ASUHAN
KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CEDERA KEPALA BERAT ( CKB )
1.1. DEFINISI CIDERA
KEPALA
Cidera kepala adalah keadaan dimana
struktur lapisan otak dari lapisan kulit kepala tulang tengkorak, durameter,
pembuluh darah serta otaknya mengalami cidera baik yang trauma tertutup maupun
trauma tembus.
Cidera kepala merupakan salah satu
penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian
besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. Di samping penanganan di lokasi
kejadian dan selama transportasi korban ke rumah sakit, penilaian dan tindakan
awal di ruang gawat darurat sangat menentukan penatalaksanaan dan prognonis
selanjutnya.
Tindakan resusitasi (rangsang jantung),
anamnesis (riwayat orang sakit dan penyakitnya pada masa lalu, atau mengenal
sejarah suatu penyakit sampai ke titik dimana catatan itu diambil agar dapat
ditegakkan diagnosa yang tepat untuk kepentingan terapi), dan pemeriksaan fisik
umum serta neurologis harus dilakukan secara serentak. Pendekatan yang
sistematis dapat mengurangi kemungkinan terlewatinya evaluasi unsur vital.
Tingkat keparahan cidera kepala menjadi ringan segera ditentukan saat pasien
tiba di rumah sakit.
Cidera kepala dibagi menjadi tiga yaitu
cidera kepala ringan, sedang dan berat. Cidera kepala ringan adalah
trauma kepala dengan skala Glasgow Coma Scale 15 (sadar penuh) tidak ada
kehilangan kesadaran, mengeluh pusing dan nyeri kepala dapat terjadi abrasi,
lacerasi, haematoma kepala dan tidak ada kriteria cidera sedang dan berat. Sedangkan
cidera berat adalah keadaan dimana struktur lapisan otak mengalami
cidera berkaitan dengan edema, hyperemia, hipoksia dimana pasien tidak dapat
mengikuti perintah, coma (GSC < 8) dan tidak dapat membuka mata.
Cidera kepala dapat diklasifikasikan berdasarkan
mekanisme, keparahan, dan morfologi cidera:
1.
Mekanisme: berdasarkan adanya penetrasi durameter
· Trauma
tumpul: kecepatan tinggi (tabrakan otomobil)
Kecepatan rendah (terjatuh, dipukul)
· Taruma
tembus: (luka tembus peluru dan cidera tembus lainnya)
2.
Keparahan cidera
-
Ringan : Skala koma Glasgow (Glasgow Coma
Scale, GCS) 14-15
-
Sedang : GCS 9 – 13
-
Berat : GCS 3 – 8
3.
Morfologi
- Fraktur
tengkorak: kranium, linear/stelatum, depresi/non depresi, terbuka/tertutup.
Basis: dengan / tanpa kebocoran cairan serebrospinal,
dengan / tanpa kelumpuhan nervus VII.
- Lesi
Intrakranial: Fokal, Epidural, Intraserebral
Difus: konkusi ringan, konkusi klasik, cidera aksonal
difus.
Dalam banyak aspek, pengelolaan cidera
kepala pada anak serupa dnegan dewasa. Namun dalam beberapa hal sedikit berbeda
atau sangat khusus. Anak-anak terutama yang berusia 2 tahun ke bawah rentan
terhadap komplikasi dan sekuele berat setelah cidera kepala berat. Banyak dari
komplikasi tersbut berkaitan dengan cidera sekunder otak seperti edema,
hiperemia, hipoksia.
Mekanisme cidera kepala berat berupa
dengan dewasa, namun anak yang tertabrak kendaraan 3 kali lebih sering dari
dewasa. Kecelakaan sepeda juga sering, namun akibat jatuh tidak sesering
dewasa. Walau begitu, derajat kerusakan yang diakibatkan oleh jatuh tidak sama
dengan dewasa.
1.2. TANDA DAN GEJALA
CIDERA KEPALA BERAT
A. Gejala
Merasa lemah, lesu, lelah, hilang
keseimbangan, perubahan tekanan darah atau normal perubahan frekuensi jantung,
perubahan tingkah laku atau kepribadian, inkontenensia kandung kemih / khusus
mengalami gangguan fungsi, mual, muntah, dan mengalami perubahan selera makan /
minum, kehilangan kesadaran, amnesia, vertigo, syncope, tinnitus, kehilangan
pendengaran, perubahan penglihatan, gangguan pengecapan, sakit kepala dengan
intensitas dan lokasi yang berbeda, trauma baru karena kecelakaan konfusi,
sukar bicara, dan kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
B. Tanda
Cidera kepala
berat mempunyai tanda yang variabel yaitu:
|
-
|
Perubahan
kesadaran
|
-
|
Depresi
|
|
-
|
Latergi
|
-
|
Muntah
(mungkin proyektif)
|
|
-
|
Ataksia atau
cara berjalan tidak
Tetap
|
-
|
Gangguan
menelan
|
|
-
|
Perubahan
kesadaran sampai koma
|
||
|
-
|
Cidera
orthopedic
|
||
|
-
|
Kehilangan
tonus otot
|
-
|
Perubahan
status mental
|
|
-
|
Cemas
|
-
|
Perubahan
pupil
|
|
-
|
Mudah
tersinggung
|
-
|
Kehilangan
penginderaan
|
|
-
|
Delirium
(suatu kondisi dimana
kesadaran
menjadi kabur dan
disertai
ilusi atau halusinasi)
|
-
|
Kejang
|
|
-
|
Kehilangan
sensasi sebagian tubuh
|
||
|
-
|
Agitasi
|
-
|
Wajah
menyeringi
|
|
-
|
Bingung
|
-
|
Respon
menarik pada rangsang
|
|
-
|
Perubahan
pola nafas
|
-
|
Nyeri yang
hebat
|
|
-
|
Nafas bunyi
rochi
|
-
|
Gelisah
|
|
-
|
Fraktur atau
dislokasi
|
-
|
Gangguan
rentang gerak
|
|
-
|
Gangguan
penglihatan
|
-
|
Gangguan
dalam regulasi suhu tubuh
|
|
-
|
Gangguan
kognitif
|
||
|
-
|
Afasia
motoris atau sensoris
|
||
|
-
|
Bicara tanpa
arti disartria anomia
|
||
1.3. ETIOLOGI CIDERA
KEPALA BERAT
Menurut Hudak dan Gallo (1996: 108)
mendeskripsikan bahwa penyebab cidera kepala adalah karena adanya trauma
rudapaksa yang dibedakan menjadi 2 faktor yaitu:
1. Trauma
Primer
Terjadi karena benturan langsung atau tidak langsung
(akselarasi dan deselerasi).
2. Trauma
Sekunder
Terjadi akibat dari trauma saraf (melalui, akson) yang
meluas, hipertensi intrakranial, hipoksia, hiperkapnea, atau hipotensi
siskemik.
1.4. PATOFISIOLOGI
CIDERA KEPALA BERAT
Trauma pada kepala menyebabkan
tengkorak beserta isinya bergetar, kerusakan yang terjadi tergantung pada
besarnya getaran makin besar getaran makin besar kerusakan yang timbul, getaran
dari benturan akan diteruskan menuju Galia Aponeurotika sehingga banyak energi
yang diserap oleh perlindungan otak, hal itu menyebabkan pembuluh darah robek
sehingga akan menyebabkan haematoma epidural, subdura maupun intracranial,
perdarahan tersebut juga akan mempengaruhi pada sirkulasi darah ke otak menurun
sehingga suplai oksigen berkurang dan terjadi hipoksia jaringan akan
menyebabkan edema cerebral. Akibat dari haematoma diatas akan menyebabkan
distorsi pada otak, karena isi otak terdorong ke arah yang berlawanan yang
berakibat pada kenaikan TIK (Tekanan Intrakranial) merangsang kelenjar
Pitultary dan Steroid adrenal sehingga sekresi asam lambung meningkat akibatnya
timbul rasa mual dan muntah dan anoreksia sehingga masukan nutrisi kurang.
1.5. PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
1.
CT-Scan
Mengidentifikasi adanya hemorragic, ukuran ventrikuler,
infark pada jaringan mati.
2. Foto
tengkorak atau cranium
Untuk mengetahui adanya fraktur pada tengkorak.
3. MRI
(Magnetic Resonan Imaging)
Gunanya sebagai penginderaan yang mempergunakan gelombang
elektomagnetik.
4. Laboratorium
Kimia darah: mengetahui ketidakseimbangan elektrolit.
1.6. KOMPLIKASI
CIDERA KEPALA BERAT
1. Kebocoran
cairan cerebrospinal, dapat disebabkan oleh rusaknya leptomeningen dan
terjadi pada 2 – 6 % pasien dengan cidera kepala tertutup. Kebocoran ini
berhenti spontan dengan elevasi kepala setelah beberapa hari pada 85 % pasien.
Drainase lumbai dapat mempercepat proses ini. Walaupun pasien ini memiliki
resiko meningitis yang meningkat (biasanya pneumolok), pemberian antibiotik
profilaksis masih kontoversial. Otorea atau rinorea cairan cerebrospinal yang
menentap atau meningitis berulang merupakan indikasi untuk operasi reparatif.
2. Fistel
Karotis-Kavernosusu, ditandai oleh trias gejala: eksolftalmos, kemosisi dan
bruit orbital dapat timbul segera atau beberapa hari setelah cidera. Anglografi
diperlukan untuk konformasi diagnosis dan terapi dengan oklusi balon
endovaskular merupakan cara yang paling efektif dan dapat mencegah hilangnya
penglihatan yang permanen.
3. Diabetes
Incipidus, dapat disebabkan oleh kerusakan traumatik pada tangkai
hipofisis, menyebabkan penghentian sekresi hormon antidiuretik. Pasien
mengekskresikan sejumlah besar volume urin encer, menimbulkan hipernatremia dan
deplesi volum. Vasopresin arginin (pitressin) 5 – 10 unit intravena,
intramuscular, atau subkutan setiap 4 – 6 jam atau desmopressin asetat subkutan
atau intravena 2 – 4 mg setiap 12 jam, diberikan untuk mempertahankan
pengeluaran urin kurang dari 200 ml/jam, dan volume diganti dengan cairan
hipotonis (0,25 5 atau 0,45 % salin) tergantung pada berat ringannya
hipernatremia.
4. Kejang
Pascatrauma, dapat terjadi segera (dalam 24 jam pertama), dini (minggu
pertama) atau lanjut (setelah satu minggu). Kejang segera tidak merupakan
predesposisi untuk kejang lanjut. Kejang dini menunjukkan resiko yang meningkat
untuk kejang lanjut, dan pasien ini harus dipertahankan dengan antikonvulsan.
Insidens keseluruhan epilepsi pascatrauma lanjut (berulang, tanpa provokasi)
setelah cidera kepala tertutup adalah 5 %; resiko mendekati 20 % pada pasien
dengan perdarahan intrakranial ayau fraktur depresi.
5. Pneumonia,
radang paru-paru disertai eksudasi dan konsolidasi.
6.
Meningitis Ventrikulitis
7.
Infeksi saluran kemih
8.
Perdarahan gastrointestinal
9. Sepsis
asam negatif
10. Kebocoran CSS
1.7. PENATALAKSANAAN
1.
Pemeriksaan Fisik
Hal penting yang pertama kali dinilai
adalah status fungsi vital dan status kesadaran pasien. Ini harus dilakukan
sesegera mungkin bahkan mendahului anamnesis yang teliti.
a.
Status fungsi vital
Seperti halnya dengan kasus kedaruratan lainnya, hal
terpenting yang dinilai adalah:
- Jalan
nafas
-
Pernafasan
- Nadi
dan tekanan darah, sirkulasi jalan nafas harus segera dibersihkan dari benda asing,
lendir atau darah, bila perlu segera dipasang pipa naso/orofuring, diikuti
dengan pemberian oksigen. Manipulasi leher hams berhati-hati bila ada riwayat /
dugaan trauma servikal (whiplash injury), Jamb dengan kepala dibawa atau trauma
tengkuk. Gangguan yang mungkin ditemukan dapat berupa:
· Pernafasan
cheyne stokes
· Pernafasan
blot / hiperventilasi
· Pernafasan
taksik yang menggambarkan makin memburuknya tingkat kesadaran.
Pemantauan fungsi sirkulasi dilakukan
untuk menduga adanya shock, terutama bila terdapat juga trauma di tempat lain,
misalnya trauma thorax, trauma abdomen, fraktur ekstremitas. Selain itu
peninggian tekanan darah yang disertai dengan melambatnya frekuensi nadi dapat
merupakan gejala awal peninggian tekanan intracranial, yang biasanya dalam fase
akut disebabkan oleh hematoma epidural.
2. Status
kesadaran, dewasa ini penilaian status kesadaran secara kualitatif, terutama
pada kasus cidera kepala sudah mulai ditinggalkan karena subyektivitas
pemeriksa; stulah apatik, samnolen, spoor, coma. Sebaliknya dihindari atau
disertai dengan penilaian / perbandingan secara ketat. Cara penilaian kesadaran
yang luas digunakan ialah dengan skala koma Galsgow. Cara ini sederhana tanpa
memerlukan alat diagnostik sehingga dapat digunakan baik oleh dokter maupun
perawat. Melalui cara ini, perkembangan / perubahan kesadaran dari waktu ke
waktu dapat diikuti secara akurat.
Skala koma Glasgow adalah berdasarkan
penilaian / pemeriksaan atas tiga parameter, yaitu:
a.
Buka Mata (E)
4 : Spontan
3 : Dengan perintah
2 : Dengan rangsang nyeri
1 : Tidak ada reaksi
b. Respon
Motorik Terbaik (M)
6 : Mengikuti perintah
5 : Melokalisir nyeri
4 : Menghindari nyeri
3 : Fleksi abnormal
2 : Ekstensi abnormal
1 : Tidak ada gerakan
c.
Respon Verbal Terbaik (V)
5 : Orientasi baik dan sesuai
4 : Disorientasi tempat dan waktu
3 : Bicara kacau
2 : Mengerang
1 : Tidak ada suara
3. Status
Neurologik lain
Selain status kesadaran di atas
pemeriksaan neurologik pada kasus trauma kapitis trauma ditujukan untuk
mendeteksi adanya tanda-tanda fokal yang dapat menunjukkan adanya kelainan
fokal, dalam hal ini perdarahan intracranial. Tanda fokal tersebut adalah:
-
Anisokori (ketidaksamaan ukuran diameter kedua pupil mata)
- Paresis
/ Parahisis (Paralisis ringan atau tidak lengkap)
- Reties
patologik sesisi
1.8. PENGOBATAN
1.
Memperbaiki / mempertahankan fungsi vital agar jalan nafas selalu bebas,
bersihkan lendir, dan darah yang dapat menghalangi aliran udara pernafasan.
Jika perlu dipasang pipa naso / orofaring dari pemberian oksigen. Infuse
dipasang terutama untuk membuka jalur intravena: gunakan cairan NaCl 10,9 %
atau Dextrose In Saline.
2.
Mengurangi edema otak, yaitu:
-
Hiperventilasi, bertujuan untuk menurunkan PeOH darah sehingga mencegah
vasodilatasi pembuluh darah, selain itu juga dapat membantu menekan metabolisme
anaerob, sehingga dapat mengurangi kemungkinan asidosis.
- Cairan
hiperosmoler digunakan cairan Monitol 15 % atau infuse untuk menarik air dari
ruang intrase ke dalam ruang intravaskuler lalu dikeluarkan melalui Deuresis.
- Kortikosteroid
untuk menstabilkan darah otak.
-
Barbiturat untuk membius pasien sehingga metabolisme otak dapat ditekan
serendah mungkin, akibatnya kebutuhan oksigen juga akan menurun.
3.
Obat-obatan Neotropik
-
Piritinol merupakan senyawa mirip perioksin (Vit-B6) mengaktivasi metabolisme
otak dan memperbaiki struktur serta fungsi membran sel.
-
Piracetam merupakan senyawa mirip GABA – suatu neurotransmitter penting di
otak.
-
Citicholine, merupakan koenzim pembentukan lecitin di otak untuk sintesis
membra sel dan neurotransmitter di dalam otak.
-
Perawatan luka dan pencegahan dekubitus.
-
Antibiotika diberikan bila terdapat luka terbuka yang luas, trauma tembus
kepala, fraktur tengkorak yang dapat menyebabkan liquarihoe.
BAB II
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN NY. D
DENGAN CIDERA KEPALA BERAT
A. PENGKAJIAN
Pengkajian dilaksanakan di ………………
1.
BIODATA
a)
Identitas Penderita
Nama
: Ny. D
TTL
: -
Umur
: 51 tahun
Jenis
Kelamin
: Perempuan
Alamat
: -
Agama
: -
Suku
: -
Pendidikan
: -
Diagnosa
: Cidera Kepala Berat (CKB)
b)
Identitas Penanggung Jawab
Nama
: Tn. A
TTL
: -
Umur
: -
Jenis
Kelamin
: Laki-laki
Alamat
: -
Agama
: -
Suku
: -
Pendidikan
: -
Hubungan dengan Klien : Suami
Klien
2.
RIWAYAT KESEHATAN
a)
Keluhan Utama
Pasien CKB mengeluh nyeri dibagian kepala
b)
Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien dirawat selama tiga minggu dipoli penyakit dalam
setelah menderita sakit kepala yang timbul akibat pasien terjatuh dengan kepala
terbentur.
c)
Riwayat Kesehatan Dahulu :
Trauma saraf, hipertensi intracranial, hipoksia,
hiperkapnea, hipotensi siskemik.
d) Riwayat
Kesehatan Keluarga
Di keluarga pasien tidak ada yang mengalami penyakit CKB
e)
Genogram
|
|
|||||||||
|
|
|||||||||
![]() |
|||||||||
|
|
|||||||||
|
|
|||||||||
KETERANGAN :
3. POLA
FUNGSI KESEHATAN
a) Pola
Persepsi Terhadap Kesehatan
Pasien tidak menyadari bahwa nyeri
kepalanya tersebut merupakan gejala penyakit yang bisa menjadi parah sehingga
pasien tidak melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
b) Pola
Aktivitas Latihan
Aktivitas latihan selama sakit
|
AKTIVITAS
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
Mandi
|
P
|
||||
|
Berpakaian/berdandan
|
P
|
||||
|
Eliminasi
|
P
|
||||
|
Mobilisasi
ditempat tidur
|
P
|
||||
|
Pindah
|
P
|
||||
|
Makan
|
P
|
KETERANGAN
0 = Mandiri
1 = Dengan menggunakan alat buntu
2 = Dengan menggunakan bantuan
dari orang lain
3 = Dengan bantuan orang lain dan
alat bantu
4 = Tergantung total, tidak
berpartisipasi dalam beraktivitas
Pasien dalam melakukan aktivitas dibantu oleh
perawat/keluarga
c) Pola
Istirahat Tidur
Pada pasien CKB mengalami gangguan
tidur akibat cemas, gelisah dan nyeri di kepalanya.
d) Pola Nutrisi
Metabolik
Pada pasien CKB terjadi gangguan
metabolik yaitu nafsu makan klien berkurang karena tidak dapat menelan.
e) Pola
Eliminasi
BAB dan BAK klien tidak normal, dalam
BAK dan BAB pasien dipasang kateter dan pispot untuk membantu klien melakukan
pola deminasi. Inkotenesia kandung kemih/usus mengalami gangguan fungsi.
f)
Pola Kognitif Perseptual
Hilangnya sebagian penglihatan, dan
pendengaran, gangguan pengelapan, adanya vertigo, dan pasien merasakan nyeri
berat, pasien mengalami kehilangan kesadaran.
g) Pola
Peran Hubungan
1. Status
perkawinan : Sudah menikah
2.
Pekerjaan
: Pegawai Negri sipil
3.
Kualitas bekerja :
Sebelum sakit klien bekerja disalah satu Kantor Pemerintahan Yogyakarta
4. Sistem
dukungan : Suami dan keluarga
h) Pola
Nilai Kepercayaan
Klien beragama Islam, sembahyang/ibadah
dilakukan secara rutin
i)
Pola Konsep Diri
Harga
diri
: Terganggu karena tidak dapat melakukan aktivitas
Ideal
diri
: Terganggu
Identitas
diri
: Terganggu, karena merasa malu akibat penyakit yang dideritanya
Gambaran
diri
: Terganggu, karena tidak ada keyakinan bahwa dirinya akan sembuh
Peran
diri
: Terganggu, karena tidak dapat melakukan perannya dilingkungan
masyarakat dan peran dalam keluarga.
j)
Pola Seksual Reproduksi
Pasien sudah tidak mengalami ovulasi
karena telah berada pada masa menopouse
k) Pola
Koping
-
Masalah utama selama masuk RS yaitu kurangnya perawatan diri
-
Pasien kehilangan rasa percaya dirinya
-
Klien takut terhadap kekerasan
-
Pandangan terhadap masa depan klien mengalami pesimis untuk sembuh
4.
PEMERIKSAAN FISIK
a.
Tanda-Tanda Vital
Suhu
: < 37° C
Nadi
: < 60 x/menit
TD
: Sistole < 105, diastole < 60
RR
: < 16 x/menit
TB/BB
: ideal/menurun
b. Keadaan
Umum
Keadaan umum tergantung berat ringannya penyakit yang
dialami oleh pasien yaitu dari samnolen/kesadaran cenderung menurun kadang
pasien mengalami koma.
c.
Pemeriksaan Head to Toe
1. Kulit
dan Rambut
·
Inspeksi
Warna kulit
: Sawo matang, tidak ada lesi
Jumlah
rambut : Tipis,
rontok
Warna
rambut : hitam
Kebersihan rambut : kurang bersih, ada
ketombe
·
Palpasi
Suhu < 37° C
Warna kulit sawo matang, turgor kurang baik, kulit kering,
tidak ada adema
2. Kepala
·
Inspeksi
-
Bentuk simetris antara kanan dan kiri
-
Bentuk kepala lonjong
·
Palpasi
Ada nyeri tekan
3. Mata
·
Inspeksi : Bentuk bola mata pasien bulat,
kelopak mata cekung, konjungtiva pucat, lapang pandang pasien berkurang karena
adanya gangguan penglihatan yaitu penglihatannya kabur, pupil mengalami
perubahan
4.
Telinga
·
Inspeksi : Ukuran sedang, simetris antara
kanan dan kiri, ada serumen
·
Palpasi : Tidak ada benjolan
5. Hidung
·
Inspeksi : Simetris, hidung pasien kotor
·
Palpasi : Tidak ada benjolan
6. Mulut
·
Inspeksi : Mukosa bibir pasien kering,
gigi, gusi dan lidah pasien kotor karena kurang perawatan diri
7. Leher
·
Inspeksi : Bentuk leher normal, tidak ada
pembesaran kelenjar tyroid
·
Palpasi : Leher kasar, karena
kurang perawatan
8. Paru
·
Inspeksi : Pada waktu bernafas gerakan dada
kanan dan kiri tidak sama saat dipegang
·
Palpasi : Gerakan dada terlihat
tidak teratur saat inspirasi dan ekspirasi
·
Auskultasi : Saat di dengar dengan stetoskop nafas pasien terdengar
tidak teratur, adanya bunyi ronohi
·
Perkusi : Saat diketuk terdengar
bunyi sonor
9.
Abdomen
·
Inspeksi : Perut datar, simetris
·
Auskultasi : Adanya bising usus karena peristaltik tidak
teratur (5 – 35x/menit)
·
Palpasi : Tidak ada benjolan
·
Perkusi : Saat diketuk terdengar
bunyi sonor
10. Jantung
·
Inspeksi : Pasien terlihat sesak nafas
·
Palpasi : Denyut jantung tidak
teratur
·
Auskultasi : Frekuensi denyut jantung
·
Perkusi : Denyut jantung sonor
11. Anus dan Rectum
Hemoroid internal akibat system saraf
terganggu
12. Pemeriksaan Neurologi
-
Kesadaran pasien samnolen/cenderung menurun
-
Gerakan pasien terbatas bahkan tidak dapat bergerak karena badrest total
-
Pola pemecahan masalah pasien mau mengikuti terapi yang dianjurkan dokter
5.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
CT-Scan (Computer Tomography Scan)
2. Foto
tengkorak cranium
3. MRI
(Magnetic Resonan Imaging)
4.
Laboratorium
Kimia darah : mengetahui ketidakseimbangan elektrolit
6.
OBAT-OBATAN YANG DIGUNAKAN
Obat-obatan Neotropik :
-
Piritinol
-
Piracetam
-
Citi Choline
-
Perawatan luka dan pencegahan dekubitus
-
Antibiotika
-
Antikonvulsan
B. DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1. Data
Fokus
-
Klien merasa lemah
-
Klien merasa lelah
-
Klien tampak lesu
-
Klien tampak gelisah
-
Klien tampak bingung
-
Klien sering muntah
-
Klien mudah tersinggung
-
Klien mengalami kehilangan keseimbangan
-
Klien mengalami perubahan tekanan darah atau normal perubahan frekuensi jantung
-
Klien mengalami perubahan tingkah laku atau kepribadian
-
Klien mengalami gangguan fungsi usus/inkontenensia kandung kemih
-
Klien mengalami kehilangan kesadaran
-
Klien amnesia, vertigo, syncope, tinnitus
-
Klien mengalami perubahan penglihatan
-
Klien mengalami gangguan pengecapan
-
Klien mengalami sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda
-
Klien mengalami perubahan pola pernafasan, nafas bunyi ronchi
-
Klien mengalami trauma
-
Klien tampak ketakutan
-
Klien meringis kesakitan
-
Penglihatan klien tampak kabur
-
Klien terpasang infus
-
Klien tidak nafsu makan
-
Kulit klien kering
-
Klien tidak melakukan aktivitas sehari-hari
-
Mata klien tampak pucat
-
Klien sering terbangun karena nyeri dikepala
-
Penampilan klien tampak kumuh
-
Mulut klien bau
-
Gigi klien kotor
-
Klien mengalami keterbatasan ROM
-
Turgor kulit klien jelek
-
Mukosa tampak kering
BAB III
ANALISA DATA
ASUHAN KEPERAWATAN
Nama
: Ny. D
Umur
: 51 tahun
|
NO
|
SYMPTOM
|
PROBLEM
|
ETIOLOGI
|
|
1.
|
Do :
- Klien meringis
kesakitan
- Klien tampak gelisah
- Klien sakit kepala
dengan intensitas dan lokasi berbeda
|
Nyeri akut
|
Agen cidera
fisik
|
|
2.
|
Do :
- Klien sering terbangun
- Klien tampak pucat,
mata bengkak
- 3 kali atau lebih
bangun di malam hari karena nyeri kepala
|
Gangguan pola
tidur
|
Nyeri
|
|
3.
|
Do :
- Klien tampak lemah,
lelah, lesu
- Klien butuh bantuan
dalam melakukan aktivitas sehari-hari
- TD : sistole < 105,
diastole < 60 mmHg
- ND : < 60 x/menit
|
Intoleransi
aktivitas
|
Immobilisasi
|
|
4.
|
Do :
- Klien mengalami
keterbatasan ROM
- Kulit klien tampak
memerah pada bagian clavikula, siku, pantat dan tumit
- Turgor kulit jelek
- Kulit tampak kering
|
Resiko
Kerusakan
integritas kulit
|
Bedrest
|
|
5.
|
Do :
- Klien mengalami
keterbatasan ROM
- Klien terpasang infuse
pada lengan bagian kanan
- Tidak ada koordinasi
gerak
|
Kerusakan
imobilitas fisik
|
Nyeri dan
immobilisasi
|
|
NO
|
SYMPTOM
|
PROBLEM
|
ETIOLOGI
|
|
6.
|
Do :
- Terdapat luka pada
kepala
- Kulit tampak tidak
terawat
|
Resiko tinggi
terhadap infeksi
|
Trauma
(kecelakaan, kesengajaan)
|
|
7.
|
Do :
- Klien mual dan muntah
- Klien tampak lemas
- Klien tidak nafsu makan
|
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
|
Tidak mampu
dalam memasukkan dan mencerna makanan
|
|
8.
|
Do :
- Tidak ada respon
motorik dan
- Klien kehilangan
kesadaran
- Sianosis
- Klien mengalami
perubahan tingkat laku
- Klien mengalami
perubahan penglihatan dan gangguan pengecapan.
|
Perubahan
perfusi jaringan cerebral
|
Penghentian
darah oleh sel, odema cerebral
|
|
9.
|
Do :
- Penampilan klien tampak
kumuh
- Perineal tampak kotor
dan bau
- Rambut klien tampak
kotor
- Mulut klien bau
- Gigi klien tampak kotor
|
Kurang
perawatan diri
|
Kerusakan
Neuro Muscular
|
|
10.
|
Do :
- Klien tampak lemas
- Klien terpasang infuse
- Turgor kulit klien
jelek
- ND : > 100 x/menit
- TD : sstole <,
diastole < mmHg
- Suhu > 37° C
- Mukosa tampak kering
|
Kekurangan
volume cairan
|
Kehilangan
volume cairan aktif
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PRIORITAS MASALAH
1.
Nyeri akut berhubungan dengan cidera fisik
2.
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif
3.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak
mampu dalam mencerna, memasukkan dan mengabsorbsi makanan.
4.
Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri akut
5.
Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penghentian darah oleh cerebral
6.
Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan imobilisasi
7.
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan imobilisasi
8.
Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuscular
9.
Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma (kecelakaan)
10.
Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bed rest
INTERVENSI
(PERENCANAAN)
|
NO.DX
|
TUJUAN
|
TINDAKAN
|
|
1.
|
Setelah
dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama ….. x 24 jam diharapkan nyeri
klien dapat teratasi/terkurang dengan KH :
-
Nyeri klien terkontrol
-
Wajah klien tidak meringis
-
Klien tidak gelisah
|
-
Kaji intensitas nyeri
-
Kaji pengalaman klien terhadap nyeri
-
Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri
-
Kontrol faktor lingkungann yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap
ketidaknyamanan
-
Ajarkan teknik relaksasi
-
Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik
-
Cek riwayat alergi
-
Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgetik
|
|
2.
|
Setelah
dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama ….. x 24 jam diharapkan volume
cairan klien dapat terpenuhi dengan KH.
-
Klien tidak lemas
-
ND : normal
-
Mukosa tidak kering
-
Turgor kulit baik
|
-
Kaji TTV
-
Monitor menekan makanan/cairan
-
Dorong masukan oral
-
Anjurkan untuk minum air banyak
-
Kolaborasi pemberian cairan/makanan
-
Monitor hasil laboratorium yang sesuai dengan retensi cairan (BUN, HMT,
Osmolalitas Urin)
-
Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
|
|
NO.DX
|
TUJUAN
|
TINDAKAN
|
|
3.
|
Setelah
dilakukan tindak asuhan keperawatan selama ….. x 24 jam diharapkan nutrisi
klien seimbang dengan KH :
-
Klien tidak lemah
-
Nafsu makan meningkat
-
Klien tidak mual dan muntah
|
-
Kaji adanya alergi makanan
-
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan klien
-
Anjurkan klien untuk meningkatkan intake Fe, protein dan vit C
-
Kaji kemampuan klien
-
Monitor mual dan muntah
-
Kolaborasi pemberian obat antimual dan muntah
-
Monitor lingkungan selama makan
-
Berikan makanan kesukaan
-
Monitor adanya penurunan berat badan
|
|
4.
|
Setelah
dilakukan tindak asuhan keperawatan selama ….. x 24 jam diharapkan tidur
klien tidak terganggu dengan KH :
-
Klien tidak pucat
-
Mata klien tidak bengkak
-
Klien tidak sering terbangun dimalam hari
|
-
Kaji tidur klien
-
Berikan kenyamanan pada klien (kebersihan tempat tidur)
-
Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik
-
Catat banyaknya klien terbangun di malam hari
-
Berikan lingkungan yang nyaman dan kurangi kebisingan
-
Berikan minum hangat (susu) sebelum tidur jika perlu
-
Berikan musik klasik sebagai pengantar tidur
|
|
NODX
|
TUJUAN
|
TINDAKAN
|
|
5.
|
Setelah
dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama ….. x 24 jam diharapkan perfusi
jaringan klien efektif dengan KH :
-
Tidak ada edema perifer
-
Pengin kapiler refill
-
Kekuatan fungsi otot
-
Nadi normal < 100 x/mnt
-
TD
|
-
Cek nadi perifer pada dorsaler pedis
-
Cek kapiler refill
-
Monitor status cairan, masukan dan keluaran yang sesuai
-
Monitor perdarahan
-
Monitor TTV tiap 4 jam
-
Monitor tingkat kesadaran
-
Monitor status pernafasan
-
Persiapan pemberian transfuse
-
Monitor status hidrasi
|
|
6.
|
Setelah
dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama ….. x 24 jam diharapkan
kerusakan mobilitas fisik klien dapat teratasi dengan KH :
-
Klien dapat melakukan rentang gerak
-
Klien dapat melakukan ROM
|
-
Raji kemampuan klien klasifikasi melalui skala 0-4
-
Ubah posisi setiap 2 jam
-
Letakkan posisi telungkup satu kali/ 2 kali sehari
jika pasien dapat mentoleransi
-
Sokong ekitremitas dalam posisi fungsional
-
Gunakan penyangga lengan ketika klien dalam posisi tegak
-
Posisikan lutut dan panggul dalam posisi ekstensi
-
Ajarkan rentang gerak
|
|
7.
|
Setelah
dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …… x 24 jam diharapkan
intoleransi aktifitas klien teratasi dengan KH :
-
Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain
|
-
Tentukan penyebab toleransi aktivitas
-
Jika memungkinkan tingkatkan aktifitas secara bertahap
-
Kolaborasi dengan diberikan terapi fisik untuk membantu peningkatan level
aktifitas
|
|
NODX
|
TUJUAN
|
TINDAKAN
|
|
-
Monitor intake nutrisi
-
Ajarkan klien bagaimana menggunakan teknik mengontrol pernafasan ketika
beraktifitas
|
||
|
8.
|
Setelah
dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama ….. x 24 jam diharapkan kurang
perawatan diri klien dapat teratasi dengan KH :
-
Klien dapat melakukan perawatan diri dalam tingkat kemampuan
|
-
Kaji kemampuan klien
-
Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri
-
Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usahanya.
-
Bawa pasien ke kamar mandi secara teratur
|
|
9.
|
Sesudah
dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …… x 24 jam diharapkan tidak
terjadi infeksi pada klien dengan KH :
|
-
Kaji luka klien
-
Berikan perawatan dengan sering membersihkan daerah luka
-
Kompres hangat daerah sekitar luka
-
Kolaborasi pemberian antiseptik
|
|
10.
|
Setelah
dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …… x 24 jam diharapkan tidak
terjadi dekubitus pada klien dengan KH :
Klien
mengidentifikasikan rasional untuk pencegahan dan pengobatan
|
-
Identifikasi perkembangan alkas dekubitur
-
Cuci area yang kemerahan dengan lembut menggunakan sabun
-
Massage dengan lembut kulit sehat di sekitar area kemerahan
-
Berikan dorongan latihan rentang gerak
-
Pertahankan tempat tidur sedatar mungkin
-
Amati adanya Eritema dan kepucatan lakukan palpasi
-
Tingkatkan masukan karbohidrat dan protein
|
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan
bahwa cidera kepala adalah keadaan dimana struktur lapisan otak dari lapisan
kulit kepala tulang tengkorak, durameter, pembuluh darah serta otaknya
mengalami cidera baik yang trauma tertutup maupun trauma tembus.
Cidera kepala dibagi menjadi 3 yaitu :
·
Cidera kepala ringan
·
Cidera kepala sedang
·
Cidera kepala berat
Dari pembahasan cidera kepala berat, perawat dapat
mengambil diagnosis yaitu :
- Nyeri akut berhubungan dengan fisik
- Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan volume cairan aktif
- Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan tidak mampu memasukkan, mencerna makanan
- Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri akut
- Perubahan porfusi jaringan berhubungan dengan
penghentian darah oleh cerebral
- Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan
nyeri/imobilisasi
- Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilisasi
- Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan
neuro muscular
- Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan
trauma
- Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
bed rest
B. SARAN
Dari Asuhan Keperawatan yang telah
disusun, penulis menyarankan bagi pembuat Asuhan Keperawatan berikutnya agar
lebih teliti dan akurat dalam pengkajian agar diagnosa yang diangkat sesuai
dengan keluhan pasien. Seperti pepatah “Tak ada gading yang tak retak”. Dan
penulis menyadari, makalah ini cukup jauh dari sempurna. Maka penulis sangat
mengharap dan sangat terbuka untuk menerima kritik dan saran yang membangun
dari pembaca. Untuk itu penulis ucapkan terima kasih
DAFTAR PUSTAKA
- Arief, M,
Suprohaitta, Wahyu, J.K, Wiewik S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran.
Jilid 2. Media Aesculapius FKUI : Jakarta
- Mc. Closkey,
Joanne C. PHD, RN, FAAN, Bu Lechec Gloria, M, PhD, FAAN 2007. Diagnosa Keperawatan
NOC-NIC INC : St. Louis
- Cedera
Kepala. www.medilinux.glogspot.com 2007
- Saani,
Syaiful. 2007. Cedera Kepala Pediatrik Berat Pertimbangan Khusus. www.medilinux.glogspot.com
- Santosa,
Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima Medika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar