KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kami ucapkan pada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmtnya
kamik dapat menyelesaikan maakalah ini dengan baik dan benar sesuai dengan
kemampuan kami. Adapun judul makalah kami ini adalah “pemeriksaan fisik kepala sampai
dada”. Dimana makalah ini kami susun karena kepercayaan yang diberikan
dr.Adrian selaku dosen pembimbing mata kuliah “pemeriksaan fisik”.
Makalah
ini kami buat bertujuan untuk membantu mahasiswa/i STIKes ST.Elisabeth Medan
dalam memudahkan menjalankan tugas Dan tanggung jawab dalam merawat dan
memeriksa orang lain sesuai dengan profesi yang dituntut.
Makalah
ini berisi tentang bagaimana cara melakukan pemeriksaan fisik mulai dari kepala
sampai dada, yang dapat diperiksa dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi. Oleh karena itu, besar harapan kami makalah ini dapat membantu para
pembaca dalam melakukan tugasnya.
Dengan demikian makalah ini kami susun,
apabila ada kesalahan kata dan kesalahan makna kami mohon maaf.
Atas
perhatian saudara sekalian kami mengucapkan terima kasih.
Hormat kami
Medan, 22 september 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
1.
Latar belakang 1
2.
Tujuan 2
3.
Sasaran 2
4.
Metode penulisan 2
5.
Metode penyajian 2
6.
KBM 3
7.
Evaluasi 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.
PENGKAJIAN KEPALA
DAN LEHER 5
2.
Kepala 5
3.
Mata 7
4.
Telinga 12
5.
Hidung dan Sinus 16
6.
Mulut dan faring 18
7.
Pemeriksaan leher 20
8.
Pemeriksaan trakhea 23
9.
Pemeriksaan dada
(thorax) 24
BAB III PENUTUP
1.
Kesimpulan 37
2.
Saran 37
DAFTAR PUSTAKA 38
BAB I
PENDAHULUAN
1.
LATAR BELAKANG
Perawat masa kini dituntut untuk memberikan pelayana
kesehatan / keperawatan yang bermutu tinggi kepada masyarakat. Hal ini dapat
diwujudkan bila perawat mampu menggunakan metode pendekatan pemecahan maaslah,
menerapkan hasil penelitian terbaik, bekerjasama dengan baik bersama tim
kesehatan serta melakukan pengkajian kemampuan diri untuk mengetahui kelebihan
dan kekurangan dari asspek profesional yang harus dikuasai.
Pengkajian fisik tidak dipandang secara terpisah karena
aspek ini merupakan salah satu tahap upaya penanganan kesehatan klien. Tujuan
pengkajian fisik keperawatan bergantung pada jenis pengkajian yang harus
diliakukan. Era pelayanan kesehatan saat ini tidak lagi memfokuskan pada
kondisi sakit, tetapi pada kesehatan promotif dan aspek kesehatan/ kesejahtraan
pasien..
Pengkajian fisik bertujuan untuk menentukan status
kesehatan sekarang dan bagaiman klien mampu menjalankan fungsi tubuh secara
umum. Teknik pengkajian fisik
keperawatan adalah :
1.
Inspeksi : Merupakan
proses observasidengan menggunakan mata. Inspeksi dilakukan untuk mendeteksi
tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik.
2.
Palpasi : Dilakukan dengan menggunakan
sentuhan / rabaan.
3.
Perkusi : Metode
pemeriksaan dengan cara mengetuk. Tujuan perkusi adalah menentukan batas-batas
organ / bagian tubuh dengan cara merasakan vibrasi yang ditimbulkan akibat
adanya gerakan yang diberikan kebawah jaringan.
Auskultasi : Metode pengkajian yang menggunakan
steteskop untuk memperjelas pendengaran.
2.
TUJUAN
·
Tujuan Umum
Agar mahasiswa/i S1 Keperawatan tingkat II mengerti
bagaimana cara pemeriksaan fisik diagnostik dari kepala, leher dan thorax.
·
Tujuan Khusus
-
Agar mahasiswa/i !
Keperawatan Tingkat II semester III mengerti dari tujuan pemeriksaan fisikdiagnostik
kepala, leher dan thorax.
-
Agar mahasiswa/i !
Keperawatan Tingkat II semester III mengerti dan memahami prosedur / cara
pelaksanaan pemeriksaan fisik kepala, leher, dan thorax.
3.
SASARAN
Sasaran
penulis makalah ini ditujukan kepada saluran mahasiswa/i STIKES Santa Elisabeth
Medan terkhusus S-1 Keperawatan Tingkat
II.
4.
METODE
PENULISAN
Adapun
metode yang digunakan adalah berdasrkan sumber-sumber yang tercapai yakni
buku-buku perpustakaan dan internet
5.
METODE
PENYAJIAN
Cara
menyajikan makalah ini dilakukan dengan mengadakan persentasi atau seminar
antar mahasiswa/I dan dosen.
6.
KBM
KBM (Kegiatan Balajar Mengajar)
|
Kegiatan
|
Kegiatan
kelompok
|
Kegiatan
mahasiswa
|
Pembicara
|
Media
|
|
Pendahuluan
|
·
Mengucapkan saalam
kepada pembimbing dan mahasiswa/I
·
Memperkenalkan diri
kepada mahasiswa/i
·
Menyebutkan judul
yang akan di presentasikan kelompok evaluasi awal, penanyakan pengertian
pemenuhan kebutuhan oksigenisasi.
|
Mendengar
Mendengar
|
Moderator
|
Microfon
|
|
Inti
|
·
Menyebutkan
pengertian pemenuhankebutuhan oksigenisasi
·
Tujuan pemenuhan
kebutuhan oksigenisasi
·
Memperkenalkan
alat-alat yang diperlukan dalam pemasangan oksigenisasi
·
Mendemonstrasikan
didepan audiens
|
Mendengar
dan mencatat
Mendengar
dan mencatat
Mendengar
dan mencatat
Mendengar,
memperhatika, mencatat dan bertanya
|
|
Microfon,
LCD
|
|
Penutup
|
Evaluasi aktif
|
Menjawab pertanyaan
|
|
Microfon dan media
peralatan praktek
|
|
|
Menanyakan kepada
audiens tentang kejelasan pengajian kelompok
|
Penyaji
|
|
|
|
|
Mempersilahkan kepada
audiens mendemonstrasikan kembali mengucapkan trimakasih
|
Memasang alat-alat
oksigenisasi
Member salam
|
Moderator
|
|
7.
EVALUASI
a.
Sebutkan pengertian
dari inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi,..!!
b.
Sebutkan pengertian
dari pemeriksaan fisik.....!!
Jawaban
1.
Inspeksi :
Merupakan proses observasidengan menggunakan mata.
2.
Palpasi : Dilakukan dengan menggunakan
sentuhan / rabaan.
3.
Perkusi : Perkusi
adalah menentukan batas-batas organ / bagian tubuh dengan cara merasakan
vibrasi yang ditimbulkan akibat adanya gerakan yang diberikan kebawah jaringan.
4.
Auskultasi : Metode
pengkajian yang menggunakan steteskop untuk memperjelas pendengaran
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
1.
PENGKAJIAN KEPALA DAN LEHER
v ANATOMI KEPALA
v ANATOMI LEHER
v PROSEDUR
PELAKSANAAN
-
Kepala
Merupakan
organ tubuh yang penting dikaji karena di kepala terdapat organ-organ yang
sangat berperan dalam fungsi kehidupan. Dalam pengkajian kepala, selain
mengkaji kepala, organ seperti mata, telinga, hidung, mulut serta leher juga
dikaji.
Prosedur
-
Inspeksi Dan Palpasi
1.
Atur posisi duduk /
berdiri
2.
Aturkan untuk
melepas penutup kepala / kacamata
3.
Lakukan inspeksi
yaitu dengan memperhatikan kesimetrisan wajah , tengkorak, warna dan distribusi
rambut, kulit kepala. Wajah normalnya simetris antara kanan dan kiri. Ketidak
simetrisan wajah dapat menjadi suatu petunjuk adanya kelumpuhan / paresis saraf
ke 7. Bentuk tengkorak yang normal adalah simetris dengan bagian frontal
menghadap kedepan dan bagian parietal menghadap ke belakang. Distribusi rambut
sangat bervariasi pada setiap orang dan kulit kepala normalnya tidak mengalami
peradangan tumor, bekas luka / sikatriks.
4.
Lakukan dengan
palpasi untuk mengetahui keadaan rambut, massa, pembengkakan, nyeri tekan,
keadaan tengkorak dan kulit kepala
-
Mata
Cara inspeksi
mata
1. Amati bola mata terhadap protrusi, gerakan mata, lapang
pandang dan visus.
2. Amati kelopak mata, perhatikan bentuk dan kalainan dengan
cara sebagai berikut.
·
Bandinkan mata
kanan dan mata kiri
·
Anjurkan pasien
menutup kedua mata
·
Amati bentuk dan
keadaan kulit pada kelopak mata serta pinggir kelopak mata
·
Amati pertumbuhan
rambut pada kelopak mata terkait ada tidaknya bulu mata dan posisi bulu mata
·
Perhatikan keluasan
mata dalam membuka dan catat bila ada dropping kelopak mata atas atau sewaktu
mata membuka (ptosis)
3. Amati konjunctiva dan sklera dengan cara sebagai berikut
·
Anjurkan pasien
untuk melihat lurus kedepan
·
Amati konjungtiva
untuk mengetahui ada tidaknya kemerah-merahan, keadaan vaskularisasi, serta
lokasinya
·
Tarik kelopak mata
bagian bawah kebawah dengan menggunakan ibu jari
·
Amati keadaan
konjungtiva dan kantong konjungtiva bagian bawah, catat bila didapatkan infeksi
atau pus atau bila warnanya tidak normal, misalnya anemik
·
Bila diperlukan,
amati konjungtiva bagian atas yaitu dengan cara membuka / membalik kelopak mata
atas dengan perawat berdiri dibelakang pasien
·
Amati warna sklera
saat memeriksa konjungtiva yang pada keadaan tertentu warnanya dapat menjadi
ikterik
4. Amati warna iris serta ukuran dan bentuk pupil. Kemudian
mengevaluasi reksi pupil terhadap cahaya. Normalnya bentuk pupil adalah sama
besar (isokor). Pupil mengecil; disebut miosis, amat kecil disebut pinpoint.
Pupil yang melebar / dilatasi disebut midriasis
Cara inspeksi gerakan mata
1.
Anjurkan pasien
untuk melihat lurus kedepan
2.
Amati apakah kedua
mata tetap diam atau bergerak secara spontan (nistagmus) yaitu gerakan ritmis
bola mata, mula-mula lambat bergerak ke suatu arah, keudian dengan cepatt ke
posisi semula
3.
Bila ditemukan
adanya nistagmus, amati bentuk, frekuensi (cepat atau lambat) amplitudo (luas /
sempit), dan durasinya (hari/minggu)
4.
Amati apakah kedua
mata memandang lurus ke depan atau salah satu mengalami deviasi
5.
Luruskan jari
telunjuk dan dekatkan dengan jarak sekitar 15-30 cm
6.
Beritahu pasien
untuk mengikuti gerakan jari dan pertahankan posisi kepala pasien. Gerakkan
jari kedelapan arah untuk mengetahui fungsi 6 otot mata
Cara
inspeksi lapang pandang
1.
Berdiri di depan
pasien
2.
Kaji kedua mata
secar terpisah yaitu dengan cara menutup mata yang tidak diperiksa
3.
Beritahu pasien
untuk melihat lurus kedepan dan memfokuskan pada satu titik pandang, misalnya
hidung
4.
Gerakkan jari pada
satu garis vertikal / dari samping dekatkan kemata pasien secara perlahan-lahan
5.
Anjurkan pasien
untuk memberitahu sewaktu melihat jari
6.
Kaji mata
sebelahnya
Pemeriksaan
Visus (ketajaman penglihatan)
1.
Siapkan kartu
snellen atau kartu yang lain untuk pasien dewasa atau kartu gambar untuk
anak-anak
2.
Atur kursi tempat
duduk klien dengan jarak 5 atau 6 meter
dari kartu snellen
3.
Atur penerangan
yang memadai sehingga kartu dapat dibaca dengan jelas
4.
Beritahu pasien
untuk menutup mata kiri dengan satu tangan
5.
Pemeriksaan mata
kanan dengan cara pasien disuruh membaca mulai huruf yang paling besar menuju
huruf yang paling kecil dan catat tulisan terakhir yang masih dapat di baca
oleh pasien
6.
Lakukan juga terhadap mata yang sebelahnya
Palpasi
Cara
palpasi untuk mengetahui tekanan bola mata
1.
Beritahu pasien
untuk duduk
2.
Anjurkan pasien
untuk memejamkan mata
3.
Lakukan palpasi
pada kedua mata. Bila tekanan bola mata tinggi maka mata akan teraba keras
Cara
pengkajian funduskopi
1.
Atur posisi pasien
duduk di kursi
2.
Beritahu pasien
tentang tindakan yang akan dikerjakan
3.
Teteskan 1-2 tetes
obat yang dapat melebarkan pupil dalam jangka pendek, misalnya tropikamid (bila
tidak ada kontra indikasi)
4.
Atur cahaya ruangan
agak redup
5.
Duduk dikursi
dihadaapan pasien
6.
Beritahu pasien
untuk melihat secaratetap pada titik tertentu dan anjurkan untuk tetap
mempertahankan sudut pandangnya tanpa berkedip
7.
Bila pasien atau
anda memakai kacamata, hendaknya dilepas dahulu
8.
Pegang oftalmoskop,
atur lensa pada angka 0, nyalakan dan arahkan pada pupil mata dari jarak
sekitar 30 cm sampai ditemukan red reflex yang merupakan cahaya pancaran dari
retina. Bila letak oftalmoskop tidak tepat, red reflex tidak akan muncul. Red
reflex juga tidak akan muncul pada mata yang katarak
9.
Bila red reflex
sudah ditemukan, dekatkan oftalmoskop secara perlahan ke mata pasien. Bila
pasien miopia, atur kontrol kearah negatif (merah). Bila pasien hiperopia, atur
kontrol ke arah positif (hitam)
10. Amati fundus secara sistematis yang diawali dengan mengamati
pembuluh darah besar. Catat bila ditemukan kelainan. Lanjutkan pengamatan
dengan membandingkan ukuran arteri dan vena yang normalnya mempunyai
perbandingan 4:5. Kemudian amati warna makula yang normalnya tampak lebih
terang daripada retina. Berikutnya amati warna, batas, pigmentasi diskus
optikus. Normalnya diskus optikus berbentuk melingkar berwarna merah muda agak
kuning, batas terang dan tetap dengan jumlah pigmen yang bervariasi, lalu amati
warna retina, kemungkinan ada perdarahan dan setiap ada kelainan.
11. Bandingkan mata kanan dan kiri
12. Catat hasil pengkajian dengan jelas
13. Setelah pengkajian selesai, teteskan pilokaprin 2% untuk menetralisasi
dilatasi pada mata yang diamati
14. Tunggu / pastikan dapat melihat seperti semula
-
Telinga
Inspeksi dan
palpasi
1. Bantu pasien dalam posisi duduk. Pasien yang masih
anak-anak dapat diatur duduk dipangkuan orang lain
2. Atur posisi anda duduk menghadap sisi telinga pasien yang
akan diuji
3. Untuk pencahayaan, gunakan auriskop, lampu kepala, atau
sumber cahaya yang lain sehingga tangan anda akan bebas bekerja
4. Mulai amati telingsa luar, periksa ukuran, bentuk, warna,
lesi dan adanya massa pada pinna
5. Lanjutkan pengkajian palpasi dengan memegang telinga
menggunakan ibu jari dan jari telunjuk
6. Palpasi kartilago telinga luar secara sistematis yaitu
dari jaringan lunak, kemudian jaringan keras, dan catat bila ada nyeri
7. Tekan bagian tragus kedalam dan tekan pula tulang telinga
dibawah daun telinga. Bila ada peradangan, pasien akan merasa nyeri
8. Bandingkan telinga kiri dan telinga kanan
9. Bila diperlukan, lanjutkan pengkajian telinga bagian
dalam harus dibawah pengawasan instruktur yang berpengengalaman dan menguasai
teknik pengkajian telinga bagian dalam
10. Pegang baian pinggir daun telinga / heliks dan secara
perlahan-lahan tarik daun telinga ke atas dan ke belakang sehingga lubang
telinga menjadi lurus dan mudah untuk di amati. Pada anak-anak daun telinga
ditarik ke bawah
11. Amati pintu masuk lubang telinga dan perhatikan ada atau
tidaknya peradangan, perdarahan atau kotoran
12. Dengan hati-hati masukkan otoskop yang menyala ke dalam
lubanng telinga.
13. Bila letak otoskop sudah tepat, arahkan mata anda pada
eyepiece
14. Amati adanya kotoran, serumen, peradangan atau adanya
benda asing pada dinding lubang telinga
15. Amati bentuk, warna, transparansi, kilau, perforasi atau
adanya darah / cairan pada membran timpani
Pemeriksaan pendengaran
Pemeriksaan pendengaran dilakukan untuk
mengetahui fungsi telinga, secara sederhana pendengaran dapat diperiksa dengan
menggunakan suara bisikan. Pendengaran yang baik akan dengan mudah diketahui
dengan adanya bisikan.bila pendengaran dicurigai tidak berfungsi baik,
pemeriksaan yang lebih teliti dapat dilakukan dengan garputala atau tes
audiometri (oleh spesialis)
Cara pemeriksaan pendengaran dengan bisikan
1. Atur posisi pasien berdiri membelakangi anda pada jarak
sekitar 4,5-6 meter
2. Anjurkan pasien untuk menutup salah satu telinga yang
tidak diperiksa
3. Bisikkan suatu bilangan (mis: tujuh enam)
4. Beritahu pasien untuk mengulangi bilangan yang didengar
5. Periksa telinga sebelah dengan cara yang sama
6. Bandingkan kemampuan mendengar telinga kanan dan kiri
pasien
Pemeriksaan pendengaran dengan bisikan dapat pula
dilakukan menggunakan arloji
Cara pemeriksaan pendengaran menggunakan arloji
1. Pegang sebuah arloji di samping telinga pasien
2. Minta pasien menyatakan apakah mendengarkan detakan
arloji
3. Pindah posisi arloji perlahan-lahan menjauhi telinga dan
minta pasien menyatakan bila tidak mendengar lagi detak arloji tersebut.
Normalnya detak arloji masih dapat didengar sampai jarak 30 cm dari telinga
4. Bandingkan telinga kanan dan kiri
Cara pemeriksaan pendengaran dengan Garpu Tala
1. Pemeriksaan pertama (rinne)
a. Vibrasikan garpu tala
b. Letakkan garpu tala pada mastoid kanan pasien
c. Anjurkan pasien memberitahu sewaktu tidak merasakan
getaran lagi
d. Angkat garputala dan pegang didepan telinga kanan pasien
dengan posisi garpu tala paralel terhadap lubang telinga luar pasien
e.
Anjurkan pasien untuk memberitahu apakah masih mendengar
suara getaran atau tidak. Normalnya suara getaran masaih dapat didengar karena
konduksi udara lebih baik daripada konduksi tulang
2. Pemeriksaan kedua (Weber)
1. Vibrasikan garpu tala
2. Letakkan garputala ditengah-tengah puncak kepala pasien
3. Tanya pasien tentang telinga yang mendengar suaragetaran
lebih keras. Normalnya kedua telinga dapat mendengar secara seimbanng sehingga
getaran dirasakan di tengah-tengah kepala
4. Catat hasil pemeriksaan pendengaran
3. Tentukan apakah pasien mengalami konduksi tulang, udara,
atau keduanya
-
Hidung dan sinus
Inspeksi dan palpasi
Cara inspeksi dan palpasi
hidung bagian luar serta palpasi sinus-sinus
1.
Duduk menghadap
pasien
2.
Atur penerangan dan
amati hidung bagian luar dari sisi depan, samping dan sisi atas. Perhatikan
bentuk atau tulang hidung dari ketiga sisi ini
3.
Amati warna dan
pembengkakan pada kulit hidung
4.
Amati kesimetrisan
lubang hidung
5.
Lanjutkan dengan
melakukan palpasi hidung luar dan catat bila ditemukan ketidaknormalan kulit
atau tulang hidung
6.
Kaji mobilitas
septum nasi
7.
Palpasi sinus
maksilaris, frontalis dan etmodialis. Perhatikan adanya nyeri tekan
Cara
inspeksi hidung bagian dalam
1.
Duduk menghadap
pasien
2.
Pasang lampu kepala
3.
Atur lampu sehingga
tepat menerangi lubang hidung
4.
Elevasikan ujung
hidung pasien dengan cara menekan hidung secara lembut dengan ibu jari,
kemudian amati bagian anterior lubang hidung
5.
Amati posisi septum
nasi dan kemungkinan adanya perfusi
6.
Amati bagian konka
nasalis inferior
7.
Pasang ujung
spekulum pada lubang hidung sehingga rongga hidung dapat diamati
8.
Untuk memudahkan
pengamatan pada dasar hidung, atur posisi kepala sedikit mengadah
9.
Dorong kepala
mengadah sehingga bagian rongga atas hidung mudah diamati
10. Amati bentuk dan posisi septum, kartilago, dan
dinding-dinding rongga hidung serta selaput lendir pada rongga hidung
11. Bila sudah selesai, lepas spekulum secara perlahan-lahan
Cara
pengkajian kepatenan jalan nafas
1.
Duduk dihadapan
pasien
2.
Gunakan satu tangan
untuk menutup satu lubang hidung pasien, minta pasien menghembuskan udara dari
lubang hidung yang tidak di tutup dan rasakan embusan udara tersebut. Normalnya
udara dapat dihembuskan dengan mudah dan dapat dirasakan dengan jelas
3.
Kaji lubang hidung
sebelahnya
-
Mulu dan Faring
Inspeksi
1.
Bantu pasien duduk
berhadapan dan tinggi yang sejajar dengan anda
2.
Amati bibir untuk
mengetahui adanya kelainan kongenital, bibir sumbing, warna bibir, ulkus, lesi
dan massa
3.
Lanjutkan
pengamatan pada gigi dan anjurkan pasien membuka mulut
4.
Atur pencahayaan
yang memadai dan bila diperlukan gunakan penekan lidah agar gigi agar tampak
lebih jelas
5.
Amati posisi, jarak,
gigi rahang atas dan bawah, ukuran warna, lesi, atau adanya tumor pada setiap
gigi. Amati juga akar-akar gigi dan gusi secara khusus
6.
Periksa setiap gigi
dengan cara mengetuk secara sistematis, bandingkan gigi bagian kiri, kanan,
atas dan bawah serta anjurkan pasien untuk memberitahu bila merasa nyeri
sewaktu gigi diketuk
7.
Perhatikan pula
ciri-ciri umum sewaktu melakukan pengkajian antara lain kebersihan mulut dan
bau mulut
8.
Lanjutkan
pengamatan pada lidah dan perhatikan kesimetrisannya. Minta pasien menjulurkan
lidah dan amati kelurusannya, warna, ulkus, dan setiap ada kelainan
9.
Amati warna, adanya
pembengkakan, tumor, sekresi, peradangan, ulkus, dan perdarahan pada selaput
lendir semua bagian mulut secara sistematis
10. Beri kesempatan pasien istrahat dengan menutup mulut
sejenak bila capai, lalu lanjutkan inspeksi paring dengan menganjurkan pasien
membuka mulut dan menekan lidah pasien kebawah sewaktu pasien berkata “ah”.
Amati kesimetrisan uvula pada faring
Cara
Palpasi mulut
1.
Atur posisi pasien
duduk menghadap anda
2.
Anjurkan pasien
membuka mulut
3.
Pegang pipi di
antara ibu jari dan jari telunjuk (jari telunjuk berada didalam). Palpasi pipi
secara sistematis dan perhatiikan adanya tumor atau pembengkakan. Bila ada
pembengkakan, tentukan menurut ukuran, konsistensi, hubungan dengan daerah
sekitarnya dan adanya nyeri.
4.
Lanjutkan palpasi
pada palatumdengan jari telunjuk dan rasakan adanya pembengkakan dan fisura
5.
Palpasi dasar mulut
dengan cara meminta pasien mengatakan “el”, kemudian lakukan palpasi pada dasar
mulut secara sitematis dengan jari telunjuk kanan, bila diperlukan beri sedikit
penekanan dengan ibu jari dari bawah dagu untuk mempermudah palpasi. Catat bila
didapatkan pembengkakan
6.
Palpasi lidah
dengan cara pasien menjulurkan lidah, pegang lidah dengan kasa steril
menggunakan tangan kiri. Dengan jari telunjuk tangan kanan. Lakukan palpasi
lidah terutama bagian belakang dan batas-batas lidah
-
Pemeriksaan Leher
Inspeksi leher
1.
Posisi pasien duduk
menghadap pemeriksa
2.
Inspeksi kesimetrisan
otot-otot leher, keselarasan trakea, dan benjolan pada dasar leher serta vena
jugular dan arteri karotid
3.
Mintalah pasien untuk : menundukkan kepala sehingga
dagu menempel ke dada, dan menegadahkan kepala kebelakang, perhatikan dengan
teliti area leher dimana nodus tersebar. Bandingkan kedua sisi tersebut
4.
Menoleh
ke kiri -kanan dan kesamping sehingga telinga menyentuh bahu. Perhatikan
fungsi otot-otot sternomastoideus dan trapesius
5.
Minta pasien
menengadahkan kepala, perhatikan adanya pembesaran pada kelenjar tiroid.
Selanjutnya minta pasien menelan ludah , perhatikan gerakan pada leher depan
daerah kelenjar tiroid , ada tidaknya massa dan kesimetrisan
Palpasi
leher
1.
Pasien
posisi duduk santai dan pemeriksa dibelakangnya
2.
Pasien
menundukan kepala sedikit atau mengarah kesisi pemeriksa untuk merelaksasikan
jaringan dan otot-otot
3.
Palpasi
lembut dengan 3 jari tangan masing-masing nodus limfe dengan gerakan memutar.
Periksa masing-masing nodus limfe dengan gerakan memutar. Periksa tiap nodus
dengan urutan sebagai berikut :
·
Nodus
oksipital pada dasar tengkorak,
·
Nodus
aurikel poterior diatas mastoideus,
·
Nodus
preaurikular tepat didepan telinga,
·
Nodus tonsiliar pada
sudut mandikula,
·
Nodus
submaksilaris, dan nodus sunmental pada garis tengah dibelakang ujung mandibula
4.
Bandingan kedua sisi leher,
Periksa ukuran, bentuk, garis luar, gerakan, konsistensi dan rasa nyeri yang
timbul.
5.
Jangan gunakan tekanan
berlebihan saat mempalpasi karena nodus kecil dapat terlewati.
6.
Lanjutkan palpasi nodus
servikal superfisial, nodus servikal posterior, nodus servikal profunda, dan
nodus supraklavikular yang terletak pada sudut yang dibentuk oleh klavikula dan
otot sternomastoideus
7.
Palpasi trakea terhadap posisi
tengahnya dengan menyelipkan ibujari dan jari telunjuk di masing-masing sisi
pada cekungan suprasternal. Bandingkan ruang sisa antara trakea dan otot
sternokleidomastoideus
8.
Untuk memeriksa kelenjar tiroid
dengan posisi dari belakang. lakukan palpasi ringan dengan 2 jari dari tangan
kanan kiri dibawah kartilago krikoid.
9.
Beri pasien segelas air, minta
pasien menundukan dagu dan mengisap sedikit air dan menelannya, rasakan gerakan
istmus tiroid.
10.
Dengan lembut gunakan dua jari
untuk menggerakkan trakea kesatu sisi dan minta pasien untuk menelan lagi.
Palpasi badan lobus utama dan kemudian palpasi tepi lateral dari kelenjar.
11.
Ulangi prosedur untuk lobus
yang berlawanan.
12.
Informasikan hasil
pemeriksaan pada pasien dan catat pada status
Pembesaran nodus limfe dapat menandakan infeksi setempat atau
sistemik. Nodus yang membesar dengan cepat dan seharusnya diperiksa lebih
teliti. Nodus limfe kadang-kadang tetap membesar setelah adanya infeksi tetapi
biasanya tidak nyeri. Kelenjar Tiroid pada dasar terlebar berkisar 4 cm,
pembesaran kelenjar tiroid mengindikasikan adanya disfungsi atau tumor kelenjar
tiroid. pembesaran tiroid yang nyeri tekan menandakan infeksi. Perubahan posisi
lateral trakea mungkin akibat dari suatu massa dalam leher atau mediastinum
atau kelainan paru-paru.
-
Pemeriksaan Trakhea
1.
Posisi pasien duduk tegak
menghadap lurus kedepan dengan leher terbuka
2.
Posisi pemeriksa di depan
pasien agak kesamping.
3.
Leher pasien sedikit fleksi
sehingga otot sternokleidomastoideus relaksasi.
4.
Posisi dagu pasien harus
digaris tengah.
5.
Perhatikan bagian bawah trachea
sebelum masuk dalam rongga dada, bagian ini paling mudah bergerak.
6.
Pemeriksa dengan menggunakan
ujung jari telunjuk yang ditekankan lembut kedalam lekukan suprasternal tepat
dimedial dari sendi sternoklavikularis bergantian dikedua sisi trachea
7.
Keadaan normal bila ujung jari
hanya menyentuh jaringan lunak disebelah menyebelah trakhea.
8.
Bila ujung jari menyentuh
tulang rawan trakhea tidak digaris median maka deviasi trakhea kearah tersebut,
sedangkan sisi lain hanya menyentuh jaringan lunak.
9.
Informasikan hasil pemeriksaan pada pasien dan catat pada status
-
Pemeriksaan Dada (Thorax)
Pemeriksaan dada adalah untuk mendapatkan kesan dari bentuk dan
fungsi dari dada dan organ di dalamnya. Pemeriksaan dilakukan dengan cara
inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
Pada pemeriksaan dada yang perlu diperhatikan antara lain :
Pada pemeriksaan dada yang perlu diperhatikan antara lain :
1.
Posisi pasien diusahakan duduk
sama tinggi dengan pemeriksa atau berbaring tergantung bagian mana yang akan
diperiksa.
2.
Daerah dada yang akan
diperiksa harus terbuka
3.
Usahakan keadaan pasien santai
dan relaksasi untuk mengendorkan otot-otot, terutama otot pernapasan
4.
Usahakan pemeriksa untuk tidak
kontak langsung dengan pernapasan pasien, untuk menghindari penularan melalui
pernapasan, caranya dengan meminta pasien memalingkan muka ke arah samping
Inspeksi dinding dada
1.
Posisi pasien duduk sama tinggi
dengan pemeriksa atau berbaring
2.
Bila pasien duduk, pemeriksaan
pada dada depan, kedua tangan pasien diletakkan di paha atau pinggang. Untuk
pemeriksaan bagian belakang dada, kedua lengan disilangkan didepan dada atau
tangan kanan dibahu kiri dan tangan kiri dibahu kanan.
3.
Bila pasien berbaring posisi
lengan pada masing- masing sisi tubuh
4.
Secara keseluruhan perhatikan
bentuk dan ukuran dinding dada, deviasi, tulang iga, ruang antar iga, retraksi,
pulsasi, bendungan vena dan penonjolan epigastrium.
5.
Pemeriksaan dari depan
perhatikan klavikula, fossa supra/infraklavikula, lokasi iga pada kedua sisi
6.
Pemeriksaan dari belakang
perhatikan vertebra servikalis 7, bentuk skapula, ujung bawah skapula setinggi
v. torakalis 8 dan bentuk atau jalannya kolumna vertebralis
Palpasi
dada
·
Palpasi gerakan diafragma
1.
Posisi pasien berbaring
terlentang menghadap pemeriksa.
2.
Posisi lengan pasien
disamping dan sejajar dengan badan.
3.
Letakan kedua telapak
tangan pemeriksa dengan merenggangkan jari-jari pada dinding dada depan bagian
bawah pasien.
4.
Letakkan sedemikian
rupa sehingga kedua ujung ibu jari pemeriksa bertemu di ujung tulang iga depan
bagian bawah.
5.
Pasien diminta bernapas
dalam dan kuat
6.
Gerakan diafragma
normal, bila tulang iga depan bagian bawah terangkat pada waktu inspirasi .
·
Palpasi posisi tulang iga (kosta)
1.
Posisi pasien duduk atau tidur
terlentang dan berhadapan dengan pemeriksa
2.
Bila duduk posisi kedua
tangan pasien dipaha atau dipinggang, bila tidur terlentang posisi kedua
tangan disamping dan sejajar dengan badan.
3.
Lakukan palpasi dengan memakai
jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan
4.
Palpasilah mulai dari cekungan
suprasternalis ke bawah sepanjang tulang dada
5.
Carilah bagian yang paling
menonjol (angulus lodovisi) kira- kira 5 cm dibawah fossa suprasternalis yaitu
sudut pertemuan antara manubrium sterni dan korpus sterni dimana ujung tulang
iga kedua melekat.
6.
Dari angulus lodovisi, tentukan
pula letak tulang iga pertama kearah atas/ superior dan untuk tulang iga ketiga
dan seterusnya kearah bawah/ inferior.
·
Palpasi tulang belakang (vertebra)
1.
Posisi pasien duduk dengan
kedua tangan dipaha atau dipinggang sambil menundukkan kepala dan
pemeriksa dibelakang pasien
2.
Pemeriksa melakukan palpasi
dengan jari tangan kedua dan ketiga sepanjang tulang belakang bagian atas
(leher bawah)
3.
Rasakanlah bagian yang paling
menonjol pada leher bagian bawah, inilah yang disebut prosesus spinosus
servikalis ketujuh.( C7 )
4.
Dari prosesus servikalis spinosus ketujuh ( C7 ),
kearah superior yaitu prosesus spinosus servikalis keenam dan seterusnya. Bila
kearah inferior yaitu prosesus spinosus thorakalis pertama, kedua dan
seterusnya.
·
Palpasi iktus jantung
1.
Posisi pasien duduk atau tidur
terlentang dan berhadapan dengan pemeriksa
2.
Bila duduk posisi kedua
tangan pasien dipaha atau dipinggang, bila tidur terlentang posisi kedua
tangan disamping dan sejajar dengan badan.
3.
Tentukan ruang antar iga ke-5
kiri yaitu ruang antara tulang iga ke-5 dan ke-6.
4.
Tentukan garis midklavikula
kiri yaitu dengan menarik garis lurus yang memotong pertengahan tulang
klavikula kearah inferior tubuh.
5.
Tentukan letak iktus dengan
telapak tangan kanan pada dinding dada setinggi ruang antar iga ke-5 digaris
midklavikula
6.
Apabila ada getaran pada
telapak tangan, kemudian lepaskan telapak tangan dari dinding dada.
7.
Untuk mempertajam getaran
gunakan jari ke-2 dan ke-3 tangan kanan
8.
Tentukan getaran maksimumnya,
disinilah letak iktus kordis.
·
Palpasi sensasi rasa nyeri dada
1.
Posisi pasien duduk atau tidur
terlentang dan berhadapan dengan pemeriksa
2.
Bila duduk posisi kedua
tangan pasien dipaha atau dipinggang, bila tidur terlentang posisi kedua
tangan disamping dan sejajar dengan badan.
3.
Tentukan daerah asal nyeri pada
dinding dada
4.
Dengan menggunakan ujung ibu
jari tangan kanan tekanlah dengan perlahan tulang iga atau ruang antar iga dari
luar menuju tempat asal nyeri
5.
Rasa nyeri akan bertambah
akibat tekanan ibu jari, nyeri dapat disebabkan fraktur tulang iga, fibrosis
otot antar iga, pleuritis local dan iritasi akar syaraf
·
Palpasi pernapasan dada
1.
Posisi pasien duduk dengan
kedua tangan dipaha atau dipinggang berhadapan dengan pemeriksa
2.
Letakkan kedua telapak tangan
pemeriksa pada dinding dada pasien sesuai posisi yaitu telapak tangan kanan
pemeriksa ke dinding dada kiri pasien, sedangkan telapak kiri pemeriksa pada
dinding dada kanan pasien
3.
Letakkan jari telunjuk dibawah
tulang klavikula dan jari- jari lainnya disebar sedemikian rupa sehingga
masing- masing berada di tulang iga berikutnya
4.
Pasien diminta bernapas dalam
dan kuat dan perhatikan gerakan jari- jari
Pada orang muda jari-jari akan terangkat mulai dari atas disusul oleh jari- jari dibawahnya secara berturut-turut seperti membuka kipas. Sedangkan pada orang tua semua jari-jari bergerak bersama-sama
Pada orang muda jari-jari akan terangkat mulai dari atas disusul oleh jari- jari dibawahnya secara berturut-turut seperti membuka kipas. Sedangkan pada orang tua semua jari-jari bergerak bersama-sama
·
Palpasi getaran suara paru
1.
Posisi pasien duduk
untuk pemeriksaan dada depan dan posisi duduk kedua tangan dipaha atau
dipinggang.
2.
Sedangkan posisi
pasien tidur miring untuk pemeriksaan dada belakang sesuai dengan keadaan
pasien. Pada posisi tidur terlentang / miring kedua tangan disamping dan
sejajar dengan badan
3.
Letakkan
sisi ulnar tangan kanan pemeriksa di dada kiri pasien dan sebaliknya
4.
Minta pasien
mengucapkan kata- kata seperti satu, dua, … dst berulang- ulang
5.
Pemeriksaan dilakukan
mulai dari dada atas sampai dada bawah
6.
Perhatikan
intensitas getaran suara dan bandingkan kanan dan kiri. Normal getaran kedua
sisi sama, kecuali apeks kanan karena letaknya dekat dengan bronkus. Fremitus
raba meningkat apabila terdapat konsolidasi paru, fibrosis paru selama bronkus
masih tetap terbuka . Fremitus suara menurun bila ada cairan/ udara dalam
pleura dan sumbatan bronkus
Perkusi Dada
Tujuan untuk mengetahui batas, ukuran, posisi dan kualitas jaringan
di dalamnya. Perkusi hanya menembus sedalam 5 – 7 cm, sehingga tidak dapat
mendeteksi kelainan yang letaknya dalam. Lakukan perkusi secara sistimatis dari
atas ke bawah dengan membandingkan kanan dan kiri.
·
Perkusi dada depan
1.
Posisi pasien duduk
dengan kedua tangan dipaha atau dipinggang dan berhadapan dengan pemeriksa
2.
Lakukan perkusi secara
dalam pada fossa supraklavikula kanan, kemudian lanjutkan kebagian dada kiri .
3.
Selanjutnya
lokasi perkusi bergeser kebawah sekitar 2- 3 cm, Begitulah seterusnya
kebawah sampai batas atas abdomen
4.
Mintalah pasien untuk
mengangkat kedua lengan untuk melakukan perkusi aksila dari atas kebawah di
kanan dan kiri
5.
Bandingkan getaran
suara yang dihasilkan oleh perkusi
normal suara dada/ paru adalah sonor. Bila redup kemungkinan adanya tumor, cairan, sekret. Suara hipersonor akibat adanya udara dalam pleura.
normal suara dada/ paru adalah sonor. Bila redup kemungkinan adanya tumor, cairan, sekret. Suara hipersonor akibat adanya udara dalam pleura.
·
Perkusi dada belakang
1.
Posisi pasien duduk dengan
kedua tangan dipaha atau dipinggang dan membelakangi pemeriksa
2.
Lakukan perkusi secara dalam
pada supraskapula dada belakang kanan, kemudian lanjutkan kebagian dada kiri .
3.
Selanjutnya lokasi perkusi bergeser kebawah sekitar 2- 3 cm,
Begitulah seterusnya kebawah sampai batas atas abdomen
4.
Bandingkan suara yang
dihasilkan oleh perkusi dada kanan dan kiri
Suara sonor paru kanan bila diperkusi kebawah akan lebih cepat menghilang , karena adanya keredupan hati.
Suara sonor paru kanan bila diperkusi kebawah akan lebih cepat menghilang , karena adanya keredupan hati.
·
Perkusi batas paru dan hati
1.
Posisi pasien duduk dengan
kedua tangan disamping tubuh dan berhadapan dengan pemeriksa .
2.
Lakukan perkusi pada dada kanan
depan dari atas kebawah secara sistimatis.
3.
Posisi pasien dirubah sehingga membelakangi pemeriksa, selanjutnya
lakukan perkusi pada bagian dada belakang dari atas kebawah secara
sistimatis
4.
Pada daerah batas paru dan hati
terjadi perubahan suara, dari sonor menjadi pekak/ redup. Normal batas paru
bagian depan terletak antara kosta 5 dan 6, sedangkan paru bagian belakang
setinggi prosesus spinosus vertebra torakalis 10 atau 11.
AUSKULTASI
DADA
Auskultasi
paru
Tujuan pemeriksaan auskultasi paru adalah untuk
menentukan adanya perubahan dalam saluran napas dan pengembangan paru. Dengan
auskultasi dapat didengarkan suara napas, suara tambahan, suara bisik dan suara
percakapan.
Suara napas adalah suara yang dihasilkan aliran udara
yang masuk dan keluar paru pada waktu bernapas. Pada proses pernapasan terjadi
pusaran/ eddies dan benturan/ turbulensi pada bronkus dan percabangannya.
Getaran dihantarkan melalui lumen dan dinding bronkus. Pusaran dan benturan
lebih banyak pada waktu inspirasi/ menarik napas dibanding ekspirasi/
mengeluarkan napas, hal inilah yang menyebabkan perbedaan suara antara
inspirasi dan ekspirasi. Suara napas ada 3 macam yaitu suara napas normal/
vesikuler, suara napas campuran/ bronkovesikuler dan suara napas
bronkial. Suara napas vesikuler bernada rendah, terdengar lebih panjang
pada fase inspirasi daripada ekspirasi dan kedua fase bersambung/ tidak ada
silent gaps. Suara napas bronkial bernada tinggi dengan fase ekspirasi lebih
lama daripada inspirasi dan terputus/ silent gaps. Sedangkan kombinasi suara
nada tinggi dengan inspirasi dan ekspirasi yang jelas dan tidak ada silent gaps
disebut bronkovesikuler/ vesikobronkial. Suara napas vesikuler
pada kedua paru normal dapat meningkat pada anak, orang kurus dan latihan
jasmani,. Bila salah satu meningkat berarti ada kelainan pada salah satu paru.
Suara vesikuler melemah kemungkinan adanya cairan, udara, jaringan padat pada
rongga pleura dan keadaan patologi paru. Suara napas
bronkial tidak terdengar pada paru normal, baru terdengar bila paru
menjadi padat, misalkan konsolidasi. Suara napas asmatik yaitu inspirasi normal/ pendek
diikuti ekspirasi lebih lama dengan nada lebih tinggi disertai wheeze.
Suara tambahan dari paru adalah suara yang tidak
terdengar pada keadaan paru sehat. Suara ini timbul akibat dari adanya secret
didalam saluran napas, penyempitan dari lumen saluran napas dan terbukanya
acinus/ alveoli yang sebelumnya kolap. Karena banyaknya istilah suara
tambahan, kita pakai saja istilah “ Ronki” yang dibagi menjadi 2 macam
yaitu ronki basah dengan suara terputus- putus dan ronki kering dengan suara
tidak terputus. Ronki basah kasar seperti suara gelembung udara besar yang pecah,
terdengar pada saluran napas besar bila terisi banyak secret. Ronki basah
sedang seperti suara gelembung kecil yang pecah, terdengar bila adanya secret
pada saluaran napas kecil dan sedang, biasanya pada bronkiektasis dan
bronkopneumonia. Ronki basah halus tidak mempunyai sifat gelembung lagi,
terdengar seperti gesekan rambut, biasanya pada pneumonia dini. Ronki kering
lebih mudah didengar pada fase ekspirasi, karena saluran napasnya menyempit.
Ronki kering bernada tinggi disebut sibilan, terdengar
mencicit/squacking, ronki kering akibat ada sumbatan saluran napas kecil
disebut wheeze. Ronki kering bernada rendah akibat sumbatan
sebagaian saluran napas besar disebut sonourous, terdengar seperti orang
mengerang/ grouning,. Suara tambahan lain yaitu dari gesekan pleura/ pleural friction
rub yang terdengar seperti gesekan kertas, seirama dengan pernapasan dan
terdengar jelas pada fase inspirasi, terutama bila stetoskop ditekan.
·
Auskultasi paru depan
1.
Posisi pasien duduk
dengan kedua tangan dipaha atau dipinggang dan berhadapan dengan pemeriksa
2.
Tempelkan stetoskop
pada dinding dada
3.
Mintalah pasien menarik
napas pelan- pelan dengan mulut terbuka
4.
Dengarkan satu periode inspirasi
dan ekspirasi
5.
Mulailah dari depan
diatas klavikula kiri dan teruskan kesisi dinding dada kanan
6.
Selanjutnya
geser kebawah 2- 3 cm dan seterusnya, sampai kedada bagian bawah
7.
Mintalah pasien
mengangkat lengan nya untuk pemeriksaan di daerah aksila kanan dan kiri
8.
Bandingkan suara napas
kanan dan kiri, serta dengarkan adanya suara napas tambahan
·
Auskultasi paru belakang
1.
Posisi pasien duduk dengan
kedua tangan dipaha atau dipinggang dan membelakangi pemeriksa
2.
Tempelkan kepala stetoskop pada supraskapula dada belakang kiri, dan
dengarkan dengan seksama, kemudian lanjutkan kebagian dada kanan
3.
Selanjutnya geser kebawah 2- 3 cm dan seterusnya, sampai kedada
bagian bawah
4.
Mintalah pasien mengangkat
lengan nya untuk auskultasi pada aksila posterior kanan dan kiri
5.
Bandingkan getaran suara kanan
dan kiri, dengarkan adanya suara napas tambahan
·
Auskultasi daerah jantung
1.
Posisi pasien berbaring dengan
sudut 30 derajat
2.
Mintalah pasien relak dan
bernapas biasa
3.
Tempelkn kepala stetoskop pada ictus cordis dengarkan suara
dasar jantung
4.
Bila auskultasi dengan corong
stestokop untuk daerah apek dan ruang interkosta 4 dan 5 kiri kearah sternum.
Dengan membran untuk ruang interkosta 2 kiri kearah sternum
5.
Perhatikan irama dan frekuensi
suara jantung
6.
Bedakan irama systole, diastole
dan intensitasnya
7.
Perhatikan suara tambahan yang
mungkin timbul
8.
Gabungkan auskultasi dengan
kualitas pulsus (denyut nadi)
Tentukan daerah penjalaran bising dan titik maksimumnya
Tentukan daerah penjalaran bising dan titik maksimumnya
BAB III
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Pemeriksaan klinis atau lebih dikenal dengan nama
pemeriksaan fisik adalah sebuah proses dari seorang ahli medis seperti bidan
ataupun dokter dalam memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis
penyakit. Hasil pemeriksaan fisik ini akan dicatat dalam sebuah rekam medis.
Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan
perencanaan perawatan pasien.
Biasanya, pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis,
mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak dengan urutan teknik
pemeriksaan seperti inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pada
pemeriksaan abdomen auskultasi dilakakukan setelah inspeksi baru kemudian
palpasi dan perkusi. Auskultasi dilakukan sebelum kita melakukan palpasi dan
perkusi dengan tujuan agar hasil pemeriksaan auskultasi lebih akurat karena
kita belum melakukan manipulasi terhadap abdomen.
2.
SARAN
Dalam upaya penegakkan diagnosis,
seorang klinisi harus menguasai bagaimana melakukan anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang sistematis dan benar. Banyak hal yang dapat digali pada anamnesis
sehingga dengan anamnesis yang baik seorang klinisi dapat mengarahkan
kemungkinan diagnostic pada seorang penderita, sehingga dengan melakukannya
secara cermat dan sistematis. Pemeriksaan fisik yang peretama kali dilakukan
adalah memeriksa keadaan umum dan tanda vital, kemudian dilakukan pemeriksaan
kepala dan leher.
DAFTAR PUSTAKA
Robert. P (2007). Pengkajian Fisik Keperawatan Edisi II
Bates, B. (1991). A Guide to Physical Examination and History
Taking (5th ed). New York: J.B. Lippincot.
http//www.goegle.com//pengkajian_fisik.co.ac