DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN ………………………………………………. 3
BAB II : PENGERTIAN ISPA ……………………………………………. 6
A. Pengertian…………………………………………………... 6
B. Penyebab…………………………………………………… 6
C. Tanda dan gejala ISPA………………………………………7
D. Komplikasi ISPA……………………………………………7
E. Pencegahan ISPA……………………………………………8
BAB III : PENUTUP………………………………………………………..10
A. Kesimpulan………………………………………………...10
B. Saran………………………………………………………..10
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa. Karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kita diberikan nikmat
kesehatan hingga sampai sekarang ini.
Dengan penuh rasa syukur kami ucapkan karena dapat
menyelesaikan tugas individu tentang ISPA, yang diberikan kepada kami sebagai
tugas dalam pembelajaran . Dalam penulisan dan penyusunan kata-kata pada
tugas ini masih banyak kesalahan penulisan, untuk itu kami selaku penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pambaca demi kesempurnaan
penulisan di masa yang akan datang.
Akhir kata semoga materi yang kami tulis dapat berguna dan
bermanfaat bagi kita semua. Amin.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam upaya pencapaian derajat
kesehatan yang optimal, pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan yang
tujuannya tercantum dalam UU Kes No.23 lthun 1992, pasal I bab I tentang
kesehatan yaitu : Kesehatan adalah keadaan sehat dari badan sejahtera dari
badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara
sosial ekonomi, agar terwujud kesehatan masyarakat yang optimal sehingga
tercapainya bangsa yang sehat dan sumber daya yang berkualitas ( Slamet, Juli
Soemirat. 2004 ).
Masalah kesehatan anak dipengaruhi
oleh dua persoalan utama yaitu tingginya angka kesakitan dan angka kematian.
Angka kesakitan dan angka kematian merupakan salah satu indicator derajat
kesehatan yang disebabkan oleh kurangnya penanganan keluarga dalam
menanggulangi penyakit infeksi khususnya penyakit ISPA . ISPA adalah penyakit
yang sangat umum dijumpai pada anak-anak dengan gejala batuk, pilek, panas
(demam) atau gejala tersebut muncul secara bersamaan, (Meadow, Sir Roy).
Dalam menurunkan angka kejadianan
ISPA diperlukan peran aktif petugas Kesehatan dalam menyampaikan informasi
terutama tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan ISPA, dimana salah satu
faktor yang perlu diketahui adalah cara pencegahan dan perawatan ISPA. Peran
aktif petugas disini terutama perawat dapat menyampaikannya melalui promosi
kesehatan seperti perbaikan dan peningkatan gizi, perbaikan dan sanitasi
lingkungan, pemeliharaan kesehatan perorangan dan tindakan preventif seperti
isolasi penderita penyakit ISPA dan pemberian imunisasi. Sebagai perawat kita
harus mengetahui sejauh mana pengetahuan keluarga tentang ISPA dan motivasi
keluarga dalam pencegahan dan perawatan ISPA dirumah, karena perilaku seseotang
dipengarahi oleh pengetahuan, sikap, kehendak, motivasi dan niat ( Notoatmojo.
2003 ).
Berdasarkan data dari Dinas
Kesehatatr Kabupaten solok tiap bulannya
ISPA menempati urutan pertama dari 10 penyakit terbanyak untuk lebih jelasnya
dapal dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 1.1 10 (sepuluh) Besar
Penyakit Terbanyak Seluruh Puskesmas Di Kabupaten Solok
|
No
|
Penyakit
|
Jumlah
Penderita
|
Persentase
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
|
ISPA
Diare
Reumatik
Hipertensi
Hipertensi
Penyakit Infeksi
Penyakit kulit alergi
Peny. Pulpa dan jar. Periapikal
Scabies
Asma
|
1520
702
430
422
312
137
135
131
121
121
|
37,63
17,38
10,65
10,45
7,72
3,39
3,34
3,24
3,00
3,00
|
|
Jumlah
|
4039
|
100
|
Sumber: Rekapitulasi Dinas Kesehatan Kabupaten Solok bulan
September 2010
Dari 10 Puskesmas yang ada di
Kabupaten Solok, Puskesmas Selayo menempati urutan pertama penderita ISPA
terbanyak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1.2 10 (Sepuluh) Puskesmas
Yang Ada Di Kabupaten Solok
|
No
|
Puskesmas
|
Jumlah
Penduduk Usia Balita
|
Usia
< 1 thn
|
Usia 1-4
thn
|
Total
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
|
Sulit Air
Singkarak
Paninggahan
Tanjung Bingkuang
Sungai Lasi
Muara Panas
Sirukam
Bukit Sileh
Selayo
Jua Gaek
|
2.120
3.281
1.333
1.412
1.018
2.247
835
2.523
3.938
1.469
|
0
47
30
19
17
4
4
43
18
17
|
0
93
54
52
15
42
23
77
177
27
|
0
140
84
71
32
46
27
120
195
44
|
|
Jumlah
|
20.176
|
199
|
560
|
759
|
Sumber:
Rekapitulasi Dinas Kesehatan Kabupaten Solok Bulan September 2010
Dari data di atas penyakit ISPA
adalah penyakit terbanyak yang ada di Kabupaten Solok yaitu sebanyak 1.520
orang penderita dan Puskesmas Selayo menempati urutan pertama yang mendapat
kunjungan balita menderita ISPA terbanyak dari 10 puskesmas yang ada di
Kabupaten Solok yaitu sebanyak 195 orang balita yang menderita ISPA ditemukan 3
orang diantaranya terjangkit pneumonia dan dari 5 orang ibu balita tersebut 2
diantaranya tidak mengetahui cara perawtan ISPA dirumah.
Tabel 1.3 Jumlah Kasus ISPA di
Wilayah Kerja Puskesmas Singkarak selama 6 bulan terakhir dari bulan
|
No
|
Bulan
|
Jumlah
|
|
1
|
April
|
127
|
|
2
|
Mei
|
155
|
|
3
|
Juni
|
130
|
|
4
|
Juli
|
160
|
|
5
|
Agustus
|
125
|
|
6
|
September
|
195
|
Sumber:
Rekapitulasi Dinas Kesehatan Kabupaten Solok Bulan September 2010
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1 Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
21.1 Pengertian ISPA
ISPA adalah penyakit infeksi yang
sangat umum dijumpai pada anak-anak dengan
gejala batuk, pilek, panas atau ketiga gejala tersebut muncul secara bersamaan
(Meadow, Sir Roy. 2ffi2:153).
ISPA (lnfeksi Saluran Pernafasan
AL-ut) yang diadaptasi dari bahasa Inggris Acute Respiratory hfection (ARl)
mempunyai pengertian sebagai berikut:
l. Infeksi adalah masuknya kuman atau
mikoorganisme kedalam tubuh
manusia
dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung
hingga alfeoli beserta organ adneksa seperti simrs-sinus, rongga tengah dan
pleura ISPA secara anatomis mencakup saluran pemafasan bagian atas.
3.
Infeksi akut adalah infeksi yang
berlansung sampai 14 hari. Batas 14 hari
diambil untuk menunjukkan proses
akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan ISPA. Proses ini dapat
berlangsung dari 14 hari (Suryana, 2005:57).
21.2 Penyebab ISPA
2.1.2.1
Virus dan bakteri : virus influeuza sterptococcus, shapilococcus,
haemopilus influerzae.
2.1.2.2
Alergen spesifik : alergi yang disebabkan oleh debu asap dan udara
dingin atau panas
2.l.2.3
Perubahan cuaca dan lingkungan : kondisi cuaca yang tidak baik
seperti peralihan suhu panas ke hujan
dan lingkungan yang tidak
bersih atau tercemar.
2.l.2.4
Aktifitas : kondisi dimana anak memiliki kegiatan yang banyak
tanpa memperhatikan kondisi tubuh
atau daya tahan tubuh yang
dapat menyebabkan anak-anak
menderita ISPA.
2.1.2.5
Asupan gizi Yang kurang.
2.1.3 Tanda dan Geial.a ISPA
2.
1.3.1 Suhu badan balita <37°C
2.1.3.2 Terdapat Batuk
2.1.3.3 Terjadi Pilek
2.1.3.4
Hidung tersumbat, karena adanya discharge atau cairan di rongga
hidung anak, discharge hidung sering
dimulai sebagai discharge
yang jernih kemudian kental berwarna
kuning Purulen.
2.1.3.5
Nafas anak cepat, pada anak usia l2 bulan sampai 5 tahun
pernafasannya <40x/i
2.1.3.6
Nafas berbunyi wheezing
2.1.3.7
Nyeri pada tenggorokan
2.
1.3.8 Terkadang anak tidak mau minum
2.1.4 Komplikasi ISPA
2.
1.4.1 Asma
Asma adalah mengi berulang atau
batuk persisten yang disebabkan oleh suatu kondisi alergi non infeksi dengan
gejala : sesak nafas, nafas berbunyi wheezing, dada terasa tertekan, batuk
biasanya pada malam hari atau dini hari.
2.1,4.2 Kejang demam
Kejang demam adalah bangkilan kejang
yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rentan lebih dari 38Oc) dengan
geiala berupa serangan kejang klonik atau tonikklonik bilateral. Tanda lainnya
seperti mata terbalik keatas dengan disertai kejang kekakuan atau kelemahan,
gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan atau hanya sentakan kekauan
fokal.
2.1 ,4.3 Tuli
Tuli adalah gangguan system
pendengaran yang terjadi karena adanya infeksi yang disebabkan oleh bakteri
atau virus dengan gejala awal nyeri pada telinga yang mendadak, persisten dan
adanya cairan pada rongga telinga.
2.1.4.4 Syok
Syok merupakan kondisi dimana
seseorang mengalami penurunan f'ungsi dari system tubuh yang disebabkan oleh
babagai faktor antara lain : faktor obstruksi contohnya hambatan pada system
pernafasan yang mengakibatkan seseorang kekurangan oksigen sehingga seseorang
tersebut kekurang suplay oksigen ke otak dan mengakibatkan syok.
2.1.5 Pencegahan ISPA pada Balita
Kegiatan atau jenis-jenis yang dapal
dilakukan dalam mencegah terjadinya penyakit ISPA pada anak antara lain :
a. Perbaikan
peningkatan gizi pada bal ita
b. Penyusunan
atau pengaturan menu
c. Cara
pengolahan makanan
d. Variasi
menu
e.
Perbaikan dan santasi lingkungan
f.
Pemeliharaan Kesehatran perorangan
g.
Tindakan preventif
h.
Memberikan imunisasi pada gorongan yang rentan terhadap
penyakit tertentu
i. Isolasi
terhadap penderita ISPA
1. Perawatan
dan pengobatan ISPA di rumah
2. Perawatan ISPA di rumah
3. Memberi
makan
Pemberian makanan yang cukup dan
bergizi untuk menghindari penurunan berat badan yang akan rnengakibatkan
malnutrisi. Berikan makan sedikit-sedikit tapi sering dari biasanya,
lebih-lebih jika anak muntah. pemberian ASi pada bayi yang menyusu juga tetap diberikan.
j. Pemberian
cairan atau minuman
Anak dengan infeksi saluran
pernafasan dapat kehilangan cairan lebih banyak dari biasanya terutama bila
demam, menambah pemberian minum atau cairan untuk menghindari dehidrasi.
Dehidrasi akan melemahkan anak dan dapat memperberat penyakitnya, pemberian
cairan akan membantu mengencerkan dahak,
k. Menjaga
kelancaran pernafasan
Menjaga kelancaran pernafasan dengan
cara mengajarkan anak agar bila ia batuk lendirnya dikeluarkan.
l. Bersihkan hidung
Membersihkan hidung dengan memakai
kain bersih yang lunak untuk membersihkan lubang hidung,jika hidung tersumbat
karena ingus yang telah mengering, tetesilah dengan air garam untuk
membasahinya.
m. Mengatasi
panas
Untuk anak usia 2bln - 5tahun demam
diatasi dengan paracetamol dan atau dengan kompres (bayi dibawah 2 bulan dengan
demam harus segera dirujuk). Pemberian kompres dengan cara : gunakan kain
bersih celupkan pada air (air hangat kuku) peras seperlunya, kemudian letakkan
diatas dahi anak, lipat paha, lipat ketiak, ulangi bila kan sudah dingin.
n. Istirahat
Berikan istirahat yang cukup karena
dengan istirahat gejala bisa berkurang.
o. Mengamati tanda-tanda bahaya yang
mungkin timbul seperti sesak
nafas, nafas cepat, anak tidak mampu
minum, suhu tubuh tinggi, bila terjadi segera bawa anak ke pelayanan kesehatan
agar komplikasi tidak terjadi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
ISPA adalah penyakit infeksi yang
sangat umum dijumpai pada anak-anak dengan gejala batuk, pilek, panas atau
ketiga gejala tersebut muncul secara bersamaan. penyebab ISPA yaitu virus,
bakteri, alergen spesifik, perubahan cuaca dan lingkungan, aktifitas, dan
asupan gizi yang kurang. Komplikasi ISPA adalah asma, demam kejang, tuli, syok.
Pencegahan ISPA dapat dilakukan dengan penbaikan gizi dan peningkatan gizi pada
balita penyusunan atau pengaturan menu, cara pengolahan makanan, variasi menu,
perbaikan dan.sanitasi lingkungan, pemeliharaan kesehatan perorangan.
3.2 Saran
Untuk mengurangi angka kejadian ISPA
pada balita,
dalam hal ini penulis menyarankan agar semua pihak baik keluarga maupun
instansi kesehatan lebih memperhatikan pola hidup sehat dan tidak membuang
batuk sembarangan dan mengolah makanan sebaik mungkin.
DAFTAR PUSTAKA
Meadow,Sir
Roy dan Simen.2002.Lectus Notes:Pediatrika.Jakarta:PT.Gelora Aksara Pratama
Ngastiyah,1997.Perawatan
Anak sakit.Jakarta:EGC
Notoadmodjo.2003.Ilmu
Kesehatan Masyarakat.jakarta ;EGC
Dr.Karel
A,L,Staa,SpA Mila Meila Sari.2005.Menjadi Dokter Anak di rumah.
Jakarta:Puspa
Swara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar