BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Salah
satu faktor yang sangat strategis dan substansial dalam upaya peningkatan
kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) suatu bangsa adalah pendidikan. Pada saat
ini pendidikan menjadi fenomena permasalahan yang sangat penting di Indonesia . Hal
ini dilihat dari keadaan SDM di bangsa Indonesia yang kurang siap menghadapi
millennium goals, era globalisasi, dan era informasi, menurut Pikiran Rakyat
tahun 2006 menyatakan bahwa di tingkat dunia Indonesia termasuk Negara
penghutang (debitor) nomor 6, Negara terkorup nomor 3, peringkat SDM ke 112
dari 127 negara, dengan penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan mencapai
30% dan pengangguran terbuka mencapai 12 juta (Mulyasa, 2007:3). Sehingga
berbagai upaya perbaikan ditempuh sebagai harapan bagi pembaruan paradigma
pendidikan Indonesia
yang lebih bermutu dan kompetitif sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan tekhnologi.( Hidayati, 2009)
Peningkatan
kualitas pendidikan dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan pada berbagai
komponen pendidikan antara lain adalah menyempurnakan kurikulum, dan
menggunakan model pembelajaran, serta bahan ajar yang tepat. Pembaruan dalam
bidang kurikulum yang telah dilakukan pemerintah adalah penyempurnaan kurikulum
1994 yang cenderung berpusat pada siswa menjadi konsep Kurikulum Berbasis
Kompetensi, kemudian dilakukan perbaikan lagi terhadap KBK menjadi kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah
“kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing
satuan pendidikan” (BSNP, 2006:5).
Belajar
mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukaif. Nilai edukatif mewarnai
interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai
edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk
mencapai tujuan tertentu yang tela dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan.
Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannyan secara sistematis dengan
memanfaatkan segala sesuatu guna kepentingan pengajaran (Djamarah, 2002). Untuk
itulah maka dalam makalah ini penulis akan membahas tentang bahan ajar yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hasil perencanaan seorang guru
sebelum mengajar di kelas.
Metode
belajar diskusi adalah cara memecahkan masalah yang
dipelajari melalui urun pendapat dalam diskusi kelompok. Dalam pembelajaran
dengan metode diskusi ini makin lebih memberi peluang pada siswa untuk terlibat
secara aktif dalam pembelajaran walaupun guru masih menjadi kendali utama.
B. PERMASALAHAN
Dari
latar belakang diatas maka dapat disimpulkan beberapa pokok permasalahan dalam
makalah ini yaitu :
1. Apakah pengertian strategi pembelajaran ?
2. Apa pengertian Bahan Ajar ?
3. Bagaimana prinsip-prinsip pemilihan bahan ajar ?
2. Apa pengertian Bahan Ajar ?
3. Bagaimana prinsip-prinsip pemilihan bahan ajar ?
4. Bagaimana menentukan langkah-langkah
pembuatan bahan ajar ?
5. Bagaimana menentukan cakupan urutan bahan ajar ?
5. Bagaimana menentukan cakupan urutan bahan ajar ?
6. Bagaimana penerapan Strategi metode diskusi
belajar dalam penyampaian bahan ajar?
C. TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu
untuk mengkaji lebih dalam mengenai bahan ajar. Dengan kajian ini diharapkan
mahasiswa sebagai calon pendidik mampu melakukan pengembangan bahan ajar sesuai
dengan spesifikasi mata pelajaran yang diasuhnya.
D. MANFAAT
Manfaat
yang diharapkan dari penyusunan makalah
ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi guru sebagai sumber informasi tentang
efektivitas penggunaan strategi penyampaian bahan ajar.
2. Bagi
sekolah sebagai bahan
masukan dalam upaya
untuk meningkatkan kualitas hasil
belajar peserta didiknya.
3.
bagi siswa sebagai langkah awal dalam memotivasi diri dalam belajar dengan
penggunaan metode diskusi yang komplektivitasnya menjadi implementasi pridari
diri.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN METODE DISKUSI
Diskusi
sebagai metode pembelajaran adalah proses pelibatan dua orang peserta atau
lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling
mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan
diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan
pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251).
Manakala
salah satu diantara siswa berbicara, maka siswa-siswa lain yang menjadi bagian dari
kelompoknya aktif mendengarkan. Siapa yang berbicara terlebih dahulu dan begitu
pula yang menanggapi, tidak harus diatur terlebih dahulu. Dalam berdiskusi,
seringkali siswa saling menanggapi jawaban temannya atau berkomentar terhadap
jawaban yang diajukan siswa lain.
Demikian pula mereka
kadang-kadang mengundang anggota kelompok lain untuk bicara, sebagai nara sumber. Dalam penentuan pimpinan
diskusi, anggota kelompok dapat menetapkan pemimpin diskusi mereka sendiri.
Sehingga melalui metode diskusi, keaktifan siswa sangat tinggi.
Mc.Keachie dan Kulik (Gage dan Berliner,
1984: 487), menyebutkan bahwa dibanding dengan metode ceramah, dalam hal
retensi, proses berfikir tingkat tinggi, pengembangan sikap dan pemertahanan
motivasi, lebih baik dengan metode diskusi. Hal ini disebabkan metode diskusi
memberikan kesempatan anak untuk lebih aktif dan
memungkinkan adanya umpan balik yang bersifat langsung.
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding
metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep
dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan
metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah. Sehingga metode
ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada
metode diskusi.
Hasil-hasil penelitian tentang penggunaan metode diskusi
kelompok oleh Lorge, Fox, Davitz, dan Brenner (Davies, 1984:237--239) dapat
disimpulkan dalam rangkuman berikut.
a.
Mengenai soal-soal yang berisiko, keputusan kelompok lebih radikal
dari
pada keputusan perorangan.
b. Kalau
ada pelbagi pendapat tentang sebuah soal yang masih baru, maka
pemecahan
kelompok lebih tepat daripada pemecahan perorangan;
tetapi
tidak selalu demikian kalau soalnya biasa-biasa saja.
c. Kalau
bahan persoalan bukan materi baru, dan anggota-anggota
kelompok
mempunyai keterampilan dalam memecahkan soal-soal sejenis,
pemecahan kelompok lebih baik dari pemecahan oleh
anggota masing-masing, tetapi kadang-kadang pemcahan anggota yang paling cerdas
lebih baik lagi.
d. Kebaikan utama diskusi kelompok
bukanlah pengajuan banyak pendekatan, melainkan penolakan terhadap pendekatan
yang tidak masuk akal. (Konklusi
ini tidak berlaku untuk "brain storming").
e. Yang
memperoleh keuntungan dari diskusi kelompok, ialah siswa-siswa
yang
lemah dalam pemecahan soal.
f.
Superioritas kelompok merupakan fungsi dari kualitas tiap anggota
kelompok.
Sebuah kelompok dapat diharapkan memecahkan sebuah soal,
kalau
sekurang-kurangnya satu anggota dapat memecahkan soal itu secara
individual,
sekalipun ia memerlukan lebih banyak waktu.
g. Dalam
hal waktu, metode kelompok biasanya kurang efisien. Kalau
anggota-anggota
saling percaya dan bekerjasama dengan baik, maka
kelompok
dapat bekerja lebih cepat daripada kerja perorangan.
h.
Kehadiran orang luar mempengaruhi prestasi anggota-anggota
kelompok.
Kalau kelompok itu bekerjasama secara harmonis, dan orang
luar
bergabung dengan kelompok, hal itu mempunyai pengaruh positif;
kalau
kerja sama itu tidak harmonis, maka kehadiran itu merusak,
jika dia
hanya bertindak sebagai pendengar saja.
i.
Dengan metode diskusi perubahan sikap dapat dicapai dengan lebih
baik
daripada kritik langsung untuk mengubah sikap yang diharapkan.
Metode
diskusi juga paling baik untuk memperkenalkan inovasi-inovasi
atau
perubahan.
j. Kalau
dipakai struktur pembahasan yang cocok dengan tugas, dan
cukup
waktu untuk meninjau persoalan dari segala segi, serta jika
anggota-anggota
tidak saling mengevaluasi, maka diskusi kelompok
terbukti lebih kreatif
daripada belajar perorangan. (Kondisi-kondisi ini terdapat pada "brain
storming").
Bertolak dari hasil-hasil penelitian tersebut di atas menyokong
asumsi bahwa keunggulan metode diskusi
terletak pada efektivitasnya untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran tingkat
tinggi dan tujuan pembelajaran ranah afektif (Davies, 1984: 239). Karena itu,
ada tiga macam tujuan pembelajaran yang
cocok melalui penggunaan metode diskusi:(1) penguasaan bahan pelajaran, (2) pembentukkan dan modifikasi sikap,
serta (3) pemecahan masalah (Gall dan Gall, dalam Depdikbud, 1983:28).
Pembentukkan dan modifikasi sikap merupakan tujuan diskusi
yang berorientasi pada isu yang sedang berkembang.
Diskusi yang bertujuan membentuk atau memodifikasi sikap ini, dimulai dengan
guru mengajukan permasalahan atau sejumlah peristiwa yang menggambarkan isu
yang ada dalam masyarakat (seperti: kolusi dalam suatu lembaga, pelecehan
seksual, gerakan disiplin nasional, penggusuran, dan lain sebagainya). Guru
atau pimpinan kelompok selanjutnya meminta pandangan dari anggota kelompok untuk menemukan alternatif-alternatif pemecahan
masalah isu tersebut. Komentar- komentar terhadap masalah atau jawaban masalah dapat
diberikan anggota kelompok maupun pimpinan kelompok.
Selama diskusi berlangsung, pemimpin diskusi mencoba memperoleh penajaman
dan klarifikasi yang lebih baik tentang isu tersebut dengan memperkenalkan
contoh-contoh yang berbeda, dan menggerakkan para anggota diskusi mengajukan
pernyataan-pernyataannya.
B.
PEMECAHAN MASALAH SEBAGAI TUJUAN DISKUSI
Pemecahan
masalah merupakan tujuan utama dari diskusi (Maier,dalam Depdikbud, 1983:29).
Masalah-masalah yang tepat untuk pembelajaran dengan metode
diskusi adalah masalah yang menghasilkan banyak alternatif pemecahan. Dan juga
masalah yang mengandung banyak variabel.
Banyaknya alternatif dan atau
variabel tersebut dapat memancing anak untuk berfikir. Oleh karena itu, masalah
untuk diskusi yang pemecahannya tidak menuntut anak untuk berfikir, misalnya
hanya menuntut anak untuk menghafal, maka masalah tersebut tidak cocok untuk
didiskusikan. Menurut Maiyer (Depdikbud,1983:29) dalam diskusi kelompok 127 kecil,
dapat meningkatkan siswa untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah. Untuk
itu, bilamana guru menginginkan keterlibatan anak secara maksimal dalam
diskusi, maka jumlah anggota kelompok diskusi perlu diperhatikan guru. Jumlah
anggota kelompok diskusi yang mampu memaksimalkan partisipasi anggota adalah antara 3 - 7
anggota. Dari hasil pengamatan, kelompok diskusi yang jumlah anggotanya antara 3 - 7 itu saja,
anggota yang diduga kurang berpartisipasi penuh berkisar 1--2 orang.
Dalam
diskusi dengan jumlah anggota yang relatif kecil
memungkinkan setiap anak memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi. Masalah atau isu yang
dijadikan topik diskusi hendaknya yang relevan dengan minat anak. Masalah
diskusi yang cocok dengan minat anak dapat mendorong keterlibatan mental dan
keterlibatan emosional siswa secara optimal. Melalui penggunaan metode diskusi,
siswa juga mendapat kesempatan untuk latihan keterampilan berkomunikasi dan
keterampilan untuk mengembangkan strategi berfikir dalam memecahkan masalah.
Namun demikian
pembelajaran dengan metode diskusi semacam ini keberhasilannya sangat
bergantung pada anggota kelompok itu sendiri dalam memanfaatkan kesempatan
untuk berpatisipasi dalam pembelajaran. Untuk meningkatkan proses diskusi,
peranan pemimpin diskusi sangat menentukan. Pemimpin diskusi bertugas untuk
mengklarifikasi topik yang tidak jelas. Jika diskusi tidak berjalan, pemimpin
diskusi berkewajiban mengambil inisiatif dengan melontarkan ide-ide yang dapat
memancing pendapat peserta diskusi. Demikian pula bila terjadi ketegangan dalam
proses diskusi, tugas pemimpin diskusi adalah meredakan ketegangan. Tidak jarang
pendapat-pendapat dalam diskusi menyimpang dari topik utama, karena itu
pemimpin diskusi bertugas untuk mengembalikan pembicaraan kepada topik utama
diskusi. Pemilikan pengetahuan secara umum tentang masalah yang didiskusikan
adalah prasyarat agar setiap peserta mampu mengemukakan pendapat. Diskusi tidak
akan berhasil manakala peserta diskusi belum memiliki pengetahuan yang menjadi
masalah yang didiskusikan. Dalam diskusi formal, untuk membekali pengetahuan
peserta, disajikan terlebih dahulu makalah yang disusun oleh salah satu peserta
diskusi.
Tujuan penyajian makalah adalah
untuk membuka wawasan dan pikiran peserta agar mampu memberikan pendapatnya.
C.
BEBERAPA JENIS DISKUSI
a. Diskusi Kelompok Besar (Whole Group Discussion). Jenis
diskusi kelompok besar dilakukan dengan memandang kelas sebagai satu kelompok.
Dalam diskusi ini, guru sekaligus sebagai pemimpin diskusi. Namun begitu, siswa
yang dipandang cakap, dapat saja ditugasi guru sebagai pemimpin diskusi. Dalam
diskusi kelompok besar, sebagai pemimpin diskusi, guru berperan dalam memprakarsai terjadinya
diskusi. Untuk itu, guru dapat mengajukan
permasalahan-permasalahan serta mengklarifikasinya kelompok besar, tidak semua
siswa menaruh perhatian yang sama, karena itu tugas guru sebagai pemimpin
diskusi untuk membangkitkan perhatian anak terhadap masalah yang sedang
didiskusikan. Di samping itu, distribusi siswa yang ingin berpendapat perlu
diperhatikan. Dalam diskusi kelompok besar, pembicaraan sering didominasi oleh
anak-anak tertentu. Akibatnya tidak semua anak berkesempatan untuk berpendapat.
Untuk menghindari keadaan itu, pemimpin diskusi perlu mengatur distribusi
pembicaraan. Tugas terberat bagi pemimpin diskusi adalah menumbuhkan keberanian
peserta untuk mengemukakan pendapatnya.
Dalam praktek, tidak sedikit anak-anak yang kurang berani berpendapat dalam
berdiskusi. Terlebih bagi anak yang kurang menguasai permasalahan yang
menjadi bahan diskusi.
b.
Diskusi Kelompok Kecil (Buzz Group Discussion) Kelas dibagi menjadi
beberapa kelompok kecil terdiri atas 4--5 orang.
Tempat berdiskusi diatur agar siswa dapat berhadapan muka dan bertukar pikiran
dengan mudah. Diskusi diadakan dipertengahan pelajaran atau diakhir pelajaran
dengan maksud menajamkan pemahaman kerangka pelajaran, memperjelas penguasaan
bahan pelajaran atau menjawab pertanyaan-pertanyaan. Hasil belajar yang
diharapkan ialah agar segenap individu membandingkan persepsinya yang mungkin berbeda-beda
tentang bahan pelajaran, membandingkan interpretasi dan informasi yang
diperoleh masing-masing individu yang dapat saling memperbaiki pengertian,
persepsi, informasi, interpretasi, sehingga dapat dihindarkan
kekeliruan-kekeliruan.
c.
Diskusi Panel, Fungsi utama diskusi panel adalah untuk mempertahankan keuntungan
diskusi kelompok dengan situasi peserta besar, dimana
ukuran kelompok tidak memungkinkan partisipasi
kelompok secara mutlak. Dalam artian panel memberikan pada kelompok besar
keuntungan partisipasi yang dilakukan orang
lain dalam situasi diskusi yang dibawakan oleh beberapa peserta yang terplih.
Peserta yang terpilih yang melaksanakan panel mewakili beberapa sudut pandangan
yang dipertimbangkan dalam memecahkan masalah. Mereka memiliki
latar belakang pengetahuan yang memenuhi syarat untuk berperan dalam diskusi
tersebut. Forum panel secara fisik dapat dihadiri audience secara lansung atau
tidak langsung (melalui TV, radio, dan sebagainya).
d. Diskusi Kelompok. Suatu kelas dibagi menjadi beberapa
kelompok kecil terdiri atas 3--6 orang. Masing-masing kelompok
kecil melaksanakan diskusi dengan masalah tertentu. Guru menjelaskan garis
besar problem kepada kelas, ia menggambarkan aspek- aspek masalah kemudian
tiap-tiap kelompok (syndicate) diberi topik masalah yang sama atau berbeda-beda
selanjutnya masing-masing kelompok bertugas untuk menemukan kesepakatan jawaban
penyelesaiannya. Untuk memudahkan diskusi anak, guru dapat menyediakan
reference atau sumber-sumber informasi yang relevan. Setiap sindikat bersidang
sendiri-sendiri atau membaca bahan, berdiskusi dan menysusun kesimpulan sindikat.
Tiap-tiap kelompok mempresentasikan
kesimpulan hasil diskusinya dalam sidang pleno untuk didiskusikan secara
klasikal.
e. Brain
Storming Group. Kelompok menyumbangkan ide-ide baru tanpa
dinilai segera. Setiap anggota kelompok
mengeluarkan pendapatnya. Hasil belajar yang diharapkan ialah agar kelompok
belajar menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan ide-ide yang yang
ditemukannya dianggap benar.
f. Symposium.
Beberapa orang membahas tentang aspek dari suatu subjek
tertentu dan membacakan di muka peserta simposium
secara singkat (5--20 menit). Kemudian dikuti dengan sanggahan dan pertanyaan
dari para penyanggah dan juga dari pendengar. Bahasan dan sanggahan
ituselanjutnya dirumuskan oleh panitia perumus sebagai hasil simposium.
g.
Informal Debate. Kelas dibagi menjadi dua tim yang agak sama besarnya
dan mendiskusikan subjek yang cocok untuk
diperdebatkan tanpa memperdebatkan peraturan perdebatan. Bahan yang cocok untuk
diperdebatkan ialah yang bersifat problematis, bukan yang bersifat faktual.
h.
Colloqium. Seseorang atau beberapa orang manusia sumber menjawab pertanyaan-pertanyaan
dari audiensi. Dalam kegiatan belajar mengajar siswa/mahasiswa menginterview
manusia sumber, selanjutnya mengundang pertanyaan lain/tambahan dari siswa
mahasiswa lain.
i. Fish
Bowl. Beberapa orang peserta dipimpin oleh seorang ketua
mengadakan suatu diskusi untuk mengambil suatu
keputusan. Tempat duduk diatur merupakan setengah lingkaran dengan dua atau
tiga kursi kosong menghadap peserta diskusi, kelompok pendengar duduk mengelilingi
kelompok diskusi, seolah-olah melihat ikan yang berada dalam mangkuk (fish
bowl). Selama kelompok diskusi berdiskusi, kelompok pendengar yang ingin
menyumbang pikiran dapat masuk duduk di kursi kosong. Apabila ketua diskusi mempersilahkan
berbicara ia dapat langsung berbicara, dan
meninggalkan kursi setelah berbicara.
D.
KEGUNAAN METODE DISKUSI
Diskusi sebagai metode mengajar lebih cocok dan diperlukan
apabila kita (guru) hendak memberi kesempatan kepada siswa: untuk
mengekspresikan kemampuannya, berpikir kritis, menilai perannya dalam diskusi,
memandang masalah dari pengalaman sendiri dan pelajaran yang diperoleh di
sekolah, memotivasi, dan mengkaji lebih lanjut. Melalui diskusi dapat
dikembangkan keterampilan mengklarifikasi, mengklasifikasi, menyusun hipotesis,
menginterpretasi, menarik kesimpulan, mengaplikasikan teori, dan
mengkomunikasikan pendapat.
Disamping itu, metode diskusi dapat melatih sikap anak
menghargai pendapat orang lain, melatih keberanian untuk mengutarakan pendapat,
mempertahankan pendapat, dan memberi rasional sehubungan dengan pendapat
yang dikemukakannya.
Prinsip Umum Penggunaan Metode Diskusi Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam melaksanakan metode
diskusi, antara lain sebagai berikut:
a.
Perumusan masalah atau masalah-masalah yang didiskusikan agar dilakukan
bersama-sama dengan siswa.
b.
Menjelaskan hakikat masalah itu disertai tujuan mengapa masalah
tersebut dipilih untuk didiskusikan.
c.
Pengaturan peran siswa yang meliputi pemberian tanggapan, saran,
pendapat, pertanyaan, dan jawaban yang timbul untuk
memecahkan masalah.
d. Memberitahukan tata tertib diskusi.
e. Pengarahan pembicaraan agar sesuai dengan tujuan.
f. Pemberian bimbingan siswa untuk mengambil kesimpulan.
E.
LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN DISKUSI KELOMPOK
Langkah-langkah
diskusi sangat bergantung pada jenis diskusi yang digunakan. Hal ini
dikarenakan tiap-tiap jenis memiliki karakteristik masing-masing.
Seminar
memiliki karakteristik yang berbeda dengan simposium, brain storming, debat,
panel, sindikat group dan lain-lain. Demikian pula siposium dan yang lain-lain
tersebut juga memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Akibat perbedaan karakteristik tersebut, maka langkah dan atau prosedur
pelaksanaannya berbeda satu dengan yang lain. Meskipun demikian, secara umum untuk
keperluan pembelajaran di kelas, langkah-langkah diskusi kelas
dapat dilaksanakan dengan prosedur yang lebih sederhana.
Moedjiono, dkk (1996)
menyebutkan langkah-langkah umum pelaksanaan diskusi sebagai berikut
ini:
a. Merumuskan masalah secara jelas
b. Dengan
pimpinan guru para siswa membentuk kelompok-kelompok
diskusi, memilih pimpinan diskusi (ketua,
sekretaris, pelapor), mengatur tempat duduk,
ruangan, sarana, dan sebagainya sesuai dengan tujuan diskusi. Tugas pimpinan diskusi antara lain: (1) mengatur
dan mengarahkan diskusi, (2) mengatur "lalu lintas" pembicaraan.
c.
Melaksanakan diskusi. Setiap anggota diskusi hendaknya tahu persis apa
yang akan didiskusikan dan bagaimana cara
berdiskusi. Diskusi harus berjalan dalam
suasana bebas, setiap anggota tahu bahwa mereka mempunyai hak bicara yang sama.
d.
Melaporkan hasil diskusinya. Hasil-hasil tersebut ditanggapi oleh
semua siswa, terutama dari kelompok lain. Guru
memberi alasan atau penjelasan terhadap
laporan tersebut.
e.
Akhirnya siswa mencatat hasil diskusi, dan guru mengumpulkan laporan
hasil diskusi dari tiap kelompok.
Budiardjo, dkk, 1994:20--23 membuat langkah penggunaan metode
diskusi melalui tahap-tahap berikut ini:
1. Tahap Persiapan
a.
Merumuskan tujuan pembelajaran
b. Merumuskan permasalahan dengan jelas dan ringkas.
c. Mempertimbangkan karakteristik anak
dengan benar.
d.
Menyiapkan kerangka diskusi yang meliputi:
(1) menentukan dan merumuskan aspek-aspek masalah,
(2) menentukan alokasi waktu,
(3) menuliskan garis besar bahan diskusi,
(4) menentukan format susunan tempat,
(4) menetukan aturan main jalannya diskusi.
e.
Menyiapkan fasilitas diskusi, meliputi:
(1) menggandakan bahan diskusi,
(2) menentukan dan mendisain tempat,
(3) mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan.
2. Tahap pelaksanaan
a.
Menyampaikan tujuan pembelajaran.
b.
Menyampaikan pokok-pokok yang akan didiskusikan.
c.
Menjelaskan prosedur diskusi.
d.
Mengatur kelompok-kelompok diskusi
e.
Melaksanakan diskusi.
3. Tahap penutup
a.
Memberi kesempatan kelompok untuk melaporkan hasil.
b.
Memberi kesempatan kelompok untuk menanggapi.
c.
Memberikan umpan balik.
d.
Menyimpulkan hasil diskusi.
F.
PERANAN GURU SEBAGAI PEMIMPIN DISKUSI
Untuk
mempertahankan kelangsungan, kelancaran dan efektivitas diskusi, guru sebagai
pemimpin diskusi memegang peranan menentukan.
Mainuddin,
Hadisusanto dan Moedjiono, 1980:8--9, menyebutkan sejumlah peranan yang harus dimainkan
guru sebagai pemimpin diskusi, adalah berikut ini:
a. Initiating, yakni
menyarankan gagasan baru, atau cara baru dalam melihat masalah yang sedang didiskusikan.
b.
Seeking information, yakni meminta fakta yang relavan atau informasi
yang
otoritarif tentang topik diskusi.
c.
Giving information, yakni fakta yang relavan atau menghubungkan
pokok
diskusi dengan pengalaman pribadi peserta.
d.
Giving opinion, yakni memberi pendapat tentang pokok yang sedang
dipertimbangkan
kelompok, bisa dalam bentuk menantang konsesus atau
sikap
"nrimo" kelompok.
e.
Clarifying, yakni merumuskan kembali pernyataan sesorang;
memperjelas
pernyataan sesorang anggota.
f.
Elaborating, yakni mengembangkan pernyataan seseorang atau memberi
contoh
atau penerapan.
g. Controlling,
yakni menyakinkan bahwa giliran bicara merata;
menyakinkan
bahwa anggota yang perlu bicara, memperoleh giliran
bicara.
h.
Encouraging, yakni bersikap resetif dan responsitif terhadap
pernyataan serta buah pikiran anggota.
i.
Setting Standards, yakni memberi atau meminta kelompok menetapkan,
kriteria
untuk menilai urunan anggota.
j.
Harmonizing, yakni menurunkan kadar ketegangan yang terjadi dalam
diskusi.
k.
Relieving tension, yakni melakukan penyembuhan setelah terjadinya
tegangan.
l. Coordinating,
yakni menyimpulkan gagasan pokok yang timbul dalam
diskusi,
membantu kelompok mengembangkan gagasan.
m.
Orientating, yakni menyampaikan posisi yang telah dicapai kelompok
dalam
diskusi dan mengarahkan perjalanan diskusi selanjutnya.
n. Testing,
yakni menilai pendapat dan meluruskan pendapat kearah yang
seharusnya
dicapai.
o.
Consensus Testing, menialai tingkat kesepakatan yang telah dicapai
dan
menghindarkan perbedaan pandangan.
p.
Summarizing, yakni merangkum kesepakatan yang telah dicapai.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Diskusi sebagai metode pembelajaran adalah proses pelibatan dua
orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau
saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan
diantara mereka.
2. Jenis-jenis Diskusi
·
Diskusi Kelompok Besar
(Whole Group Discussion)
·
Diskusi Kelompok Kecil
(Buzz Group Discussion)
·
Diskusi Panel
·
Diskusi Kelompok.
·
Brain Storming Group
·
Symposium
·
Informal Debate
·
Colloqium
·
Fish Bowl
3. Langkah-langkah diskusi
·
Tahap Persiapan
·
Tahap
Pelaksanaan
·
Tahap Penutup
B.
Saran
Semoga dengan
tercapainya penyelesaian dari makalah ini akan menjadi bacaan dan salah sumber
belajar tentang kontroveksi diri terhadap memperbaiki kualitas mengajar sebagai
seorang guru nantinya, baik itu dalam pengembangan secara otodidak maupun
setelah mendapatkan beberapa pengalaman dilapangan.
Sebagai penulis
kami hanya memberikan sedikit informasi guna kemajuan terhadap SDM bangsa ini,
teruslah membaca karena membaca adalah salah satu sumber pengetahuan dan
amalkanlah ilmu yang telah kau dapat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar