Askeb Seksio Sasarea
A. Pengertian
Seksio
sesarea suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi
pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh
serta berat janin di atas 500 gram. (Sarwono, 2000, hal 133). Seksio
caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi pada dinding
abdomen dan uterus. Br. M.Hakim, 1990, hal 634 )
Seksio
sesarea adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu
insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan
utuh serta berat janin diatas 500 gram. (prawiroharjo, 2005. hal.133)
Seksio sesarea adalah pembedahan melalui dinding perut
untuk mengeluarkan janin.
Mal
presentasi janin :
1. Letak lintang
Greenhill
dan Eastman sama-sama sependapat :
a. Bila ada kesempitan panggul, maka seksio
sesarea adalah cara terbaik dalam segala letak lintang dengan janin hidup dan
besar biasa.
b. Semua primigravida dengan letak lintang
dengan janin hidup dan besar biasa.
c. Semua primigravida dengan letak lintang
harus di tolong dengan seksio sesarea, walau tidak ada perkiraan panggul
sempit.
d. Multipara dengan letak lintang dapat lebih
dulu di tolong dengan cara-cara lain.
2. Letak bokong
Seksio
sesarea dianjurkan pada letak bokong bila ada :
a. Panggul sempit
b. Primigravida
c. Janin besar dan berharga
d. Presentase dahi dan muka bila reposisi dan
cara-cara lain tidak berhasil.
e. Presentasi rangkap, bila reposisi tidak
berhasil
f. Gemili, menurut Eatsman sekio sesarea
dianjurkan :
3. Presentasi dahi dan muka (letak defleksi)
bila reposisi dan cara-cara lain tidak berhasil, presentasi rangkap, bila
reposisi tidak berhasil
4. Gemelli
Abdomen (seksio sesarea abdominalis)
1. Seksio sesarea transperitonealis)
a. Seksio sesarea klasik atau korpora dengan
insisi memanjang pada korpus uteri.
b. Seksio sesarea ismika atau profunda atau
low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim
c. Seksio sesarea ekstraperitonealis, yaitu
tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum
abdominal.
Vagina (seksio sesarea vaginalis)
Menurut
arah sayatan pada rahim, seksio sesarea dapat dilakukan dengan sayatan memanjang
(longitudinal) menurut kronig, sayatan melintang (transversal) menurut kerr,
sayatan huruf T (T-inscion)
2. Seksio sesarea klasik (Korporal)
Dilakukan
dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm.
Kelebihan
: Mengeluarkan janin lebih cepat, tidak mengakibatkan komplikasi kandungan
kemih tertarik, sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan
: Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada
reperitonealisasi yang baik, untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi
ruptura uteri spontan
3. Seksio sesarea ismika (provunda)
Dilakukan
dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm
Kelebihan
: Penjahitan luka lebih mudah, penutupan luka dengan reperitonealisasi yang
baik, tumpang tindih dari perotoneal flat baik sekali untuk menahan penyebaran
isi uterus kerongga peritonium, perdarahan kurang, dibandingkan dengan cara
klasik kemungkinan ruptura uteri spontan kurang/lebih kecil.
Kekurangan
: Luka dapat melebar kekiri, kanan dan bawah, sehingga dapat menyebabkan arteri
uterina putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak, keluhan pada
kandung kemih post operatif tinggi.
Salah satu indikasi dilakukan seksio sesarea adalah
ketuban pecah dini.Spomtaneous/early/premature rupture of the membrane (PROM)
adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu bila pembukaan pda primigravida
kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm (Mochtar, 1998. hal. 255)
- Ketuban
Pecah Dini
a. Pengertian
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum
terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda
persalinan. (Manuaba, 1998. hal 229)
Ketuban pecah dini adalah selaput ketuban sebelum ada
tanda-tanda persalinan (Mansyoer, 1999, hal 310).
Indikasi seksio sesarea adalah, Plasenta previa
sentralis dan latralis (posterior), Panggul sempit, Disproporsi sefalo pelvik
yaitu ketidak seimbangan antara ukuran kepala dan panggul, rupture uteri
mengancam, partus lama (prolongelabor), partus tak maju (obstrukte labor),
distosia serviks, pre eklamsi dan hipertensi.
- Etilogi
Etiologi KPD (ketuban pecah dini) tetap tidak jelas,
tetapi berbagai jenis faktor mengaku ikut serta dalam kejadiannya termasuk
infeksi vagina dan servik, fisiologi selaput ketuban yang abnormal,
inkompetensi serviks, defesiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (vitamin
C). (Cristina Yunita, 2001 : 304)
- Manifestasi Klinis
Keluar air ketuban warna putih keruh, jernih, kuning,
hijau atau kecoklatan sedikit-sedikit sekaligus banyak. Dapat disertai bila
sudah ada infeksi. Janin mudah diraba. Pada periksa dalam selaput ketuban tidak
ada, air ketuban sudah kering. Inspekulo : tampat air ketuban mengalir atau
selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah kering (Mansjoer, 1999:310)
- Penatalaksanaan
Ketuban pecah dini merupakan sumber persalinan
prematuritas, infeksi dalam rahim terhadap ibu maupun janin memerlukan tindakan
yang rinci sehingga dapat menurunkan kejadian persalinan prematuritas dan
infeksi dalam rahim. Memberikan profilaksis antibiotika dan membatasi
pemeriksaan dalam merupakan tindakan yang perlu diperhatikan. Disamping itu
makin kecil umur hamil, makin besar peluang terjadi dalam rahim yang dapat
memicu terjadinya persalinan prematuritas bahkan berat janin kurang dari 1 kg
sebagai gambaran umum untuk tatalaksana ketuban pecah dini dapat dijabarkan
sebagai berikut :
a. Mempertahankan kehamilan sampai cukup
matur khususnya maturitas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan
perkembangan paru sehat.
b. Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu
korioamniorotis yang menjadi pemicu sepsis, meningitis janin, dan persalinan
prematuritas.
c. Dengan perkiraan janin sudah cukup besar
dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dalam diberikan
kortikosterioit, sehingga kamatangan paru janin dapat terjamin.
d. Pada umur kehamilan 24 sampai 32 minggu
yang menyebabkan menunggu berat janin cukup, perlu dipertimbangkan untuk
melakukan induksi persalinan, dengan kemungkinan janin tidak dapat
diselamatkan.
e. Menghadapi ketuban pecah dini, diperlukan
KIM terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan
mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu dan
mungkin harus mengorbankan janinnya pemeriksaan yang penting dilakukan adalah
USG untuk mengukur distansia biparital dan perlu melakukan aspirasi air ketuban
untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru melalui perbandingan L/5.
Waktu
terminasi pada hamil aturan dapat dianjurkan selang waktu 6 jam sampai 24 jam,
bila tidak terjadi his spontan. (Manuaba, 1998:230)
A. ASUHAN KEPERAWATAN
- Pengkajian
(Doengoes E, 2001. Hal. 414-415)
Pengkajian
dasar data klien
Sirkulasi
: Hipertensi, perdarahan vagina
mungkin ada.
Integritas
ego : Dapat menunjukkan prosedur yang
diantisipasi sebagai tanda kegagalan dan/atau refleksi negative pada kemampuan
sebagai wanita.
Makanan/Cairan
: Nyeri epigastik, gangguan
penglihatan, edema (tanda-tanda hipertensi karena kehamilan) [HKK]
Nyeri/Ketidaknyamanan
: distosia, persalinan lama/disfungsional,
kegagalan induksi, nyeri tekan uterus mungkin ada.
Keamanan
: Penyakit hubungan seksual aktif mis.
Herpes. Inkompabilitas Rh yang berat.adanya komplikasi ibu seperti HKK,
diabetes, penyakit ginjal atau jantung, atau infeksi asenden, trauma abdomen prenatal.
Prolaps tali pusat, distress janin. Ancaman kelahiran janin premature,
presentasi kelahiran janin premature, presentasi bokong dengan versi
sefalik eksternal yang tidak berhasil ketuban pecah selama 24 jam atau lebih
lama.
Seksualitas
: Disproporsi sefalopelvis (CPD).
Kehamilan multiple atau gestasi (utaerus sangat distensi). Melahirkan sesarea
sebelumnya, bedah uterus atau servik sebelumnya. Tumor/neoplasma yang
menghembat pelvis/jalan lahir.
Penyuluhan/pembelajaran
Kelahiran
sesarea dapat atau mungkin direncanakan, mempengaruhi kesiapan dan pemahaman
klien terhadap prosedur.
Pemeriksaan
diagnostic : Hitung darah llengkap, golingan darah, dan pencocokan silang, tes
coombs, urinalisis : menentukan kadar albumin/glukosa, kultur : mengidentifikasi
adanya virus herpes simpleks tipe II, pelvimetri : menentukan CPD, amniosentris
: mengkaji maturitas paru janin, ultrasonografi : Melokalisasi plasenta ::
menentukan pertumbuhan, kedudukan dan presentasi janin. Tes stes kontraksi atau
tes nonstres : mengkaji respon janin terhadap gerakan/stre dari pola kontraksi
uterus/pola abnormal. Pemantauan elektrolik kontinu : memstikan status
janian/aktivitas uterus.
- Diagnosa
keperawatan menurut Doengoes E Marylin
a. Kurang pengetahuan mengenai prosedur
pembedahan regimen pasca operasi berhubungan kurang pemajanan/tidak mengenal
informasi, kesalahan intepretasi.
b. Ansietas berhubungan dengan krisis
situasi, ancaman konsep diri.
c. Resiko tinggi terhadap harga diri rendah
berhubungan dengan kegagalan yang dirasakan pada kejadian hidup
d. Ketidakberdayaan berhubungan dengan
interaksi interpersonal terhadap aturan yang berhubungan dengan penyakit.
e. Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi
otot yang lebih lama
f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
prosedur invasive, kerusakan kulit
g. Resiko tinggi terhadap kerusakan
pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah ke plasenta.
h. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan
dengan trauma jaringan
i. Risiko tinggi terhadap penurunan curah
jantung berhubungan dengan penurunan aliran balik vena.
- Perencanaan
a. Kurang pengetahuan mengenai prosedur
pembedahan regimen pasca operasi berhubungan kurang pemajanan/tidak mengenal
informasi, kesalahan intepretasi. Tujuan : Meminta informasi. Criteria Hasil :
Mengungkapkan pemahaman tentang indikasi kelahiran sesarea, Mengenali ini
sebagai metode alternative kelahiran bayi.
Intervensi/Rasional
Kaji
kebutuhan klien. Rasional : Metoda kelahiran alternative ini didiskusikan pada
kelas persiapan melahirkan anak. Cata tingkat stress dan apakah prosedur
direncanakan atau tidak. Rasional : Mengidentifikasi kesiapan klie/pasangan
untuk menerima informasi. Berikan informasi akurat dengan istilah-istilah
sederhana. Rasional : Memberikan informasi dan mengklarifikasi kesalahan
konsep. Tinjau ulang indikasi-indikasi terhadap pilihan alternative kelahiran.
Rasional : Perkiraan satu dari 5 atau 6 kelahiran melalui operasi sesarea.
Gambarkan prosedur praoperatif dengan jelas, dan berikan rasinal dengan tepat.
Rasional : Informasi memungkinkan klien mengantisipasi kejadian dan memahami
alas an intervensi/tindakan. Berikan oenyuluhan pascaoperasi. Rasional :
Membeirkan teknik untuk mencegah komplikasi yang berhubungan dengan statis vena
dan pneumonia hipostatik. Diskusikan sensasi yang diantisipasi selama
melahirkan dan periode pemulihan. Rasional : Mengetahui apa yang dirasakan dan
apa yang “normal”membantu masalah yang tidak perlu.
b. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi,
ancaman konsep diri.tujuan : Ketegangan distress menurun, ketakutan menghilang.
Keriteria Hasil : Mengungkapkan rasa takut pada keselamatan klien dan janin.
Mendiskusikan persaan tentang kelahiran sesarea. Tampak benar-benar rileks.
Menggunakan sumber/system pendukung dengan efektif.
Intervensi/Rasional
Kaji
respon psikologis pada kejadian dan keterbatasan system pendukung. Rasional :
Makin klien merasakan ancaman, makin besar tingkat ansietas. Pastikan apakah
prosedur direncanakan atau tidak direncanakan. Rasional : Pada kelahiran
sesarea yang tidak direncanakan, klien/pasangan biasanya tidak mempunyai waktu
untuk persiapan secara psikologis atau fisiologis. Tetap bersama klien dan
tetap tenang. Rasional : Membantu membatasi transmisi ansietas interpersonal.
Beri penguatan aspek positif dari ibu dan kondisi janin. Rasional : Memfokuskan
pada kemungkinan keberhasilan hasil akhir dan membantu membawa ancaman yang
dirasakan/actual kedalam praspektif. Anjurkan klien/pasangan mengungkapkan
perasaan. Rasional : Membantu mengidentifikasi perasaan negative dan memberikan
kesempatan untuk teratasi. Dukung/arahkan kembali mekanisme koping yang
diekspresikan. Rasional : Mendukung mekanisme koping dasar dan otomotif,
meningkatkan kepercayaan diri dan penerimaan. Diskusikan pengalaman/harapan
kelahiran anak pada masa lalu. Rasional : Klien dapat mengalami penyimpanan
memori dari melahirkan masa lalu atau persepsi tidak realistic. Berikan masa
privasi. Rasional : Memungkinkan kesempatan bagi klien untuk menginternalisasi
informasi.
c. Resiko tinggi terhadap harga diri rendah
berhubungan dengan kegagalan yang dirasakan pada kejadian hidup. Tujuan :
Mengungapkan perasaan . keriteria Hasil : Mengidentifikasi dan mendiskusikan
persaan negative. Mengungkapkan percaya diri pada dan pada kemampuannya.
Intervensi/Rasional
Tentukan
perasaan yang biasanya dari klien tentang diri sendiri dan kehamilan. Rasional
: Mendiagnosa perubahan kondep diri didasarkan pada pengetahuan persepsi diri
dan pengalaman. Anjurkan pengungkapan perasaan. Rasional : Mengidentifikasi
area untuk diatasi. Anjurkan untuk bertanya dan memberkan informasi/penguatan
pembelajaran. Rasional : Meningkatkan pemahaman dan memperjelas kesalahan.
Rujuk pada kelahiran sesarea sebagai metode alternative kelahiran anak.
Rasional : Istilah-istilah seperti seksio C dan melahirkan normal, menunjukkan
bahwa kelahiran sesarea berbeda dan tidak almiah. Berikan komunikasi verbal
dari pengkajian dan ntervensi. Rasional : Bila masalah harga diri timbul pada
klien, ini dapat menjadi berat pada periode pasca partum. Identifikasi
pasangan/sumber lain sebagai rujukan setelah melahirkan. Rasional : Pada waktu
penting ini, sifat situasi biasanya tidak memungkinkan untuk bicara dengan
orang lain yang telah mengalami pengalaman yang sama. Anurkan keberadaan
pasangan pada saat melahirkan sesuai kebutuhan. Rasional : Membeirkan dukungan
bagi ibu, meningkatkan ikatan orang tua. Anjurkan klien/pasangan berpartisipasi
dalam aktivitas ikatan diruang melahirkan. Rasional : Memberikan penguatan
pengalaman kelahiran dan menghilangkan suasanan pembedahan terhadap
kelahiran.
d. Ketidakberdayaan berhubungan dengan
interaksi interpersonal terhadap aturan yang berhubungan dengan penyakit.
Tujuan : Mengungkapkan rasa takut dan perasaan kerentanan. Krtiteria hasil :
Mengeskpresikan kebutuhan/keinginan individu. Berpartisipasi dalam proses
pembuatan keputusan kapan pun mungkin.
Intervensi/Rasional
Kaji
factor-faktor yang menimbulkan rasa keputusasaan. Rasional : Kelahiran sesarea
tidak direncanakan dapat dikarakteristikan oleh rasa kehilangan control klien
terhadap pengalaman kelahiran. Berikan pilihan-pilihan dalam perawatan bila
mungkin. Rasional : Memungkinkan klie/pasangan untuk memiliki bebrapa rasa
asupan/control terhadap situasi. Identifikasi harapan dan keinginan
klien/pasangan berkenaan dengan pengalaman melahirkan. Rasional : Memberikan
kesempatan untuk memnuhi kebutuhan dan meningkatkan pengalaman positif. Beirkan
ruang pribadi dan waktu menyendiri untuk pasangan sebelum pembedahan. Rasional
: Menciptakan rasa control dan memungkinkan pasangan mempunyai waktu untuk
membicarakan situasi mereka. Berikan informasi dan diskusikan persepsi
klien/pasangan. Menurunkan stress yang disebabkan oleh kesalahan konsep/rasa
takut yang tidak ditemukan.
e. Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi
otot yang lebih lama. Tujuan : Nyeri hilang. Criteria Hasil : Mengungkapkan
penurunan nyeri.
Intervensi/Rasional
Kaji
lokasi sifat dan durasi nyeri, khususnya saat behubungan dengan indikasi kelahiran
sesarea. Rasional : Menandakan ketepatan pilihan tindakan. Hilangkan
factor-faktor yang menghasilkan ansietas. Rasional : Tingkat toleransi ansietas
adalah individual dan dipengaruhi oleh berbagai factor. Instruksikan tehnik
relaksasi. Rasional : Dapat membantu dalam reduksi ansietas dan ketegangan dan
meningkatkan kenyamanan. Kolaborasi. Beirkan sedative, narkotik atau obat
praoperatif. Rasional : Meningkatkan kenyamanan dengan memblok imuls nyeri.
f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
prosedur invasive, kerusakan kulit. Tujuan : Bebas dari infeksi. Criteria Hasil
: Pencapaian tepat waktu dalam pemulihan luka tanpa komplikasi.
Intervensi/Rasional
Tinjau
ulang kondisi yang ada sebelumnya. Rasional : Kondisi dasar ibu, seperti
diabetes atau hemoragi. Kaji terhadap tanda/gejala infeksi. Rasional : Pecah
ketuban terjadi 24 jam sebelum pembedahan dapat mengakibatkan koriamnionitis.
Berikan perawatan perineal sedikitnya setiap 4 jam bila ketuban telah pecah.
Rasional : Menurnkan risiko infeksi asenden. Kolaborasi. Lakukan persiapan
kulit praoperatif. Rasional : Menurnkan risiko kontaminan kuli memasuki insisi,
menurnkan risiko infeksi pascaoperasi. Dapatkan kultur darah. Rasional :
Mengidentifikasi organism. Berikan antibiotic spectrum. Rasional : Antibiotik
profilaktik dapat dipesankan untuk mencegah terjadinya proses infeksi.
g. Resiko tinggi terhadap kerusakan
pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah ke plasenta. Tujuan :
Menunjukkan denyut jantung jani. Kriteria Hasil : Memanifestasikan variabilitas
janin dalam batas normal, bebas dari deselerasi.
Intervensi/Rasional
Perhatikan
adanya pada ibu factor-faktor yang secara negative mempengaruhi sirkulasi.
Rasional : Penurunan volume sirkulasi atau vasospasme dalam plasenta menurnkan
keterbatasan oksigen. Lanjutkan pemantauan DJJ.rasional : Distres janin dapat
terjadi karena hipoksia. Perhatikan adanya variable deselerasi, peribahan
posisi klien. Rasional : Kompres tali pusat diatra jalan lahir. Perhatikan
warna dan jumlah cairan amnion bila pecah ketuban. Rasional : Distres janin
pada presentasi vertex dimanifestasikan dengan kandungan mekonium. Auskulatsi
jantung janin bila pecah ketuban. Rasional : Prolaps terlihat atau samar tali
pusat pada tidak adanya dilatasi serviks. Pantau respon jantung janin untuk
obat praoperasi. Rasional : Narkotik biasanya menurnkan variabilitas DJJ dan
memerlukan pemberian nalokson setelah melahirkan untuk memperbaiki depresi.
h. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan
dengan trauma jaringan. Tujuan : bebas cedera. Criteria Hasil : Menunjukkan
bebas cedera.
Intervensi/Rasional
Lepaskan
alat prostetik dan perhiasan. Rasional : Menurunkan risiko cedera kecelakaan.
Tentukan waktu dan isi makanan terakhir. Rasional : Bila klien telah makan
tepat sebelum prosedur pembedahan. Batasi masukan oral bila keputusan kelahiran
sesarea dibuat. Rasional : Menurunkan kemungkinan aspirasi karena muntah.
Tinjau ulang catatan persalinan, perhatikan frekuensi berkemih. Rasional :
Dapat menandakan retensi urin. Pantau haluaran dan warna urin. Rasional :
Menunjukkan tingkat hidrasi. Bantu pengubahan posisi untuk ansietas.
Rasional Penting untuk penempatan anestesi. Pertahankan penghitungan peralatan
dan spon secara akurat. Rasional : menjamin bahwa semua peralatan dan spon
dihitung
- Pelaksanaan
Pelaksanaan
adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.
Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan
pada nursing oders untuk membantu klien mencapai tujuan yang
diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk
memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien.
(Nursalam, 2001, Hal 63)
- Evaluasi
Evaluasi
adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan
seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah
berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor
“kealpaan” yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan
pelaksanaan tindakan. (Nursalam, 2001, Hal 71)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar