Cursor

Jumat, 30 Oktober 2015

Askeb Seksio Sasarea

Askeb Seksio Sasarea

A.      Pengertian
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSYOfQY7VS_urMwJHXqknWFrX9fw48UBfyBVD-7fU8gAk8wuY6ppg9tGjkl1YyV6RnF6z4qiQEuAjWmJnxKdv53ZtI-fbt96zmAJqlnEhB9SEKA3j8aWUpE0M8QmTIJd9GDmpcosRQnvo/s200/seksio.jpg
Seksio sesarea suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram. (Sarwono, 2000, hal 133). Seksio caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus. Br. M.Hakim, 1990, hal 634 )

Seksio sesarea adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram. (prawiroharjo, 2005. hal.133)
Seksio sesarea adalah pembedahan melalui dinding perut untuk mengeluarkan janin.
            Mal presentasi janin :
1.      Letak lintang
Greenhill dan Eastman sama-sama sependapat :
a.       Bila ada kesempitan panggul, maka seksio sesarea adalah cara terbaik dalam segala letak lintang dengan janin hidup dan besar biasa.
b.      Semua primigravida dengan letak lintang dengan janin hidup dan besar biasa.
c.       Semua primigravida dengan letak lintang harus di tolong dengan seksio sesarea, walau tidak ada perkiraan panggul sempit.
d.      Multipara dengan letak lintang dapat lebih dulu di tolong dengan cara-cara lain.
2.      Letak bokong
Seksio sesarea dianjurkan pada letak bokong bila ada :
a.       Panggul sempit
b.      Primigravida
c.       Janin besar dan berharga
d.      Presentase dahi dan muka bila reposisi dan cara-cara lain tidak berhasil.
e.       Presentasi rangkap, bila reposisi tidak berhasil
f.       Gemili, menurut Eatsman sekio sesarea dianjurkan :
3.      Presentasi dahi dan muka (letak defleksi) bila reposisi dan cara-cara lain tidak berhasil, presentasi rangkap, bila reposisi tidak berhasil
4.      Gemelli
Abdomen (seksio sesarea abdominalis)
1.      Seksio sesarea transperitonealis)
a.       Seksio sesarea klasik atau korpora dengan insisi memanjang pada korpus uteri.
b.      Seksio sesarea ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim
c.       Seksio sesarea ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal.
Vagina (seksio sesarea vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim, seksio sesarea dapat dilakukan dengan sayatan memanjang (longitudinal) menurut kronig, sayatan melintang (transversal) menurut kerr, sayatan huruf T (T-inscion)
2.      Seksio sesarea klasik (Korporal)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm.
Kelebihan : Mengeluarkan janin lebih cepat, tidak mengakibatkan komplikasi kandungan kemih tertarik, sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan : Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealisasi yang baik, untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri spontan
3.      Seksio sesarea ismika (provunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm
Kelebihan : Penjahitan luka lebih mudah, penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik, tumpang tindih dari perotoneal flat baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus kerongga peritonium, perdarahan kurang, dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptura uteri spontan kurang/lebih kecil.
Kekurangan : Luka dapat melebar kekiri, kanan dan bawah, sehingga dapat menyebabkan arteri uterina putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak, keluhan pada kandung kemih post operatif tinggi.
Salah satu indikasi dilakukan seksio sesarea adalah ketuban pecah dini.Spomtaneous/early/premature rupture of the membrane (PROM) adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu bila pembukaan pda primigravida kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm (Mochtar, 1998. hal. 255)
  1. Ketuban Pecah Dini
a.      Pengertian
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan. (Manuaba, 1998. hal 229)
Ketuban pecah dini adalah selaput ketuban sebelum ada tanda-tanda persalinan (Mansyoer, 1999, hal 310).
Indikasi seksio sesarea adalah, Plasenta previa sentralis dan latralis (posterior), Panggul sempit, Disproporsi sefalo pelvik yaitu ketidak seimbangan antara ukuran kepala dan panggul, rupture uteri mengancam, partus lama (prolongelabor), partus tak maju (obstrukte labor), distosia serviks, pre eklamsi dan hipertensi.
  1. Etilogi
Etiologi KPD (ketuban pecah dini) tetap tidak jelas, tetapi berbagai jenis faktor mengaku ikut serta dalam kejadiannya termasuk infeksi vagina dan servik, fisiologi selaput ketuban yang abnormal, inkompetensi serviks, defesiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (vitamin C). (Cristina Yunita, 2001 : 304)
  1. Manifestasi Klinis
Keluar air ketuban warna putih keruh, jernih, kuning, hijau atau kecoklatan sedikit-sedikit sekaligus banyak. Dapat disertai bila sudah ada infeksi. Janin mudah diraba. Pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering. Inspekulo : tampat air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah kering (Mansjoer, 1999:310)
  1. Penatalaksanaan
Ketuban pecah dini merupakan sumber persalinan prematuritas, infeksi dalam rahim terhadap ibu maupun janin memerlukan tindakan yang rinci sehingga dapat menurunkan kejadian persalinan prematuritas dan infeksi dalam rahim. Memberikan profilaksis antibiotika dan membatasi pemeriksaan dalam merupakan tindakan yang perlu diperhatikan. Disamping itu makin kecil umur hamil, makin besar peluang terjadi dalam rahim yang dapat memicu terjadinya persalinan prematuritas bahkan berat janin kurang dari 1 kg sebagai gambaran umum untuk tatalaksana ketuban pecah dini dapat dijabarkan sebagai berikut :
a.       Mempertahankan kehamilan sampai cukup matur khususnya maturitas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru sehat.
b.      Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu korioamniorotis yang menjadi pemicu sepsis, meningitis janin, dan persalinan prematuritas.
c.       Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dalam diberikan kortikosterioit, sehingga kamatangan paru janin dapat terjamin.
d.      Pada umur kehamilan 24 sampai 32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup, perlu dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan, dengan kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan.
e.       Menghadapi ketuban pecah dini, diperlukan KIM terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu dan mungkin harus mengorbankan janinnya pemeriksaan yang penting dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia biparital dan perlu melakukan aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru melalui perbandingan L/5.
Waktu terminasi pada hamil aturan dapat dianjurkan selang waktu 6 jam sampai 24 jam, bila tidak terjadi his spontan. (Manuaba, 1998:230)
A.    ASUHAN KEPERAWATAN
  1. Pengkajian (Doengoes E, 2001. Hal. 414-415)
Pengkajian dasar data klien
Sirkulasi : Hipertensi, perdarahan vagina mungkin ada.
Integritas ego : Dapat menunjukkan prosedur yang diantisipasi sebagai tanda kegagalan dan/atau refleksi negative pada kemampuan sebagai wanita.
Makanan/Cairan : Nyeri epigastik, gangguan penglihatan, edema (tanda-tanda hipertensi karena kehamilan) [HKK]
Nyeri/Ketidaknyamanan : distosia, persalinan lama/disfungsional, kegagalan induksi, nyeri tekan uterus mungkin ada.
Keamanan : Penyakit hubungan seksual aktif mis. Herpes. Inkompabilitas Rh yang berat.adanya komplikasi ibu seperti HKK, diabetes, penyakit ginjal atau jantung, atau infeksi asenden, trauma abdomen prenatal. Prolaps tali pusat, distress janin. Ancaman kelahiran janin premature, presentasi kelahiran janin premature, presentasi bokong  dengan versi sefalik eksternal yang tidak berhasil ketuban pecah selama 24 jam atau lebih lama.
Seksualitas : Disproporsi sefalopelvis (CPD). Kehamilan multiple atau gestasi (utaerus sangat distensi). Melahirkan sesarea sebelumnya, bedah uterus atau servik sebelumnya. Tumor/neoplasma yang menghembat pelvis/jalan lahir.
Penyuluhan/pembelajaran
Kelahiran sesarea dapat atau mungkin direncanakan, mempengaruhi kesiapan dan pemahaman klien terhadap prosedur.
Pemeriksaan diagnostic : Hitung darah llengkap, golingan darah, dan pencocokan silang, tes coombs, urinalisis : menentukan kadar albumin/glukosa, kultur : mengidentifikasi adanya virus herpes simpleks tipe II, pelvimetri : menentukan CPD, amniosentris : mengkaji maturitas paru janin, ultrasonografi : Melokalisasi plasenta :: menentukan pertumbuhan, kedudukan dan presentasi janin. Tes stes kontraksi atau tes nonstres : mengkaji respon janin terhadap gerakan/stre dari pola kontraksi uterus/pola abnormal. Pemantauan elektrolik kontinu : memstikan status janian/aktivitas uterus.

  1. Diagnosa keperawatan menurut Doengoes E Marylin
a.       Kurang pengetahuan mengenai prosedur pembedahan regimen pasca operasi berhubungan kurang pemajanan/tidak mengenal informasi, kesalahan intepretasi.
b.      Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman konsep diri.
c.       Resiko tinggi terhadap harga diri rendah berhubungan dengan kegagalan yang dirasakan pada kejadian hidup
d.      Ketidakberdayaan berhubungan dengan interaksi interpersonal terhadap aturan yang berhubungan dengan penyakit.
e.       Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi otot yang lebih lama
f.       Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive, kerusakan kulit
g.      Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah ke plasenta.
h.      Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan trauma jaringan
i.        Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan aliran balik vena.
  1. Perencanaan
a.       Kurang pengetahuan mengenai prosedur pembedahan regimen pasca operasi berhubungan kurang pemajanan/tidak mengenal informasi, kesalahan intepretasi. Tujuan : Meminta informasi. Criteria Hasil : Mengungkapkan pemahaman tentang indikasi kelahiran sesarea, Mengenali ini sebagai metode alternative kelahiran bayi.
Intervensi/Rasional
Kaji kebutuhan klien. Rasional : Metoda kelahiran alternative ini didiskusikan pada kelas persiapan melahirkan anak. Cata tingkat stress dan apakah prosedur direncanakan atau tidak. Rasional : Mengidentifikasi kesiapan klie/pasangan untuk menerima informasi. Berikan informasi akurat dengan istilah-istilah sederhana. Rasional : Memberikan informasi dan mengklarifikasi kesalahan konsep. Tinjau ulang indikasi-indikasi terhadap pilihan alternative kelahiran. Rasional : Perkiraan satu dari 5 atau 6 kelahiran melalui operasi sesarea. Gambarkan prosedur praoperatif dengan jelas, dan berikan rasinal dengan tepat. Rasional : Informasi memungkinkan klien mengantisipasi kejadian dan memahami alas an intervensi/tindakan. Berikan oenyuluhan pascaoperasi. Rasional : Membeirkan teknik untuk mencegah komplikasi yang berhubungan dengan statis vena dan pneumonia hipostatik. Diskusikan sensasi yang diantisipasi selama melahirkan dan periode pemulihan. Rasional : Mengetahui apa yang dirasakan dan apa yang “normal”membantu masalah yang tidak perlu.  
b.      Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman konsep diri.tujuan : Ketegangan distress menurun, ketakutan menghilang. Keriteria Hasil : Mengungkapkan rasa takut pada keselamatan klien dan janin. Mendiskusikan persaan tentang kelahiran sesarea. Tampak benar-benar rileks. Menggunakan sumber/system pendukung dengan efektif.
Intervensi/Rasional
Kaji respon psikologis pada kejadian dan keterbatasan system pendukung. Rasional : Makin klien merasakan ancaman, makin besar tingkat ansietas. Pastikan apakah prosedur direncanakan atau tidak direncanakan. Rasional : Pada kelahiran sesarea yang tidak direncanakan, klien/pasangan biasanya tidak mempunyai waktu untuk persiapan secara psikologis atau fisiologis. Tetap bersama klien dan tetap tenang. Rasional : Membantu membatasi transmisi ansietas interpersonal. Beri penguatan aspek positif dari ibu dan kondisi janin. Rasional : Memfokuskan pada kemungkinan keberhasilan hasil akhir dan membantu membawa ancaman yang dirasakan/actual kedalam praspektif. Anjurkan klien/pasangan mengungkapkan perasaan. Rasional : Membantu mengidentifikasi perasaan negative dan memberikan kesempatan untuk teratasi. Dukung/arahkan kembali mekanisme koping yang diekspresikan. Rasional : Mendukung mekanisme koping dasar dan otomotif, meningkatkan kepercayaan diri dan penerimaan. Diskusikan pengalaman/harapan kelahiran anak pada masa lalu. Rasional : Klien dapat mengalami penyimpanan memori dari melahirkan masa lalu atau persepsi tidak realistic. Berikan masa privasi. Rasional : Memungkinkan kesempatan bagi klien untuk menginternalisasi informasi.
c.       Resiko tinggi terhadap harga diri rendah berhubungan dengan kegagalan yang dirasakan pada kejadian hidup. Tujuan : Mengungapkan perasaan . keriteria Hasil : Mengidentifikasi dan mendiskusikan persaan negative. Mengungkapkan percaya diri pada dan pada kemampuannya.
Intervensi/Rasional
Tentukan perasaan yang biasanya dari klien tentang diri sendiri dan kehamilan. Rasional : Mendiagnosa perubahan kondep diri didasarkan pada pengetahuan persepsi diri dan pengalaman. Anjurkan pengungkapan perasaan. Rasional : Mengidentifikasi area untuk diatasi. Anjurkan untuk bertanya dan memberkan informasi/penguatan pembelajaran. Rasional : Meningkatkan pemahaman dan memperjelas kesalahan. Rujuk pada kelahiran sesarea sebagai metode alternative kelahiran anak. Rasional : Istilah-istilah seperti seksio C dan melahirkan normal, menunjukkan bahwa kelahiran sesarea berbeda dan tidak almiah. Berikan komunikasi verbal dari pengkajian dan ntervensi. Rasional : Bila masalah harga diri timbul pada klien, ini dapat menjadi berat pada periode pasca partum. Identifikasi pasangan/sumber lain sebagai rujukan setelah melahirkan. Rasional : Pada waktu penting ini, sifat situasi biasanya tidak memungkinkan untuk bicara dengan orang lain yang telah mengalami pengalaman yang sama. Anurkan keberadaan pasangan pada saat melahirkan sesuai kebutuhan. Rasional : Membeirkan dukungan bagi ibu, meningkatkan ikatan orang tua. Anjurkan klien/pasangan berpartisipasi dalam aktivitas ikatan diruang melahirkan. Rasional : Memberikan penguatan pengalaman kelahiran dan menghilangkan suasanan pembedahan terhadap kelahiran.   
d.      Ketidakberdayaan berhubungan dengan interaksi interpersonal terhadap aturan yang berhubungan dengan penyakit. Tujuan : Mengungkapkan rasa takut dan perasaan kerentanan. Krtiteria hasil : Mengeskpresikan kebutuhan/keinginan individu. Berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan kapan pun mungkin.
Intervensi/Rasional
Kaji factor-faktor yang menimbulkan rasa keputusasaan. Rasional : Kelahiran sesarea tidak direncanakan dapat dikarakteristikan oleh rasa kehilangan control klien terhadap pengalaman kelahiran. Berikan pilihan-pilihan dalam perawatan bila mungkin. Rasional : Memungkinkan klie/pasangan untuk memiliki bebrapa rasa asupan/control terhadap situasi. Identifikasi harapan dan keinginan klien/pasangan berkenaan dengan pengalaman melahirkan. Rasional : Memberikan kesempatan untuk memnuhi kebutuhan dan meningkatkan pengalaman positif. Beirkan ruang pribadi dan waktu menyendiri untuk pasangan sebelum pembedahan. Rasional : Menciptakan rasa control dan memungkinkan pasangan mempunyai waktu untuk membicarakan situasi mereka. Berikan informasi dan diskusikan persepsi klien/pasangan. Menurunkan stress yang disebabkan oleh kesalahan konsep/rasa takut yang tidak ditemukan.
e.       Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi otot yang lebih lama. Tujuan : Nyeri hilang. Criteria Hasil : Mengungkapkan penurunan nyeri.
Intervensi/Rasional
Kaji lokasi sifat dan durasi nyeri, khususnya saat behubungan dengan indikasi kelahiran sesarea. Rasional : Menandakan ketepatan pilihan tindakan. Hilangkan factor-faktor yang menghasilkan ansietas. Rasional : Tingkat toleransi ansietas adalah individual dan dipengaruhi oleh berbagai factor. Instruksikan tehnik relaksasi. Rasional : Dapat membantu dalam reduksi ansietas dan ketegangan dan meningkatkan kenyamanan. Kolaborasi. Beirkan sedative, narkotik atau obat praoperatif. Rasional : Meningkatkan kenyamanan dengan memblok imuls nyeri.
f.       Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive, kerusakan kulit. Tujuan : Bebas dari infeksi. Criteria Hasil : Pencapaian tepat waktu dalam pemulihan luka tanpa komplikasi.
Intervensi/Rasional
Tinjau ulang kondisi yang ada sebelumnya. Rasional : Kondisi dasar ibu, seperti diabetes atau hemoragi. Kaji terhadap tanda/gejala infeksi. Rasional : Pecah ketuban terjadi 24 jam sebelum pembedahan dapat mengakibatkan koriamnionitis. Berikan perawatan perineal sedikitnya setiap 4 jam bila ketuban telah pecah. Rasional : Menurnkan risiko infeksi asenden. Kolaborasi. Lakukan persiapan kulit praoperatif. Rasional : Menurnkan risiko kontaminan kuli memasuki insisi, menurnkan risiko infeksi pascaoperasi. Dapatkan kultur darah. Rasional : Mengidentifikasi organism. Berikan antibiotic spectrum. Rasional : Antibiotik profilaktik dapat dipesankan untuk mencegah terjadinya proses infeksi.
g.      Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah ke plasenta. Tujuan : Menunjukkan denyut jantung jani. Kriteria Hasil : Memanifestasikan variabilitas janin dalam batas normal, bebas dari deselerasi.
Intervensi/Rasional
Perhatikan adanya pada ibu factor-faktor yang secara negative mempengaruhi sirkulasi. Rasional : Penurunan volume sirkulasi atau vasospasme dalam plasenta menurnkan keterbatasan oksigen. Lanjutkan pemantauan DJJ.rasional : Distres janin dapat terjadi karena hipoksia. Perhatikan adanya variable deselerasi, peribahan posisi klien. Rasional : Kompres tali pusat diatra jalan lahir. Perhatikan warna dan jumlah cairan amnion bila pecah ketuban. Rasional : Distres janin pada presentasi vertex dimanifestasikan dengan kandungan mekonium. Auskulatsi jantung janin bila pecah ketuban. Rasional : Prolaps terlihat atau samar tali pusat pada tidak adanya dilatasi serviks. Pantau respon jantung janin untuk obat praoperasi. Rasional : Narkotik biasanya menurnkan variabilitas DJJ dan memerlukan pemberian nalokson setelah melahirkan untuk memperbaiki depresi.
h.      Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan trauma jaringan. Tujuan : bebas cedera. Criteria Hasil : Menunjukkan bebas cedera.
Intervensi/Rasional
Lepaskan alat prostetik dan perhiasan. Rasional : Menurunkan risiko cedera kecelakaan. Tentukan waktu dan isi makanan terakhir. Rasional : Bila klien telah makan tepat sebelum prosedur pembedahan. Batasi masukan oral bila keputusan kelahiran sesarea dibuat. Rasional : Menurunkan kemungkinan aspirasi karena muntah. Tinjau ulang catatan persalinan, perhatikan frekuensi berkemih. Rasional : Dapat menandakan retensi urin. Pantau haluaran dan warna urin. Rasional : Menunjukkan tingkat  hidrasi. Bantu pengubahan posisi untuk ansietas. Rasional Penting untuk penempatan anestesi. Pertahankan penghitungan peralatan dan spon secara akurat. Rasional : menjamin bahwa semua peralatan dan spon dihitung
  1. Pelaksanaan
            Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing oders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien. (Nursalam, 2001, Hal 63)
  1. Evaluasi
            Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor “kealpaan” yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan. (Nursalam, 2001, Hal 71)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar