II STIKes Santa Elisabeth Medan Tahun ajaran 2010 / 2011

D.    Metode Penulisan
·         Sumber pustaka
·         Media Elektronik (Internet)

E.     Metode penyajian
·         Ceramaah dan diskusi (persentasi)


BAB II
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) {bahasa medisnya disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)} adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.
Penyakit ini banyak ditemukan didaerah tropis seperti Asia Tenggara, India, Brazil, Amerika termasuk di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti Bidan dan Pak Mantri seringkali salah dalam penegakkan diagnosa, karena kecenderungan gejala awal yang menyerupai penyakit lain seperti Flu dan Tipes (Typhoid).

B.     Demografi dan Epidemiologi
Dibanyak Negara tropis, virus dengue  sangat endemic. Di Asia penyakit ini sering menyerang di Cina Selatan, Pakistan, India, dan semua Negara di Asia Tenggara. Sejak tahun 1981, virus ini ditemukan di Queensland, Australia, disepanjang pantai timur Afrika. Penyakit ini juga ditemukan dalam berbagai serotype. Penyakit ini juga sering menyebabkan KLB di Amerika Selatan, Amerika Tengah, bahkan sampai ke Ameriak Serikat saipai tahun 1990-an. Epidemi dengue pertama kali di asia pada tahun 1779, di Eropa 1789, di A Selatan tahun 1835-an dan di Inggris 1922.
Di Indonesia kasus DBD pertama kali terjadi di Surabaya pada tahun 1968, setelah itu penyakit DBD ditemukan di 200 kota di 27 provinsi dan menjadi kejadian luar biasa (KLB). Profil kesehatan provinsi Jawa Tengah tahun 1999 melaporkan kelompok tertinggi sekitar 42% menyerang kelompok usia 5-14 tahun, sekitar 37% menyerang usia 15-44 tahun. Data tersebut didapatkan dari data rawat inap rumah sakit. Rata-rata insedensi penyakit DBD sebesar 6 – 27 per 100. 000 penduduk.
CRF penyakit DBD mengalami penurunan dari tahun ke tahun walaupun masih tetap tinggi. CRF tahun 1968 sebesar 43 %, tahun 1971 sebesar 14 %, tahun 1980 sebesar 4, 8 % dan tahun 1999 masih diatas 2 %.
Data dari  Depkes RI melaporkan bahwa pada tahun 2004 selama bulan januari dan februari pada 25 provinsi tercatat 17. 707 orang terkena DBD dengan kematian 322 penderita. Darah yang paling diwasapadai adalah DKI Jakarta, Bali dan NTB
Ada 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. serotipe DEN-3  merupakan jenis yang sering dihubungkan dengan kasus-kasus parah. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang bersangkutan tetapi tidak untuk serotipe yang lain. Keempat jenis virus tersebut  semuanya terdapat di Indonesia. Di daerah endemik DBD, seseorang dapat terkena infeksi semua serotipe virus virus pada waktu yang bersamaan.
Untuk pertama kalinya, pada bulan Maret 2002, Michael Rossman dan Richard Kuhn dari Purdue University, Amerika Serikat melaporkan bahwa struktur virus dengue yang berbeda dengan struktur virus lainnya telah ditemukan permukaan virus ini halus dan selaputnya ditutupi oleh lapisan protein yang berwarna biru, hijau dan kuning. Protein amplop tersebut dinamakan protein E yang berfungsi melindungi bahan genetik  di dalamnya.


BAB III
TINJAUAN TEORITIS
A.    Pembahasan
Penyakit Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.
            Penyakit demam berdarah (DBD) merupakan masalah kesehatan  karena masih banyak dara yang endemik. Daerah endemik DBD pada umumnya merupakan sumber penyebaran penyakit ke wilayah lain. Setiap Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD umumnya dimulai dengan peningkatan jumlah kasus di wilayah tersebut. Untuk membatasi penyebaran penyakit DBD diperlukan pengasapan (fogging) secara massal, abatisasi massal, serta penggerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang terus menerus.
Penyakit DBD mempunyai perjalanan yang sangat cepat dan sering menjadi fatal karena banyak pasien yang meninggal akibat penanganannnya yang terlambat. Demam berdarah dengue (DBD) disebut juga dengue hemorrhagic fever (DHF), dengue fever (DF), demam dengue (DD), dan dengue syok syndrome (DSS).
B.     Tanda dan Gejala Penyakit Demam Berdarah Dengue
Masa tunas / inkubasi selama 3 – 15 hari sejak seseorang terserang virus dengue, Selanjutnya penderita akan menampakkan berbagai tanda dan gejala demam berdarah sebagai berikut :
1.      Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 – 40 derajat Celsius).
2.      Pada pemeriksaan uji torniquet, tampak adanya jentik (puspura) perdarahan.
3.      Adanya bentuk perdarahan dikelopak mata bagian dalam (konjungtiva), Mimisan (Epitaksis), Buang air besar dengan kotoran (Peaces) berupa lendir bercampur darah (Melena), dan lain-lainnya.
4.      Terjadi pembesaran hati (Hepatomegali).
5.      Tekanan darah menurun sehingga menyebabkan syok.
6.      Pada pemeriksaan laboratorium (darah) hari ke 3 – 7 terjadi penurunan trombosit dibawah 100.000 /mm3 (Trombositopeni), terjadi peningkatan nilai Hematokrit diatas 20% dari nilai normal (Hemokonsentrasi).
7.      Timbulnya beberapa gejala klinik yang menyertai seperti mual, muntah, penurunan nafsu makan (anoreksia), sakit perut, diare, menggigil, kejang dan sakit kepala.
8.      Mengalami perdarahan pada hidung (mimisan) dan gusi.
9.      Demam yang dirasakan penderita menyebabkan keluhan pegal/sakit pada persendian.
10.  Munculnya bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.

C.    Proses Penularan Penyakit Demam Berdarah Dengue
Penyebaran penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, sehingga pada wilayah yang sudah diketahui adanya serangan penyakit DBD akan mungkin ada penderita lainnya bahkan akan dapat menyebabkan wabah yang luar biasa bagi penduduk disekitarnya.
D.    Etiologi dan Penularan
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue dari kelompok Arbovirus B, yaitu arthropod-borne virus atau virus yang disebarkan oleh artropoda (hewan berbuku-buku). Virus ini termasuk genus Flavivirus dari family Flaviviridae. David Bylon (1779) melaporkan bahwa epidemologi dengue di Batavia disebabkan oleh tiga faktor  utama yaitu virus, manusia, dan nyamuk.
Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegypti (di daerah perkotaan) dan Aedes albopictus (di daerah pedesaan). Ciri-ciri dari nyamuk Aedes aegypti adalah : Sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih, berkembang biak di air jernih yang tidak beralaskan tanah sperti bak mandi, WC, tempayan, drum, dan barang-barang yang menampung air seperti kaleng, ban bekas, pot tanaman air, tempat minum burung. Jarak terbang ± 100 meter , tahan dalam suhu panas dan kelembaban tinggi
Nyamuk yang menjadi vektor penyakit DBD adalah nyamuk yang menjadi terinfeksi saat menggigit manusia yang sedang sakit / terdapat virus dalam darahnya. Menurut laporan terakhir, virus dapat pula ditularkan secara dari nyamuk ke telur-telurnya.
Virus  berkembang dalam tubuh nyamuk selama 8 -10 hari  terutama dalam kelenjar air ludahnya, dan jika nyamuk ini menggigit orang lain maka virus dengue  akan dipindahkan bersama air liurnya. Dalam tubuh manusia, virus ini akan berkembang selama 4 – 6 hari dan orang tersebut akan mengalami  sakit demam  berdarah dengue. Virus ini sangat memperbanyak dari dalam tubuh manusia dan berada dalam darah selama satu minggu. Orang  yang didalam tubuhnya terdapat virus dangue tidak semuanya mengalami demam berdarah dengue karena adanya yang mengalami demam ringan dan sembuh dengan sendirinya, atau sama sekali tampa adanya gejala sakit. Tetapi semuanya itu merupakan cara pembawa virus dengue selama satu minggu, sehingga dapat menularkan  kepada orang lain di berbagai wilayah yang ada nyamuk penularnya. Sekali terinfeksi, nyamuk menjadi infektif seumur hidupnya.
v  Penanganan Pemerintah
o   Pengasapan secara missal
o   Penggerakan pemberantasan sarang nyamuk / PSN

v  Penanganan / Pengobatan Penyakit Demam Berdarah Oleh Para Perawat
o   Fokus pengobatan pada penderita penyakit DBD adalah mengatasi perdarahan, mencegah atau mengatasi keadaan syok/presyok, yaitu dengan mengusahakan agar penderita banyak minum sekitar 1,5 sampai 2 liter air dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu).
o   Penambahan cairan tubuh melalui infus (intravena) mungkin diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan.
o   Lalu pemberian obat-obatan terhadap keluhan yang timbul, misalnya : Paracetamol membantu menurunkan demam, Garam elektrolit (oralit) jika disertai diare dan antibiotik berguna untuk mencegah infeksi sekunder
o   Melakukan kompress dingin, tidak perlu dengan es karena bisa berdampak syok. Bahkan beberapa tim medis menyarankan kompres dapat dilakukan dengan alkohol.
o   Pengobatan alternatif yang umum dikenal adalah dengan meminum jus jambu biji Bangkok.

v  Pencegahan Lingkungan
o   Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk diwaktu pagi dan sore
o   Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat.
o   Pengasapan (dengan menggunakan malathion dan fenthion).
o   Memberikan bubuk abate (pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain).
Penyebaran penyakit DBD di jawa biasanya terjadi mulai bulan Januari, sampai April dan Mei. Faktor yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas penyakit DBD antara lain:
1.      Imunitas pejamu
2.      Kepadatan populasi nyamuk
3.      Transmisi virus dengue
4.      Virulensi virus
5.      Keadaan geografis setempat
Faktor-faktor penyebaran kasus DBD antara lain :
1.      Pertumbuhan penduduk
2.      Urbanisasi yang tidak terkontrol
3.      Transportasi
Hipotesis
Kasus DBD terjadi karena infeksi kedua dari serotipe yang berbeda.
Patogenesi
Infeksi virus terjadi melalui gigitan nyamuk, virus memasuki aliran darah manusia untuk kemudian bereplikasi (memperbanyak diri). Sebagai perlawanan, tubuh akan membentuk anti bodi, selanjutnya akan terbentuk kompleks  virus-antibodi dengan  virus yang berfungsi sebagai antigennya.
            Kompleks antigen-antibodi tersebut akan melepaskan zat-zat yang merusak sel-sel pembuluh darah, yang disebut dengan proses autoinum. Proses tersebut menyebabkan permeabilits kapiler meningkat yang salah satunya ditunjukkan dengan melebarnya pori-pori pembuluh darah kapiler. Hal tersebut akan mengakibatkan bocornya sel-sel darah, antara lain trombosit dan eritrosit. Akibatnya, tubuhnya mengalami pendarahan mulai dari bercak sampai perdarahan hebat pada kulit, saluran pencernaan (muntah darah, berak darah), saluran pernapasan (mimisan, batauk darah), dan organ vital (jantung, hati, ginjal) yang sering mengakibatkan kematian.
v  Gejala dan Tanda
Pasien penyakit demam berdarah dengue pada umumnyadisertai dengan tanda-tanda berikut :
1.      Demam selama 2-7 hari tanpa sebab yang jelas.
2.      Manifestasi pendarahan dengan tes rumple leede (+), mulaidari petekie sampai pendarahan spontan seperti mimisan,muntah darah, atau berak darah hitam.
3.      Hasil pemeriksaan trombosit  menurun (normal: 150.000-300.000µL), hematokrit menigkat (normal: pria < 45, wanita <40).
4.      Akral dingin, gelisa tidak sadar (DSS, dengue shock symdrome).

Kriteria diagnosis (WHO 1997)
a.       Kriteria klinis
1.      Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas danberlangsung terus menerus selama 2-7 hari.
2.      Terdapat manifestasi pendarahan.
3.      Pembesaran hati.
4.      Syok.
b.      Kriteria labotarium
1.      Trombositopenia (<100.000/mm3).
2.      Hemokosentrasi (Ht meningkat >20%).

Seseorang penderita dinyatakan menderita demam berdarah dengue bila terdapat gejala klinis yang positif dan 1 hasil labotarium yang positif. Bila gejala dan tanda tersebut kurang dari ketentuan diatas maka pasien dinyatakan menderita demam dengue.













Pengelolaan
 














Gambar. Skema Pengelolaan DBD




Program Pemberantasan
1.      Tujuan
a.       Menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit DBD
b.      Mencegah dan menanggulangi KLB
c.       Meningkatkan peran serta masyarakat (PSM)  dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
2.      Sasaran
Sasaran nasional (2000):
a.       Morbidits di kecamatan endemik DBD < 2 per 10. 000 penduduk.
b.      CRF < 2,5 %
3.      Strategi
a.       Kewaspadaan dini
b.      Penanggulangan KLB
c.       Peningkatkan keterampilan petugas
d.      Penyuluhan
4.      Kegiatan
a.       Pelacakan penderita (penyelidikan epidemiologid, PE), yaitu kegiatan mendatangi rumah-rumah  dari kasus yang dilaporkan (indeks kasus) untuk mencari penderita lain dan memeriksa angka jentik dalam radius ± 100 m dari rumah indeks
b.      Penemuan dan pertolongan penderita, yaitu kegiatan mencari penderita lain. Jika terdapat tersangka kasus DBD maka harus segera dilakukan penanganan kasus termasuk merujuk ke unit pelayanan kesehatan (UPK)
c.       Abatisasi selektif (AS) atau larvasidasi selektif, yaitu kegitan memberikan  atau menaburkan larvasida kedalam penampungan air yang positif terdapat  jentik aedes
d.      Fogging focus (FF), yaitu kegiatan menyemprot dengan insektisida (malation, losban) untuk membunuh nyamuk dewasa dalam radius 1 RW per 400 rumah per 1 dukuh
e.       Pemeriksaan jentik berkala (PJB), yaitu kegitan reguler  tiga bulan sekali, dengan cara mengambil sampel dapat dilakukan dengan cara random  tau metoda spiral (dengan rumah yang ditengah sebagai pusatnya) atau metode zig-zag. Dengan kegitan ini akann didapatkan angka kepadatan jentik atau HI (house Index)
f.       Pembentukan kelompok kerja (pokja) DBD di semua level Administrasi, nulai dari desa , kecamatan, sampai tingkat pusat.
g.      Penggerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk)  dengan 3M (menutup, dan menguras tempat pembungan air bersih, mengubur barang bekas, dan membersikan tempat yang berpotensi  bagi perkembangbiakan nyamuk) di daerah endemik dan sporadic
h.      Penyuluhan tentang gejala awal penyakit, pencegahan, dan rujukan penderita.
5.      Pencegahan
Kegitan ini meliputi :
a.       Pembersihan jentik
§  Program pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
§  Larvasidasi
§  Menggunakan ikan ( ikan kepala timah, cupang, sepat)
b.      Pencegahan gigitan nyamuk
§  Menggunakan kelambu
§  Memngunakan obat nyamuk (bakar, oles)
§  Tidak melakukan kebiasaan beresiko ( tidur siang, menggantungkan baju)
§  Penyemprotan

6.      Monitoring dan Evaluasi
a.       Indikator pemerataan
1.      Penyelidikan Epidemiologis (PE) =
   Jumlah penderita dengan PE­­­­­­­­­­­­­­    
Jumlah penderita yang dilaporkan

2.      Fogging focus =
Jumlah fogging
                               x 100%
Jumlah Penderita


b.      Indikator efektifitas perlindungan=
                 Cakupan rumah dengan FF/AS/PSN
                                                                                                   x  100%
Jumlah semua rumah yang seharusnya tercakup dalam FF/AS/PSN

c.       Indikator efesiensi program   
1.      Angka Kepadatan Jentik (HI) =
Jumlah rumah positif terdapat jentik
________________________________  x 100%
      Jumlah rumah yang diperiksa

2.      Angka Kesakitan DBD =
  Jumlah Kesakitan DBD
_______________________ x 100 %
        Jumlah penduduk

3.      Angka kematian DBD=
    Angka kematian DBD
_______________________ x 100%
       Jumlah penderita
Penanggulangan KLB :
a.       Penemuan dan pertolongan penderita
b.      Penyuluhan
c.       PSN dengan gerakan 3M
d.      Fogging (pengasapan)
e.       Abatisasi atau larvasidasi





fogging_fokus_sylvi.JPG
Gambar. Penyemprotan (Fogging focus ) untuk menghentikan penularan dengan membunuh nyamuk dewasa.
jkh.jpg
Gambar. Pemeriksaan jentik nyamuk aedes, yang  dilanjutkan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sabagi metode  pencegahan terbaik pemberantasan DBD



Daftar Pustaka

Widoyono, MPH. Penyakit Teropis, EMS. (Erlangga Medical Series). Jakarta.2008







Tidak ada komentar:

Posting Komentar