Cursor

Jumat, 30 Oktober 2015

Laporan Pendahuluan Pada Pasien Fraktur

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR

 I.       Pengertian
ü  Fraktur adalah diskontinuitas jaringan struktural pada tulang. (Sylvia Anderson Price)
ü  Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang atau tulang rawan. (Purnawan Junaidi)
ü  Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.(Brunher & Suddarth)
Jadi dapat disimpulkan bahwa fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang disebabkan oleh faktor tertentu.
A.    Berdasarkan keadaan luka
1.      Fraktur tertutup (closed fraktur), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.
2.      Fraktur terbuka (open/compound fraktur), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dunia luar karena adanya perlukaan di kulit.
B.     Berdasarkan garis patah

1.      Fraktur komplek, bila garis patahnya menyeberang dari satu sisi ke sisi lain. Jadi, mengenai seluruh korteks tulang.
2.      Fraktur inkomplek, bila tidak mengenai korteks tulang pada sisi yang lain. Jadi, masih ada korteks tulang yang masih utuh.
C.     Berdasarkan jumlah garis patah
1.      Simple fraktur, bila hanya terdapat satu garis patah.
2.      Comunitive fraktur, bila ada garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan/bertemu.
3.      Segmental fraktur, bila garis patah lebih dari satu dan tidak saling berhubungan dengan pengertian bahwa fraktur terjadi pada tulang yang sama, misal : fraktur yang terjadi pada proksimal dan distal.
D.    Berdasarkan arah garis patah
1.      Fraktur melintang
2.      Fraktur miring
3.      Fraktur spiral
4.      Fraktur kompresi
5.      Fraktur V/Y/T sering pada permukaan sendi
E.     Penyebab
1.      Fraktur patologis
Misal : osteoporosis imperfekta, osteoporosis, penyakit metabolik.
2.      Trauma
-          Trauma langsung, misal : benturan pada tulang.
-          Trauma tidak langsung yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan, misal : jatuh terpeleset di kamar mandi pada orang tua.

II.    Tanda dan Gejala
a.       Nyeri hebat
b.      Bengkak
c.       Deformitas
d.      Fungsi berubah
e.       Krepitasi
f.       Dengan atau tanpa perdarahan
g.      Sepsis (pada fraktur terbuka)

III.  Pemeriksaan Penunjang
a.       Pemeriksaan foto rontgen
b.      Bone scans, tomogram atau MRI Scans
c.       Arteriogram, dilakukan bila ada kerusakan vaskuler
d.      CCT, kalau banyak kerusakan otot
e.       Pemeriksaan laboratorium rutin : darah rutin dan elektrolit

IV.  Pengkajian Primer
1.      Airway
Kebersihan jalan napas, adanya sumbatan benda asing atau sputum, suara jalan napas, aliran udara, reflek batuk.
2.      Breathing
Frekuensi napas, irama pernapasan, pengembangan paru, suara napas, kedalaman pernapasan, pernapasan cuping hidung, penggunaan otot-otot pernapasan, kaji adanya sesak napas.
3.      Circulation
Kaji adanya perdarahan, tekanan darah, MAP, frekuensi nadi, irama jantung, bunyi jantung, warna kulit, kapiler refill, sianosis, suhu akral, gelisah, output urine.
4.      Disability
Kaji tingkat kesadaran, GCS.
5.      Eksposure
Suhu.

V.    Pengkajian Sekunder
1.      Keluhan utama
Biasanya klien merasakan rasa nyeri yang hebat.
2.      Riwayat kesehatan sekarang
3.      Riwayat penyakit dahulu
4.      Riwayat kesehatan keluarga
5.      Pemeriksaan head to toe
a.       Kepala : kaji bentuk kepala, adanya benjolan, adanya lesi.
b.      Mata : kaji adanya ikterik, anemis, bentuk pupil, besar pupil, respon pupil terhadap cahaya.
c.       Hidung : kaji adanya perdarahan, luka, polip.
d.      Mulut : kaji adanya luka, mukosa mulut, keutuhan dan keadaan gigi.
e.       Leher : kaji adanya benjolan, pembesaran kelenjar tyroid.
f.       Dada
Paru-paru :
I     : kaji pengembangan dada, adanya jejas
Pa  : kaji adanya benjolan, kaji adanya nyeri tekan
Au : kaji bunyi pernapasan
Per : kaji bunyi paru-paru
Jantung :
I     : kaji letus cordis tampak atau tidak
Pa  : letus cordis teraba atau tidak
Au : bunyi jantung
Per : kaji konfigurasi jantung
g.      Abdomen
I     : kaji bentuk abdomen, adanya luka
Au : kaji bising usus
Pal : kaji adanya benjolan, nyeri tekan
Pel : kaji bunyi abdomen
h.      Ekstremitas
Kaji adanya oedeme, kapiler refill, sianosis, akral dingin.
i.        Lokasi fraktur
Kaji adanya perdarahan, nyeri, deformitas, krepitasi, luka.

VI. Diagnosa Keperawatan dan Rencana Asuhan Keperawatan
1.      Defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
Tujuan : keseimbangan cairan dapat tercapai.
Kriteria hasil :
-          perdarahan berhenti
-          sianosis (-)
-          balance cairan tercapai
-          kapiler refill < 2 detik
Intervensi :
a.       Penggantian volume sesuai instruksi : kristaloid atau koloid
b.      Pertahankan potensi aliran IV : aliran sentral lebih baik.
c.       Pantau TD dan HR setiap jam sesuai indikasi.
d.      Pantau haluaran urine tiap jam.
e.       Berikan O2 sesuai kebutuhan.
f.       Pantau elektrolit, HSD, faktor-faktor koagulasi.
g.      Kaji tipe dan jumlah drainase : tandai balutan jika ada indikasi.
h.      Siapkan untuk pembedahan sesuai dengan keperluan.
2.      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan perubahan fragmen tulang, luka pada jaringan, stress, cemas
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien mampu menunjukkan adanya penurunan rasa nyeri.
Kriteria hasil :
-          wajah dan ekspresi tenang
-          tidak gelisah
-          frekuensi nadi normal (60 - 80 x/menit)
Intervensi :
a.       Kaji skala nyeri.
b.      Pertahankan posisi atau immobilisasi pada bagian yang terkait.
c.       Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri.
d.      Ajarkan pada klien beberapa teknik relaxasi (napas dalam, distraksi, fiksasi).
e.       Berikan sokongan (support) pada ekstremitas yang luka.
f.       Kolaborasi pemberian analgetik dan antispasmodik.
g.      Observasi TTV dan keluhan nyeri.
3.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka yang terbuka
Tujuan : pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
Kriteria hasil :
-          perbaikan luka optimal
-          suhu normal (36,5 - 37 oC)
Intervensi :
a.       Kaji keadaan luka (kontinuitas dari kulit) terhadap adanya oedema, ruhor, kalor, dolor, fungsio laesu.
b.      Anjurkan pasien dan pengunjung untuk tidak memegang luka.
c.       Merawat luka dengan teknik aseptik.
d.      Ganti balutan sesuai indikasi.
e.       Pantau hemodinamik terhadap tanda-tanda syok septik : tanda-tanda vital, curah jantung.
f.       Pertahankan keseimbangan cairan yang adekuat, haluaran urine, nutrisi.
g.      Kolaborasi.
-          Siapkan pemeriksaan diagnostik pembedahan sesuai keperluan.
-          Pemberian obat-obatan.
-          Pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit.

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Sylvia Prize, 1998, “Pathofisiologi Konsep Klinik Proses-proses Penyakit”, Jakarta : EGC
Dongoes, Marylin E., 2000, “Rencana Asuhan Keperawatan”, Jakarta : EGC
Junadi, Purnawan, 1992, “Kapita Selekta Kedokteran”, Jakarta : Media Aesculapius FKUI
Long, BC. And Phipps WJ., 1995, “Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. Louis, CV Mosby Company
Hudak, C.M., 1999, “Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik”, Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar