Askep
Batu Saluran Kemih
A. Konsep Dasar
1. Pengertian
a. Batu saluran kemih
Batu saluran kemih adalah benda padat yang dibentuk oleh
presipitasi berbagai zat terlarut dalam urin pada saluran kemih (Pierce A
Grace, 2006) dan dapat ditemukan disetiap bagian ginjal sampai dengan kandung
kemih dan ukurannnya bervariasi dari deposit granuler yang kecil disebut pasir
atau kerikil sampai dengan batu sebesar kandung kemih yang berwarna orange
(Suzzane C Smeltzer, 2002).
Pendapat lain menyebutkan batu saluran kemih adalah massa keras
seperti batu yang terbentuk disepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan
nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi (www.medicastore.com)
Batu saluran kemih adalah Kristal padat dari larutan mineral
urine, biasa ditemukan di dalam ginjal atau ureter. Penyakit ini dikenal juga
dengan sebutan nephrolithiasis, urolithiasis, atau renal
calculi(www.tempo.com)
Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka penulis dapat menarik
kesimpulan bahwa batu saluran kemih adalah massa keras seperti batu yang
dipresipitasi dari berbagai zat terlarut yang terbentuk disetiap bagian ginjal
sampai kandung kemih dan ukurannya dapat beravariasi dari yang kecil seperti
pasir sampai dengan sebesar kandung kemih.
b. Klasifikasi
Klasifikasi batu saluran kemih menurut Joyce M Black dalam buku
Medical Surgical Nursing, 2001 hal 822-824 dan Basuki B Purnomo, 2000 hal 64-66
adalah:
1) Batu Kalsium
Batu kalsium merupakan jenis batu terbanyak, batu kalsium
biasanya terdiri dari fosfat atau kalsium oksalat. Dari bentuk partikel yang
terkecil disebut pasir atau kerikil sampai ke ukuran yang sangat besar
“staghorn” yang berada di pelvis dan dapat masuk ke kaliks.
Faktor penyebab terjadinya batu kalsium adalah:
a) Hypercalsuria (peningkatan jumlah
kalsium dalam urin) biasanya disebabkan oleh komponen:
(1) Peningkatan resopsi kalsium
tulang, yang banyak terjadi pada hiperparatiroid primer atau
pada tumor paratiroid
(2) Peningkatan absorbs kalsium
pada usus yang biasanya dinamakan susu-alkali syndrome, sarcoidosis
(3) Gangguan kemampuan renal mereabsorbsi
kalsium melaluitubulus ginjal
(4) Abnormalitas struktur biasanya pada
daerah pelvikalisesginjal
b) Hiperoksaluri: eksresi
oksalat urine
melebihi 45 gram perhari. Keadaan ini banyak dijumpai pada pasien yang
mengalami gangguan pada usus sehabis menjalani pembedahan usus dan pasien yang
banyak mengkonsumsi makanan yang kaya oksalatseperti teh, kopi
instan, soft drink, jeruk sitrun, sayuran berdaun hijan banyak terutama bayam
c) Hipositraturi: di dalam urin sitrat
akan bereaksi menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat. Karena
sitrat dapat bertindak sebagai penghambat pembentukan batu kalsium. Hal ini
dapat terjadi karena penyakit asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi atau
pemakaian diuretic golongan thiazid dalam jangka waktu yang lama.
d) Hipomagnesuri: magnesium bertindak
sebagai penghambat timbulnya batu kalsium, karena didalam urin magnesium akan
bereaksi dengan oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan
kalsium oksalat
2) Batu struvit
Batu struvit dikenal juga dengan batu infeksi karena
terbentuknya batu ini disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman
penyebab infeksi ini adalah kuman golongan pemecah ureaatau urea
spilitter yang dapat menghasilkan enzim urease dan
merubah urine menjadi basa melalui hidrolisis
urea menjadiamoniak. Suasana ini memudahkan garam-garam magnesium,
ammonium fosfat, dan karbonat membentuk batu magnesium
ammonium fosfat (MAP). Kuman-kuman pemecah urea adalahproteus
spp, klabsiella, serratia, enterobakter, pseudomonas,dan stapillokokus
3) Batu asam urat
Factor
yang menyebabkan terbentuknya batu asam urat adalah:
a) Urin yang terlalu asam
yang dapat disebabkan oleh makanan yang banyak mengandung purine, peminum
alcohol.
b) Volume urin yang
jumlahnya sedikit (<2 liter perhari) atau dehidrasi.
c) Hiperurikosuri: kadar asam urat
melebihi 850 mg/ 24jam. Asam urat yang berlebih dalam urin bertindak sebagai
inti batu untuk terbentuknya batu kalsium oksalat.
4) Batu sistin
Cystunuria mengakibatkan kerusakan metabolic secara congetinal
yang mewarisi pengahambat atosomonal. Batu sistin merupakan jenis
yang timbul biasanya pada anak kecil dan orang tua, jarang ditemukan pada usia
dewasa.
5) Batu xanthine
Batu xanthine terjadi
karena kondisi hederiter hal ini terjadi karena defisiensi
oksidasi xathine.
2. Patofisiologi
a. Etiologi
1) Teori pembentukan batu
Menurut Mansjoer Arief
dkk, dalam buku Kapita Kedokteran edisi 3 jilid 2, 2000 hal 334, dan Basuki B
Purnomo dalam buku Dasar-dasar Urologi tahun 2000 hal 63 teori pembentukan batu
saluran kemih adalah :
a) Teori inti
(nucleus) : batu terbentuk dalam urine karena adanya inti batu (nucleus).
Partikel-partikel yang berada dalam larutan yang kelewat jauh (supersatured) akan
berada di dalamnucleus sehingga membentuk batu. Inti batu dapat
berupa Kristal atau benda asing disaluran kemih.
b) Teori matriks : matriks organic yang
berasal dari serum atau protein-protein urine (albumin, globulin dan
makroprotein) memberikan kemungkinan pengendapan Kristal.
c) Teori inhibitor : urine mengandung zat
penghambat kristalisasi antara lain: magnesium sitrat, pirokostrat,
mukoprotein dan beberapa peptide. Jika kadar salah satu
atau beberapa zat berkurang memudahkan terbentuknya batu saluran kemih.
2) Faktor instrinsik
a) Herediter (keturunan)
b) Umur : penyakit ini
paling sering dijumpai pada usia 30-50 tahun
c) Jenis kelamin : jumlah
pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dari perempuan
3) Faktor ekstrisik
a) Pada beberapa daerah
menunjukan angka kejadian batu saluran kemih lebih tinggi dari pada daerah lain
sehingga dikenal dengan daerah stone belt
b) Iklim dan temperature
c) Asupan air : kurangnya
asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi, dapat
menigkatkan insiden batu saluran kemih
d) Diet : banyak purin,
okslat, dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran kemih
e) Pekerjaan : penyakit
ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang
aktifitas
f) Penyakit tertentu
seperti asidosis tubuli ginjal, infeksi saluran kemih (ISK), hiperpharatyroid.
b. Proses Penyakit
Batu saluran kemih
dapat terjadi dari beberapa faktor yaitu imobilisasi yang dapat menyebabkan
statis urin, peningkatan atau penurunan pH, diit makanan tertentu seperti;
tinggi oksalat, purin, dan kalsium. Ketiga factor tersebut dapat meningkatkan
substansi dari kalsium, oksalat, asam urat atau fosfat sehingga urin menjadi
keruh dan menghambat aliran urine yang merangsang pembentukan batu. Batu
saluran kemih juga dapat diakibatkan oleh ISK yang terdapat kuman pemecah urea
yang dapat menghasilkan enzim urease yang menghidrolisis urea menjadi amoniak yang
memudahkan garam-garam magnesium, ammonium, fosfat dan karbonat membentuk batu
magnesium fosfat. Selain itu batu dapat terbentuk dari penurunan sitrat dan
magnesium yang merupakan faktor penghambat pembentukan batu sehingga
mempermudah terjadinya batu khususnya batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat.
Ada batu di dalam saluran kemih, membuat terjadinya obstruksi, obstruksi diatas
kandung kemih dapat menyebabkan hidroureter karena ureter
membengakak oleh urine,hidroureter yang tidak diatasi dapat
menyebabkan hidronefrosis. Obstruksi juga menyebabkan peningkatan
tekanan hidrostatik interstitium dan dapat menyebabkan penurunan Glomerulus
Filtration Rate(GFR). Obstruksi yang tidak diatasi dapat menyebabkan kolapsnya
nefron dan kapiler sehingga terjadi iskemia nefron karena
suplai darah terganggu, akhirnya dapat terjadi gagal ginjal. Setiap kali
terjadi obstruksi aliran urine (statis urine) maka infeksi bakteri meningkat
dan menyebabkan pielonefrilitis, ureteritis, dan sistitis.
c. Manifestasi klinis
Menurut Mansjoer Arief
dkk, dalam buku Kapita Kedokteran edisi 3 jilid 2, 2000 hal 335, dan Basuki B
Purnomo dalam buku Dasar-dasar Urologi tahun 2000 hal 68-69 manifestasi klinik
dari batu saluran kemih tergantuung dari lokasi batu tersebut berada
diantaranya :
1) Batu di ginjal
Menyebabkan pegal dan
kolik di daerah CVA, nyeri tekan dan nyeri ketok CVA. Bila terjadi
hidronefrosis akan teraba massa dan jika terinfeksi dapat terjadi sepsis akan
demam, menggigil, serta apatis, gejala traktus disgestivus dapat menimbulkan
nausea, vomitus, dan distensi abdomen, hamaturia makro (10%) maupun mikro
(90%).
2) Batu di ureter
Menyebabkan nyeri
hebat (kolik), menjalar hingga ke perut bagian depan, perut sebelah bawah, pada
pria rasa sakit akan menjalar ke testis bila batu di ureter proksimal atau ke
vulva pada wanita, dan ke skrotum. Pada batu di daerah distal ureter, juga
dapat nyeri pada saat kencing atau sering kencing. Bila batu menetap di ureter
hanya ditemukan rasa pegal di CVA karena bendungan, jika ukurannya kecil
(<5mm) pada umumnya menyebabkan reaksi peradangan (periureteritis)
menimbulkan obstruksi kronik berupahidroureter hidronefrosis.
3) Batu di vesica
urinaria
Mempunyai gejala miksi
yang lancer tiba-tiba berhenti dan terasa sakit menjalar ke penis. Miksi yang
berhenti itu dapat lancer kembali bila posisi di ubah. Bila terjadi infeksi
ditemukan tanda-tanda sistisis hingga hematuria. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan nyeri tekan supra simpisis karena infeksi atau teraba massa karenaretensio
urine.
4) Batu di uretra
Dapat mengalami miksi
yang tiba-tiba berhenti disertai rasa sakit yang hebat pada gland penis,
batang penis, perineum danrectum.
d. Komplikasi
1) Hidronefrosis
2) Hidroureter
3) Pielonefritis
4) Ureteritis
5) Sistisis
6) Gagal ginjal
3. Penatalaksanaan
a. Terapi
1) Penghilang nyeri kolik
ureter : penitidin, diklofenak, morfin, meperiden
2) Peningkatan asupan
cairan untuk meningkatkan aliran urin sebagai usaha untuk mendorong. Asupan
cairan dalam jumlah besar pada orang-orang yang rentan terhadap batu saluran
kemih dapat mencegah pembentukan batu.
3) Mengubah pH urine
untuk meningkatkan pemecahan batu
4) Pengurangan asupan
bahan-bahan makanan pembentukan batu
a) Batu kalsium : diit
rendah kalsium, thiazide : mengurangi kalsium dalam urine dan menurunkan
kadar parathormon
b) Batu asam urat : diit
rendah purine, allopurinol (zyloprim) untuk mengurangi asam urat
serum dan eksresi asam urat kedalam urine
c) Batu sistin : diit
rendah protein, penisilin untuk mengurangi sistin dalam urine
d) Batu oksalat :
pembatasan makanan oksalat seperti kacang, seledri, the, kopi, kacang tanah.
b. Pemeriksaan penunjang
1) Pada pemeriksaan
urinalisa bila pH >7,6 ditemukan kuman area splitting yang menyebabkan batu
anorganik sedangkan pH asam menyebabkan batu organic (batu asam urat). Dapat
pula ditemukan sediment hematuria mikroskopik (90%) dan bila terjadi infeksi
maka leukosit akan meningkat. Pemeriksaan untuk mancari penyebab antara lain
dengan pengukuran Ca, fosfor, asam urat dalam urine 24 jam.
2) Pada pemeriksaaan
(Kidney Ureter Bladder) KUB atau (Intravena Pyelograpphy) IVP terlihat lokasi,
ukuran dan jumlah batu serta melihat adanya bendungan.
3) Kultur urine : untuk
mengetahui infeksi sekunder
4) Renogram : menilai
fungsi ginjal
5) Pemeriksaan radiology
lain yang dapat menunjang antara lain Siteroureskopi USG, CT scan, MRI atau
nuclear scintigraphy yang dapat mengidentifikasi batu kecil yang sulit
diidentifikasi secara konvonsional.
c. Penatalaksanaan
1) Medikamantosa
Terapi medikamantosa
ditunjukan untuk batu dengan ukuran kurang dari 5mm, karena diharapkan dapat
keluar dengan spontan. Terapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi nyeri,
memperlancar urine dengan member diuretic dan minum banyak agar dapat mendorong
batu keluar.
2) Extracorporeal Shock
Wave Lithotripsy (ESWL)
Prosedur non invasive
yang digunakan untuk menghancurkan batu di kaliks ginjal,
dilakukan dengan gelombang kejut dibangkitkan melalui pelepasan energy yang
kemudian di salurkan ke air dan jaringan lunak. Ketika gelombang kejut
menyentuh substansi yang intensitasnya berbada (batu renal), tekanan gelombang
mengakibatkan permukaan batu pecah dan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil
dan di eksresikan ke dalam urine.
3) Endourologi
Tindakan ini merupakan
tindakan invasive minimal untuk mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas
pemecah batu dan kemudian dikeluarkan dari saluran kemih.
a) Percutaneous Nephro
Litholapaxy (PNL) : yaitu mengeluarkan batu yang ada di saluran ginjal
dengan cara memasukan alat endoskopi ke system kaliks melalui insisi pada
kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu.
b) Litotripsi : yaitu memecah batu
bulu-buli atau batu uretra dengan memasukan alat pemecah batu (litotripto) ke
dalam buli-buli, pemecah batu dikeluarkan dengan evakuator Ellik
c) Ureteroskopi atau uretero-renoskopi :
yaitu memasukan alat ureteroskopi per-uretram guna melihat keadaan
ureter atau system pielokaliks ginjal. Dengan memakai energy tertentu, batu
yang berada didalam ureter maupun system pelvikalises dapat
dipecah melalui tuntutan ureteroskopi/ureteronoskopi ini.
d) Ekstrasi Dormia : yaitu mengeluarkan
batu ureter dengan menjaring melalui alat keranjang Dormia.
4) Pelarutan Batu
Infus cairan kemolitik missal agens pembuat basa (alkylating)
dan pembuatan asam (acidifying) untuk melarutkan batu dapat dilakukan sebagai
alternative penanganan untuk pasien kurang beresiko terhadap terapi lain dan
menolak metode lain atau mereka yang memiliki batu yang mudah larut (struvit)
nefrostomi perkutan dilakukan dan cairan pengirigasi yang hangat dialirkan
secara terus menerus ke batu. Cairan pengirigasian memasuki duktus
kolektikusginjal melalui ureter atau selang nefrostomi. Tekanan di dalam
piala ginjal dipantau selama prosedur.
5) Bedah Terbuka
Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai
untuk tindakan-tindakan endourologi, laparaskopi, maupun ESWL, pengambilan batu
masih dilakukan melalui pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka itu antara lain
adalah : pielolitotomiatau nefrolitotomi untuk
mengambil batu di saluran ginjal,ureterolitotomi untuk batu di
ureter, vesikolitotomi untuk batu buli-buli dan ureterolitotomi untuk
batu uretra. Tidak jarang pasien harus menjalani tindakan nefrektomi atau
pengambilan ginjal karena ginjalnya sudah tidak berfungsi dan berisi nanah (pionefrosis)
akibat dari batu saluran kemih yang menimbulkan obstruksi dan infeksi yang
menahun.
4. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian
adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang
sistematik dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi
dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2000) yang terdiri dari
:
a. Identitas Klien
Identitas
klien terdiri atas nama, jenis kelamin, usia, status perkawinan, agama, suku
bangsa, pendidikan, bahasa yang digunakan, pekerjaan dan alamat.
b. Riwayat Keperawatan
1) Riwayat kesehatan masa
lalu
2) Apakah klien pernah
menderita batu saluran kemih sebelumnya atau infeksi saluran kemih, apakah
klien pernah dirawat atau dioperasi sebelumnya
3) Riwayat kesehatan
sekarang
Biasanya
klien mengalami nyeri pada sudut kostovertebralis, dan didapatkan nyeri tekan
dan nyeri ketok, biasanya klien mengalami mual, muntah, hematuri, Buang Air
Kecil (BAK) menetes, BAK tidak tampias, rasa terbakar, penurunan haluaran urin,
dorongan berkemih.
c. Riwayat kesehatan
keluarga
Adakah
riwayat batu saluran kemih dalam keluarga
d. Riwayat psikososial
Adakah
ditemukan depresi, marah atau stress
e. Kebiasaan sehari-hari
Pola
nutrisi : anoreksia, mual, diet tinggi purin, kalsium oksalat, dan atau fosfat.
Ketidakcukupan masukan cairan: tidak minum air dengan cukup
1) Pola eliminasi :
penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh, rasa terbakar pada saat
berkemih, dorongan berkemih, diare, hematuri, perubahan pola berkemih,
2) Pola aktivitas:
biasanya pada klien dengan batu saluran kemih jarang melakukan aktivitas yang
banyak duduk
f. Pemeriksaan fisik
meliputi :
1) Inspeksi : perhatikan
body language klien terhadap perilaku melindungi, dan adanya ekspresi tegang
2) Palpasi : palpasi area
CVA terhadap adanya nyeri tekan dan pembesaran ginjal
3) Perkusi : perkusi area
CVA terhadap adanya nyeri ketok yang menjalar ke abdomen bagian depan dan dapat
ke area genitalia.
4) Auskultasi
g. Pemeriksaan diagnostik
1) Urinalisa : warna
mungkin kuning keruh, kuning, gelap, berdarah, secara umum menunjukan Sel Darah
Merah (SDM), Sel Darah Putih (SDP) Kristal, serpihan, mineral,
bakteri, pus, pH asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat) atau alkalin
(meningkatkan magnesium fosfat atau batu kalium fosfat).
2) Urine 24jam :
kreatinin, asam urat, kalsium fosfat, oksalat mungkin akan meningkat
3) Kultur urine : mungkin
menunjukan ISK
4) Hitung darah lengkap :
sel darah putih (SDP) mungkin meningkat yang menunjukan infeksi
5) Hb/Ht : abnormal bila
pasien dehidrasi berat atau anemia
6) KUB : menunjukan
adanya kalkuli dan atau adanya perubahan anatomi pada area ginjal disepangjang
ureter
7) IVP : memberikan
konfirmasi cepat tentang urolithiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau
panggul, menunjukan abnormalitas pada struktur anatomic (distensi ureter) dan
garis bentuk kalkuli
8) Sistoureteroskopi :
visualisasi langsung kandung kemih dan ureter dapat menunjukan batu dan atau
efek obstruksi
9) Computed Thomography
scan (CT scan) : mengidentifikasi kalkuli dan massa lain : ginjal, ureter dan
distensi kandung kemih
10) Ultrasound ginjal : untuk mengetahui perubahan obstruksi,
lokasi batu
5. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan
klien adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan
atau resiko pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara
akountabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti
untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah
(Nursalam, 2000). Diagnosa keperawatan pada klien dengan batu saluran kemih
adalah :
a. Nyeri berhubungan
dengan trauma jaringan
b. Perubahan eliminasi
urin berhubungan dengan obstruksi mekanik
c. Resiko tinggi
kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual/muntah
d. Kurang pengetahuan
tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan tentang pengobatan berhubungan dengan
tidak mengenal sumber informasi
6. Perencanaan
Keperawatan
Perencanaan meliputi
perkembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi
masalah-masalah yang diidentifkasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai
setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi
(Nursalam, 2000).
Tujuan
klien dan tujuan perawat adalah standar atau ukuran yang digunakan untuk
mengevaluasi kemajuan klien dan keterampilan perawat.
Kriteria
hasil berfokus pada klien, singkat dan jelas, dapat diobservasi dan diukur, ada
batas waktunya, realistic, ditentukan oleh perawat dank lien.
Perencanaan
padda klien dengan batu saluran ginjal diantaranya adalah :
a. Nyeri berhubungan
dengan trauma jaringan
Tujuan
: nyeri dapat berkurang atau hilang
Kriteria
hasil : nyeri klien hilang atau berkurang
Intervensi
:
1) Catat lokasi, lamanya
intensitas (skala 0-10) dan penyebaran, perhatikan tanda-tanda non verbal
2) Jelaskan penyebab
nyeri dan pentingnya melaporkan ke perawat terhadap perubahan nyeri
3) Berikan tindakan
kenyamanan, contoh pijatan punggung
4) Bantu dan dorong
pengurangan nafas dalam, bimbingan imajinasi dan aktifitas terapetik
5) Dorong ambulasi sering
sesuai dengan indikasi dan tingkatan masukan cairan 3-4liter dalam toleransi
jantung
6) Perhatikan keluhan
atau peningkatan nyeri abdomen
7) Berikan kompres hangat
pada punggung
8) Kolaborasi dengan tim
medis dalam pemberian analgetik sesuai indikasi
b. Perubahan eliminasi
urin berhubungan dengan obstruksi mekanik
Tujuan
: pola berkemih kembali normal
Kriteria
hasil : klien dapat berkemih dengan normal dan terkontrol, klien tidak
mengalami tanda-tanda obstruksi
Intervensi
:
1) Awasi masukan dan
pengeluaran urine
2) Tentukan pola berkemih
klien dan perhatikan variasi
3) Dorong peningkatan
pemasukan cairan 3-4liter
4) Periksa semua urine,
catat adanya keluaran batu dan cek hasil laboraturium
5) Selidiki adanya
keluhan kandung kemih penuh, perhatikan keluaran urin
6) Awasi perubahan status
mental, perilaku dan tingkat kesadaran
7) Pantau hasil
laboraturium
8) Ambil urine untuk
kultur dan sensitivitas
9) Berikan obat sesuai
indikasi missal allopurinol, hidroklorotizid, natrium bikarbonat, asam askorbat
10) Irigasi dengan asam atau larutan alkalin sesuai indikasi
11) Siapkan pasien untuk tindakan prosedur pengobatan contohpielolitotomi terbuka, lithoripsi
ultrasonic perkutaneus
c. Resiko tinggi
kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual/muntah
Tujuan
: kebutuhan volume cairan dapat terpenuhi
Kriteria
hasil : tanda-tanda vital stabil dan berat badan dalam batas normal, nadi
perifer normal, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik
Intervensi
:
1) Awasi pemasukan dan
pengeluaran
2) Catat insiden muntah
dan diare, perhatikan karakteristik dan frekuensi muntah, diare.
3) Tingkatkan pemasukan
cairan 3-4 liter perhari dalam toleransi jantung
4) Awasi tanda-tanda
vital, evaluasi pengisian kapiler, turgor kulit, dan membrane mukosa
5) Timbang berat badan
tiap hari
6) Awasi Hb/Ht,
elektrolit
7) Kolaborasi dengan tim
medis pemberian cairan IV
8) Kolaborasi pemberian
diit yang tepat
9) Kolaborasi pemberian
obat antiemetic sesuai indikasi
d. Kurang pengetahuan
tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan tentang pengobatan berhubungan dengan
tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan
: klien menyatakan pemahaman tentang proses penyakit
Kriteria
hasil : klien dapat menghubungkan gejala dan faktor penyebab, melakukan
perubahan perilaku yang perlu dan beradaptasi dalam program pengobatan
Intervensi
:
1) Kaji ulang proses
penyakit dan harapan masa dating
2) Tekankan pentingnya
peningkatan pemasukan cairan 3-4liter perhari/ 6-8liter perhari
3) Diet rendah purin
4) Diet rendah kalsium
5) Diet rendah oksalat
6) Diet rendah
kalsium/fosfat dengan jeli karbonat alumunium 30-40m, 30 menit perjam
7) Diskusikan program
obat-obatan, hindari obat-obatan yang dijual bebas, membaca label atau
kandungan makanan
8) Dengar secara aktif
tentang program terapi/ perubahan pola hidup
9) Identifikasi tanda dan
gejala yang memerlukan evaluasi medic, contoh nyeri berulang, hematuria
10) Tunjukan perawatan yang tepat terhadap insisi atau kateter bila
ada
7. Pelaksanaan
Keperawatan
Pelaksanaan
keperawatan dilakukan setelah didapatkan rencana keperawatan yang disusun dalam
rangka memenuhi kebutuhan klien. Pelaksanaan keperawatan harus mengacu terhadap
rencana yang telah di buat, karena di dalamnya terdapat tindakan keperawatn
yang harus dilakukan saat itu.
Pelaksanaan
adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik
(Nursalam, 2000). Tahap pelaksaan dimulai setelah rencana tindakan yang disusun
dan ditujukan untuk membantu klien dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
Pelaksanaan
keperawatan pada klien dengan batu saluran kemih adalah :
a. Meningkatkan masukan
cairan 3-4 liter tiap hari
b. Meningkatkan
mobilisasi klien
c. Manajemen nyeri
misalkan mengajarkan teknik relaksasi/ nafas dalam, teknik manajemen imajinasi
d. Diet terhadap makanan
tertentu yang dapat menjadi faktor resiko terjadinya batu saluran kemih.
8. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi
adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan
seberapa jauh diagnose keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya
berhasil dicapai. Melalui evaluasi keperawatan memungkinkan perawat untuk
memonitor “kealpaan” yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa,
perencanaan, dan pelaksanaan tindakan (Nursalam, 2000).
Ada
2 komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan yaitu :
a. Proses (sumatif)
Fokus
tipe ini adalah aktiivitas dari proses keperawatan dan hasil kualitas pelayanan
tindakan keperawatan. Evaluasi proses harus dilaksanakan sesudah perencanaan
keperawatan, dilaksanakan untuk membantu keefektifan terhadap tindakan. Pada
evaluasi ini terus menerus dilaksanakan sampai tujuan yang telah ditentukan
tarcapai.
b. Hasil (formatif)
Fokus
evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atau status kesehatan klien pada akhir
tindakan keperawatan klien. Tipe evaluasi ini dilaksanakan pada akhir tindakan
perawatan klien.
Evaluasi
yang diharapkan pada klien dengan batu saluran kemih adalah :
1. Nyeri dapat teratasi
atau berkuarang
2. Pola berkemih dalam
batas normal
3. Dapat mempertahankan
keseimbangan cairan adekuat
4. Menyatakan pemahaman
tentang proses penyakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar